SURAT UNTUK CALON PRESIDEN
KEMANA SINAR MENTARI ?
Kepada
Yth.
Bapak Jokowi
Calon
presiden RI ( Sang Mentari Harapan Baru)
Di
-
Tempat
Salam
, wahai calon presiden baru …
Sebelum
hamba membuka surat ini izinkanlah hamba
menulis kata-kata. Hamba tidak tahu harus menyebutnya apa. Sebab, hamba
hanya seorang pemuda tak lulus SD yang
hanya tahu baca tulis.Hamba tinggal di
daerah terpencil yang sekolahnya hanya satu. itupun bekas kandang sapi milik pak lurah. Mungkin
ini puisi, mungkin juga prosa . Entahlah pak , yang saya tahu tulisan ini
hanyalah gambaran isi hati saya mewakili orang-orang dalam bilik bambu yang
sama
Gagah sang
mentari
sinarnya tak
pernah sampai pada bilik kami
Kami hanya
bisa mendengar cerita tentang sinarnya
Seperti kata orang sekolahan di kampung kami
Mentari itu lambang
pemimpin harapan
Ya .. pemimpin harapan …
Lama
kami menanti sinar sang mentari
Menerobos bilik bambu milik kami
Kami tidak
tahu . entah sampai kapan sinar mentari akan datang menerobos bilik kami ?
Kami Hanya bisa
menunggu dan berharap
Bapak
Jokowi yang terhormat , sang mentari
harapan baru
Kami hanya rakyat kecil biasa yang kelak akan
berada di bawah naungan cahaya sang mentari . kami hanya sekumpulan orang-orang miskin. Yang hanya punya impian dan harapan “Merasakan
kehangatan mentari “ itu saja tidak lebih pak Jokowi.Karena selama ini kami hanya bisa mendengar tentang kisah
kegagahan mentari dan kehangatan sinarnya di rumah batu milik orang-orang di luar sana. Harapan dan impian tertinggi
dari orang pinggiran yang tak tejamah sinar mentari. Kami
sudah lama melukis warna –warni
hidup dalam rumah bambu . kami juga sudah
sering melewati musim tinta biru. Ya.. musim tinta biru. Musim yang selalu
kami nanti-nantikan . Musim di mana kami
beramai-ramai melubangi bilik
bambu milik kami dengan paku sembari berharap matahari baru
akan rela menereboskan sinarnya dalam bilik kami jika musim tinta biru usai. Sudah sering kami melobangi bilik milik kami
tapi entah kenapa matahari –matahari itu hanya menyinari rumah-rumah batu milik
mereka bukan bilik kami. Terlalu sering pula
kami melihat bayangan semu matahari-matahari itu pak . Kami harap
bapak tidak begitu .
Negeri
ini begitu kaya dan makmur. Tapi kenapa sinar mentari tak pernah kami rasakan
kehangatannya? Bilik bambu milik kami sudah lama berjamur pak.mungkin sebentar lagi akan roboh di makan rayap.
bilik kami gelap kami butuh cahaya dari sinar mu . Bilik kami dingin dan kami butuh kehangatan dari sinarmu . sebentar
lagi musim tinta biru datang. Kami akan
kembali melubangi bilik bambu kami .
dengan harapan yang selalu sama . Yaitu , berharap semoga sinar mentari yang akan terbit, rela memberikan penerangan dan kehangatan melalui sinarnya
dalam bilik bambu kami bukan hanya rumah batu milik mereka .
HORMAT KAMI ,
Yang lemah
yang tiada daya
RAKYAT MU DI TANAH BILIK BAMBU
Komentar