ANALISIS NILAI-NILAI SOSIAL YANG TERKANDUNG DALAM “NOVEL LASKAR PELANGI”
assalamu'alaikum hay sobat kali ini sya mau bagi-bagi nih ,,, buat yang lagi mencari tugas mengenai referensi skripsi ,, terutama ilmu sosial ,,
kali ini tentang analissi nilai-nilai sosial ,,,, mudah-mudahan sedikit bisa membantu ,,,
SKRIPSI
ANALISIS
NILAI-NILAI SOSIAL YANG TERKANDUNG DALAM
“NOVEL LASKAR PELANGI”
Karya Andrea
Hirata
ABSTRAK
ndika Nugroho, Candra Novita Hariani, Reni Widiantika. ANALISIS NILAI-NILAI SOSIAL YANG TERKANDUNG DALAM NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA. Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadyah mataram Rabu, 06 Maret 2013
Tujuan penelitian ini adalah
untuk mendeskripsikan: (1) nilai-nilai pendidikan yang digunakan pengarang
dalam novel Laskar Pelangi.
Penelitian
ini berbentuk deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode content
analysis. Sumber data adalah novel Laskar
pelangi cetakan ke-1 dan dari internet. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik catat. Validitas yang
digunakan adalah triangulasi teori. Teknik analisis data yang digunakan adalah
analisis mengalir (flow model of analysis) yang meliputi tiga komponen
yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Prosedur
penelitian yang dilakukan terdiri atas beberapa tahap yaitu pengumpulan data,
penyeleksian data, menganalisis data yang telah diseleksi, dan membuat laporan
penelitian.
Berdasarkan
hasil penelitian dapat disimpulkan: dalam novel Laskar Pelangi
Andrea Hirata ingin menyampaikan
nilai-nilai pendidikan yang sangat bermanfaat bagi para pembaca dengan
menghidupkan isi cerita di dalamnya, sehingga dapat menjadi lebih hidup dan
menambah variasi serta menghindari hal-hal yang bersifat monoton yang dapat
membuat pembaca bosan. Nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Laskar
pelangi, berdasarkan
hasil analisis terdiri atas empat nilai. Nilai-nilai pendidikan tersebut yaitu:
(a) nilai pendidikan religius merupakan sudut pandang yang mengikat manusia
dengan Tuhan pencipta alam dan seisinya, dalam novel Laskar Pelangi, (b) nilai pendidikan moral yaitu suatu nilai yang menjadi ukuran patut
tidaknya manusia bergaul dalam kehidupan bermasyarakat, dalam novel laskar Pelangi, (c) nilai pendidikan sosial
yaitu suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek,
gagasan, atau orang, dalam novel Laskar pelangi.
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan kesehatan, karunia, rahmat, dan
hidayah-Nya kepada kita semua, terutama penulis dan keluarga. Hanya kepada-Nya
kembali segala sanjungan, kepada-Nya kami memohon pertolongan dan ampunan, dan
atas ridlonya sehingga penulis mampu menyusun skripsi ini dengan baik, yang
merupakan persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Dalam
Penyusunan skripsi ini, penulis menyadari tidak dapat bekerja seorang diri
melainkan bekerja sama dengan berbagai pihak. Maka atas terselesaikannya
skripsi ini, penulis meyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1 Fakultas Bahasa Indonesia, Universitas Muhammdiyah
Mataram yang telah membimbing tugas ini hingga selesai.
2. Teman-teman kuliah kelas untuk khususnya teman kelompok Bahasa
Indonesia yang senantiasa membantu dan bekerjasama.
3. Keluargaku yang tidak lelah dan bosan memberi motivasi dan dukungan,
baik dukungan material maupun dukungan spiritual.
4. Bapak dan Ibu Dosen Program Pendidikan Bahasa Indonesia yang telah memberikan bekal ilmu
kepada penulis;
7. Semua pihak yang telah
mendukung dan membantu sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas ini.
Penulis
telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tugas ini serta tidak
lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
proses penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga tugas ini dapat
memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan, khususnya dalam bidang Bahasa Indonesia.
Penulis
Mataram september 2013
DAFTAR ISI
JUDUL
.............................................................................................................
i
ABSTRAK .......................................................................................................
v
KATA PENGANTAR
.....................................................................................
viii
DAFTAR ISI
....................................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR
.......................................................................................
xii
DAFTAR TABEL
............................................................................................
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
....................................................................................
xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
...................................................................... 1
B. Rumusan Masalah
................................................................................
4
C. Tujuan Penelitian
................................................................................
4
D. Manfaat Penelitian
..............................................................................
5
BAB II KAJIAN TEORITIK
A. Hakikat Novel
.................................................................................................6
1. Pengertian Novel
............................................................................. 6
2. Ciri-ciri Novel
.................................................................................
9
3.
Macam-macam
Novel......................................................................
9
B. Hakikat Nilai Pendidikan
..................................................................... 28
1. Pengertian Nilai
...............................................................................
28
2. Pengertian
Pendidikan......................................................................29
3. Macam-macam Nilai
Pendidikan.....................................................31
D. Penelitian Relevan
................................................................................
35
E. Kerangka Berpikir ................................................................................
37
BAB III TUJUAN
A. Tujuan dari penelitian ……………………………………………….
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
.............................................................. 39
B. Bentuk dan Strategi
Penelitian ............................................................. 39
C. Sumber Data
.........................................................................................
40
D. Teknik Pengumpulan Data
................................................................... 40
E. Validitas Data
.......................................................................................
40
F. Analisis Data
........................................................................................
40
G. Prosedur
Penelitian...............................................................................
42
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Analisis
Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Laskar pelangi .............. 94
1. Nilai
PendidikanReligius.................................................................94
2. Nilai Pendidikan
Moral....................................................................96
3. Nilai Pendidikan
Sosial....................................................................98
4. Nilai Pendidikan
Budaya................................................................101
BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI,
DAN SARAN
A. Simpulan
..............................................................................................
104
B. Implikasi
...............................................................................................
105
C. Saran
.....................................................................................................
106
DAFTAR PUSTAKA
......................................................................................
107
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar
1. Kerangka
Berpikir
................................................................................
40
2. Model
Analisis
Mengalir......................................................................
43
3. Prosedur
Penelitian……………………………………………………44
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Cover Novel Laskar
pelangi Karya Andrea Hirata…………………...107
2.
Tokoh-tokoh dalam Novel Laskar Pelangi ...........................................
108
3. Sinopsis
Novel Laskar pelangi .............................................................
111
4. Biografi
Andrea Hirata
......................................................................... 114
5. Lain-lain
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra
merupakan wujud gagasan seseorang melalui pandangan terhadap lingkungan sosial
yang beraada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Sastra
hadir sebagai hasil perenungan pengarang terhadap fenomena yang ada. Sastra
sebagai karya fiksi memiliki pemahaman yang lebih mendalam, bukan hanya sekadar
cerita khayal atau angan dari pengarang saja, melainkan wujud dari kreativitas
pengarang dalam menggali dan mengolah gagasan yang ada dalam pikirannya.
Salah satu
bentuk karya sastra adalah novel. Novel adalah karya fiksi yang dibangun
melalui berbagai unsur intrinsiknya. Unsur-unsur tersebut sengaja dipadukan
pengarang dan dibuat mirip dengan dunia yang nyata lengkap dengan
peristiwa-peristiwa di dalamnya, sehingga nampak seperti sungguh ada dan
terjadi. Unsur inilah yang akan menyebabkan karya sastra (novel) hadir. Unsur
intrinsik sebuah novel adalah unsur yang secara langsung membangun sebuah
cerita. Keterpaduan berbagai unsur intrinsik ini akan menjadikan sebuah novel
yang sangat bagus.
Laskar
Pelangi, pertama kali pada maret
2013. Sejak kemunculan novel Laskar
Pelangi mendapatkan tanggapan positif
dari penikmat sastra. Tingginya apresiasi masyarakat terhadap novel Laskar
Pelangi menjadikan novel tersebut masuk dalam jajaran novel psikologi islami
pembangun jiwa. Andrea Hirata telah membuat lompatan langkah yang gemilang
untuk mengikuti jejak sang legenda Buya Hamka, berkarya dan mempunyai fenomena
(Badrut Taman Gafas, 2005). Melalui novel kontemporernya yang diperkaya dengan
muatan budaya yang Islami, Andrea Hirata seolah mengulang kesuksesan sang
pujangga Buya Hamka yang karya-karyanya popular hingga ke mancanegara seperti “Merantau
Ke Deli”, “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, dan ”Tenggelamnya Kapal Van der
Wijck”. Meskipun nilai yang mendasari novel tersebut bersumber dari Islam,
berbagai kalangan kaum beragama dan berkepercayaan dapat menerimanya tanpa ada
perasaan terancam.
Cerita novel
Laskar Pelangi, diperoleh dari mengeksplorasi kisah persahabatan dan pendidikan di
Indonesia. Ia mengemas novel Laskar Pelangi, dengan bahasa yang sederhana imajinatif, namun tetap memperhatikan kualitas
isi. Membaca novel Laskar Pelangi,membuat
pembaca seolah-olah melihat potret nyata kehidupan masyarakat Indonesia. Hal
itu seperti tanggapan salah seorang penikmat novel Laskar
pelangi, yaitu Harnowo (editor senior dan penulis buku Mengikat
Makna) ia mengatakan bahwa, “kata-kata Andrea berhasil „menyihir‟ jiwaku. Dia dapat dikatakan mempunyai kemampuan mengolah kata sehingga
memesona yang membacanya” (Laskar Pelangi : sampul depan).
Meskipun
kisah yang terjadi dalam novel Laskar pelangi, sudah terjadi sangat lama, akan tetapi pada
kenyataannya kisah Laskar Pelangi, masih ada di zaman sekarang. Banyak pengamat
sastra yang memberikan penilaian berkaitan dengan suksesnya novel Laskar
Pelangi, Suksesnya novel Laskar
Pelangi, disebabkan novel tersebut muncul pada saat yang tepat yaitu pada waktu
masyarakat khususnya masyarakat yang merasa mengalami pendidikan yang sama
seperti beberapa tokoh yang terdapat dalam novel tersebut. Hal tersebut sejalan
dengan pernyataan yang disampaikan oleh Sapardi Djoko Darmono, seorang
sastrawan dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI Ia menyatakan Laskar
Pelangi, merupakan “Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti
pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala,
dan kualitas pendidikan” (Ruktin Handayani: 2008).
Isi novel Laskar
Pelangi, menegaskan bahwa keadaan ekonomi bukanlah menjadi hambatan seseorang dalam
meraih cita-cita dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai
cita-citanya. Kemiskinan adalah penyakit sosial yang berada dalam ruang lingkup
materi sehingga tidak berkaitan dengan kemampuan otak seseorang.
Berdasarkan latar belakang
tersebut, maka peneliti berminat untuk menganalisis novel Laskar
Pelangi, Analisis terhadap novel Laskar
Pelangi, peneliti membatasi pada nilai pendidikan. Alasan dipilih dari segi nilai
pendidikan karena novel Laskar Pelangi, diketahui banyak memberikan inspirasi bagi
pembaca, hal itu berarti ada nilai-nilai positif yang dapat diambil dan
direalisasikan oleh pembaca dalam kehidupan sehari-hari mereka, khususnya dalam
hal pendidikan. Pradopo (1994: 94) mengungkapkan bahwa suatu karya sastra yang
baik adalah yang langsung memberi didikan kepada pembaca tentang budi pekerti
dan nilai-nilai moral, sesungguhnya hal ini telah menyimpang dari hukum-hukum
karya sastra sebagai karya seni dan menjadikan karya sastra sebagai alat
pendidikan yang langsung sedangkan nilai seninya dijadikan atau dijatuhkan
nomor dua. Begitulah paham pertama dalam penilaian karya sastra yang secara
tidak langsung disimpulkan dari corak-corak roman Indonesia yang mula-mula,
ialah memberi pendidikan dan nasihat kepada pembaca.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas dapat diketahui rumusan masalah yang timbul
dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Nilai-nilai sosial apa
sajakah yang ingin disampaikan oleh Andrea Hirata dalamnovel Laskar
Pelangi?
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang
dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
Manfaat praktis, hasil
penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak, antara lain :
a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini
memberikan gambaran bagi guru tentang pendekatan struktural genetik untuk
dijadikan pedoman dalam pembelajaran sastra yang menarik, kreatif, dan
inovatif.
b. Bagi
Peneliti
Hasil penelitian ini dapat
menjadi jawaban dari masalah yang dirumuskan. Selain itu, dengan selesainya
penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk semakin
aktif menyumbangkan hasil karya ilmiah bagi dunia sastra dan pendidikan.
c. Bagi
Pembaca
Hasil penelitian ini bagi
pembaca diharapkan dapat lebih memahami isi novel Sang Pemimpi dan
mengambil manfaat darinya. Selain itu, diharapkan pembaca semakin jeli dalam
memilih bahan bacaan (khususnya novel) dengan memilih novel-novel yang
mengandung pesan moral, sosial yang baik
dan dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk sarana pembinaan watak diri
pribadi.
d. Bagi
Peneliti yang Lain
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan inspirasi maupun bahan pijakan peneliti ain untuk
melakukan penelitian yang lebih mendalam.
BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. Hakikat Novel
1. Pengertian Novel
Kata novel
berasal dari bahasa Itali novella yang secara harfiah berarti „sebuah
barang baru yang kecil‟, dan
kemudian diartikan sebagai „cerita pendek dalam bentuk prosa‟. (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2005: 9). Dalam bahasa Latin kata novel
berasal novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang
berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis lain, novel
ini baru muncul kemudian (Tarigan, 1995: 164).
Pendapat
Tarigan diperkuat dengan pendapat Semi (1993: 32) bahwa novel merupakan karya
fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan
disajikan dengan halus. Novel yang diartikan sebagai memberikan konsentrasi
kehidupan yang lebih tegas, dengan roman yang diartikan rancangannya lebih luas
mengandung sejarah perkembagan yang biasanya terdiri dari beberapa fragmen dan
patut ditinjau kembali.
Sudjiman
(1998: 53) mengatakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang menyuguhkan tokoh
dan menampilkan serangkaian peristiwa serta latar secara tersusun. Novel
sebagai karya imajinatif mengugkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang mendalam dan
menyajikannya secara halus. Novel tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga
sebagai bentuk seni yang mempelajari dan meneliti segi-segi kehidupan dan
nilai-nilai baik buruk (moral) dalam kehidupan ini dan mengarahkan pada pembaca
tentang budi pekerti yang luhur.
Saad (dalam
Badudu J.S, 1984 :51) menyatakan nama cerita rekaan untuk cerita-cerita dalam
bentuk prosa seperti: roman, novel, cerpen Ketiganya dibedakan bukan pada
panjang pendeknya cerita, yaitu dalam arti jumlah halaman karangan, melainkan
yang paling utama ialah digresi, yaitu sebuah peristiwa-peristiwa yang secara
tidak langsung berhubungan dengan cerita peristiwa yang secara tidak langsung
berhubungan dengan cerita yang dimasukkan ke dalam cerita ini. Makin banyak
digresi, makin menjadi luas ceritanya.
Batos (dalam
Tarigan, 1995: 164) menyatakan bahwa novel merupakan sebuah roman, pelaku-pelaku
mulai dengan waktu muda, menjadi tua, bergerak dari sebuah adegan yang lain
dari suatu tempat ke tempat yang lain. Nurgiyantoro (2005: 15) menyatakan,
novel merupakan karya yang bersifat realistis dan mengandung nilai psikologi
yang mendalam, sehingga novel dapat berkembang dari sejarah, surat-surat,
bentuk-bentuk nonfiksi atau dokumen-dokumen, sedangkan roman atau romansa lebih
bersifat puitis. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa novel dan
romansa berada dalam kedudukan yang berbeda. Jassin (dalam Nurgiyantoro, 2005:
16) membatasi novel sebagai suatu cerita yang bermain dalam dunia manusia dan
benda yang di sekitar kita, tidak mendalam, lebih banyak melukiskan satu saat
dari kehidupan seseorang dan lebih mengenai sesuatu episode. Mencermati pernyataan
tersebut, pada kenyataannya banyak novel Indonesia yang digarap secara
mendalam, baik itu penokohan maupun unsur-unsur intrinsik lain. Sejalan dengan
Nurgiyantoro, Hendy (1993: 225) mengemukakan bahwa novel merupakan prosa yang
terdiri dari serangkaian peristiwa dan latar. Ia juga menyatakan, novel
tidaklah sama dengan roman. Sebagai karya sastra yang termasuk ke dalam karya
sastra modern, penyajian cerita dalam novel dirasa lebih baik.
Novel
biasanya memungkinkan adanya penyajian secara meluas (expands) tentang
tempat atau ruang, sehingga tidak mengherankan jika keberadaan manusia dalam
masyarakat selalu menjadi topik utama (Sayuti, 2000: 6-7). Masyarakat tentunya
berkaitan dengan dimensi ruang atau tempat, sedangkan tokoh dalam masyarakat
berkembang dalam dimensi waktu semua itu membutuhkan deskripsi yang mendetail
supaya diperoleh suatu keutuhan yang berkesinambungan. Perkembangan dan
perjalanan tokoh untuk menemukan karakternya, akan membutuhkan waktu yang lama,
apalagi jika penulis menceritakan tokoh mulai dari masa kanak-kanak hingga
dewasa. Novel memungkinkan untuk menampung keseluruhan detail untuk
perkembangkan tokoh dan pendeskripsian ruang.
Novel oleh
Sayuti (2000: 7) dikategorikan dalam bentuk karya fiksi yang bersifat formal.
Bagi pembaca umum, pengategorian ini dapat menyadarkan bahwa sebuah fiksi
apapun bentuknya diciptakan dengan tujuan tertentu. Dengan demikian, pembaca
dalam mengapresiasi sastra akan lebih baik. Pengategorian ini berarti juga
bahwa novel yang kita anggap sulit dipahami, tidak berarti bahwa novel tersebut
memang sulit. Pembaca tidak mungkin meminta penulis untuk menulis novel dengan
gaya yang menurut anggapan pembaca luwes dan dapat dicerna dengan mudah, karena
setiap novel yang diciptakan dengan suatu cara tertentu mempunyai tujuan
tertentu pula.
Penciptaan
karya sastra memerlukan daya imajinasi yang tinggi. Menurut Junus (1989: 91),
mendefinisikan novel adalah meniru ”dunia kemungkinan”. Semua yang diuraikan di
dalamnya bukanlah dunia sesungguhnya, tetapi kemungkinan-kemungkinan yang
secara imajinasi dapat diperkirakan bisa diwujudkan. Tidak semua hasil karya
sastra arus ada dalam dunia nyata , namun harus dapat juga diterima oleh nalar.
Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan
pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang
terkandung dalam novel tersebut.
Sebagian
besar orang membaca sebuah novel hanya ingin menikmati cerita yang disajikan
oleh pengarang. Pembaca hanya akan mendapatkan kesan secara umum dan bagian
cerita tertentu yang menarik. Membaca sebuah novel yang terlalu panjang yang
dapat diselesaikan setelah berulang kali membaca dan setiap kali membaca hanya
dapat menyelesaikan beberapa episode akan memaksa pembaca untuk mengingat
kembali cerita yang telah dibaca sebelumnya. Hal ini menyebabkan pemahaman
keseluruhan cerita dari episode ke episode berikutnya akan terputus.
Dari
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah cerita
fiktif yang berusaha menggambarkan atau melukiskan kehidupan tokoh-tokohnya
dengan menggunakan alur. Cerita fiktif tidak hanya sebagai cerita khayalan
semata, tetapi sebuah imajinasi yang dihasilkan oleh pengarang adalah realitas
atau fenomena yang dilihat dan dirasakan.
2. Ciri-ciri Novel
Hendy (1993:
225) menyebutkan ciri-ciri novel sebagai berikut.
a.
Sajian cerita lebih panjang
dari cerita pendek dan lebih pendek dari roman
Biasanya cerita dalam novel
dibagi atas beberapa bagian.
b. Bahan cerita diangkat dari
keadaan yang ada dalam masyarakat dengan ramuan fiksi pengarang.
c. Penyajian berita berlandas
pada alur pokok atau alur utama yang batang tubuh cerita, dan dirangkai dengan
beberapa alur penunjang yang bersifat otonom (mempunyai latar tersendiri).
d. Tema sebuah novel terdiri
atas tema pokok (tema utama) dan tema bawahan yang berfungsi mendukung tema
pokok tersebut.
e. Karakter tokoh-tokoh utama
dalam novel berbeda-beda. Demikian juga karakter tokoh lainnya. Selain itu,
dalam novel dijumpai pula tokoh statis dan tokoh dinamis. Tokoh statis adalah
tokoh yang digambarkan berwatak tetap sejak awal hingga akhir. Tokoh dinamis
sebaliknya, ia bisa mempunyai beberapa karakter yang berbeda atau tidak tetap.
Pendapat
tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri novel adalah cerita yang
lebih panjang dari cerita pendek, diambil dari cerita masyarakat yang diolah
secara fiksi, serta mempunyai unsur intrinsik dan ekstrinsik. Ciri-ciri novel
tersebut dapat menarik pembaca atau penikmat karya sastra karena cerita yang
terdapat di dalamnya akan menjadikan lebih hidup.
3. Macam-macam Novel
Ada beberapa
jenis novel dalam sastra. Jenis novel mencerminkan keragaman tema dan
kreativitas dari sastrawan yang tak lain adalah pengarang novel. Nurgiyantoro
(2005: 16) membedakan novel menjadi novel serius dan novel popular.
a. Novel Populer
Sastra
populer adalah perekam kehidupan dan tidak banyak memperbincangkan kembali
kehidupan dalam serba kemungkinan. Sastra popular menyajikan kembali
rekaman-rekaman kehidupan dengan tujuan pembaca akan mengenali kembali
pengalamannya. Oleh karena itu, sastra populer yang baik banyak mengundang
pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya (Kayam dalam Nurgiyantoro, 2005: 18).
Heryanto
dalam Salman (2009: 2) mengungkapkan ragam kesusastraan Indonesia, meliputi:
(1) kesusastraan yang diresmikan, diabsahkan, (2) kesusastraan yang dilarang,
(3) kesusastraan yang diremehkan, dan (4) kesusastraan yang dipisahkan.
Kesusastraan yang diresmikan (konon) adalah kesusastraan yang sejauh ini banyak
dipelajari di pendidikan (tinggi). Kesusastraan yang dilarang adalah karya-karya
yang dianggap menggangu status quo (kekuasaan) seperti yang telah
terjadi seperti zaman Balai Pustaka yaitu karya Marco Kartodikromo. Pada zaman
Orde Baru, karya-karya Pramudya Ananta Toer atau kasus cerpen karya Ki Panji
Kusmin, Langit Makin Mendung, menjadi contoh yang terlarang pula.
Sementara itu, karya sastra yang dipisahkan adalah karya sastra daerah yang
ditulis dalam bahasa daerah. Dalam posisi itu, karya sastra yang diremehkan
adalah karya sastra yang dianggap populer, sastra hiburan.
Berbicara
tentang sastra populer, Kayam dalam Nurgiyantoro (2005: 18) menyebutkan bahwa
sastra populer adalah perekam kehidupan dan tak banyak memperbincangkan kembali
kehidupan dalam serba kemungkinan . ia menyajikan kembali rekaan-rekaan
kehidupan itu dengan harapan pembaca akan mengenal kembali
pengalaman-pengalamannya sehingga merasa terhibur karena seseorang telah
menceritakan pengalamannya dan bukan penafsiran tentang emosi itu. Oleh karena
itu, sastra populer yang baik banyak mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan
dirinya.
Hal seperti
itu dapat dilihat dari fenomena yang terjadi pada novel Cintapucino karya
Icha Rahmanti yang tahun lalu sempat diliris ke dalam bentuk film. Banyak
remaja khsusnya remaja puti yang mengungkapkan kesamaan kejadian di masa SMA
yang mirip dengan yang digambarkan oleh Icha Rahmanti dalam novelnya.
Adapun
pengkategorian novel sebagai novel serius atau novel populer bukanlah menjadi
hal baru dalam dunia sastra. Usaha ini tidak mudah dilakukan karena bersifat
riskan. Selain dipengaruhi oleh hal subjektif yang muncul dari pengamat, juga
banyak faktor dari luar yang menentukan. Misalnya, sebuah novel yang
diterbitkan oleh penerbit yang biasa menerbitkan karya sastra yang telah mapan,
karya tersebut akan dikategorikan sebagai karya yang serius, karya yang
bernilai tinggi, padahal pengamat belum membaca isi novel.
Kayam dalam
Nurgiyantoro (2005: 17) menyebutkan kata ”pop” erat diasosiasikan dengan kata
”populer”, mungkin karena novel-novel itu sengaja ditulis untuk ”selera populer”
yang kemudian dikenal sebagai ”bacaan populer”. Jadilah istilah pop sebagai
istilah baru dalam dunia sastra kita.
Nurgiyantoro
juga menjelaskan bahwa novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan
banyak penggemarnya, khususnya pembaca dikalangan remaja. Novel jenis ini
menampilkan masalah yang aktual pada saat novel itu muncul. Pada umumnya, novel
populer bersifat artifisial, hanya bersifat sementara, cepet ketinggalan zaman,
dan tidak memaksa orang untuk membacanyasekali lagi seiring dengan munculnya
novel-novel baru yang lebih populer pada masa sesudahnya (2005: 18). Di sisi
lain, novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati karena
semata-mata menyampaikan cerita (Stanton dalam Nurgiyantoro 2005: 19). Novel
populer tidak mengejar efek estetis seperti yang terdapat dalam novel serius.
Beracuan
dari beberapa pendapat di atas, ditarik sebuah simpulan bahwa novel popular
adalah cerita yang bisa dibilang tidak terlalu rumit. Alur cerita yang mudah
ditelusuri, gaya bahasa yang sangat mengena, fenomena yang diangkat terkesan
sangat dekat. Hal ini pulalah yang menjadi daya tarik bagi kalangan remaja
sebagai kalangan yang paling menggemari novel populer. Novel populer juga
mempunyai jalan cerita yang menarik, mudah diikuti, dan mengikuti selera
pembaca. Selera pembaca yang dimaksudkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan
kegemaran naluriah pembaca, seperti motif-motif humor dan heroisme sehingga
pembaca merasa tertarik untuk selalu mengikuti kisah ceritanya.
b. Novel Serius
Novel serius
atau yang lebih dikenal dengan sebutan novel sastra merupakan jenis karya
sastra yang dianggap pantas dibicarakan dalam sejarah sastra yang bermunculan
cenderung mengacu pada novel serius. Novel serius harus sanggup memberikan
segala sesuatu yang serba mungkin, hal itu yang disebut makna sastra yang
sastra. Novel serius yang bertujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca,
juga mempunyai tujuan memberikan pengalaman yang berharga dan mengajak pembaca
untuk meresapi lebih sungguh-sungguh tentang masalah yang dikemukakan.
Berbeda
dengan novel populer yang selalu mengikuti selera pasar, novel sastra tidak
bersifat mengabdi pada pembaca. Novel sastra cenderung menampilkan tema-tema
yang lebih serius. Teks sastra sering mengemukakan sesuatu secara implisit
sehingga hal ini bisa dianggap menyibukkan pembaca. Nurgiyantoro (2005: 18)
mengungkapkan bahwa dalam membaca novel serius, jika ingin memahaminya dengan
baik diperlukan daya konsentrasi yang tinggi disertai dengan kemauan untuk itu.
Novel jenis ini, di samping memberikan hiburan juga terimplisit tujuan
memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca atau paling tidak mengajak
pembaca untuk meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh-sungguh tentang
permasalahan yang dikemukakan.
Kecenderungan
yang muncul pada novel serius memicu sedikitnya pembaca yang berminat pada
novel sastra ini. Meskipun demikian, hal ini tidak menyebabkan popularitas
novel serius menurun. Justru novel ini mampu bertahan dari waktu ke waktu.
Misalnya, roman Romeo Juliet karya William Shakespeare atau karya Sutan
Takdir, Armin Pane, Sanusi Pane yang memunculkan polemik yang muncul pada
dekade 30-an yang hingga saat ini masih dianggap relevan dan belum ketinggalan
zaman (Nurgiyantoro, 2005:21).
Beracuan
dari pendapat di atas, ditarik sebuah simpulan bahwa novel serius adalah novel
yang mengungkapkan sesuatu yang baru dengan cara penyajian yang baru pula.
Secara singkat disimpulkan bahwa unsur kebaruan sangat diutamakan dalam novel
serius. Di dalam novel serius, gagasan diolah dengan cara yang khas. Hal ini
penting mengingat novel serius membutuhkan sesuatu yang baru dan memiliki ciri
khas daripada novel-novel yang telah dianggap biasa. Sebuah novel diharapkan
memberi kesan yang mendalam kepada pembacanya dengan teknik yang khas ini.
B. Hakikat Nilai Sosial
1. Pengertian Nilai
Nilai adalah
sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia.
Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan
manusia. Nilai sebagai kualitas yang independen akan memiliki ketetapan yaitu
tidak berubah yang terjadi pada objek yang dikenai nilai. Persahabatan sebagai
nilai (positif/ baik) tidak akan berubah esensinya manakala ada pengkhianatan
antara dua yang bersahabat. Artinya nilai adalah suatu ketetapan yang ada
bagaimanapun keadaan di sekitarnya berlangsung.
Sastra dan
tata nilai merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam hakikat
mereka sebagai sesuatu yang eksistensial. Sastra sebagai produk kehidupan.,
mengandung nilai-nilai sosial, filsafat, religi, dan sebagainya baik yang
bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang mempeunyai penyodoran konsep
baru (Suyitno, 1986: 3). Sastra tidak hanya memasuki ruang serta nilai-nilai
kehidupan personal, tetapi juga nilai-nilai kehidupan manusia dalam arti total.
Menilai oleh
Setiadi (2006: 110) dikatakan sebagai kegiatan menghubungkan sesuatu dengan
sesuatu yang lain sehingga diperoleh menjadi suatu keputusan yang menyatakan
sesuatu itu berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik, atau
buruk, manusiawi atau tidak manusiawi, religius atau tidak religius,
berdasarkan jenis tersebutlah nilai ada. Lasyo (Setiadi 2006: 117) menyatakan,
nilai manusia merupakan landasan atau motivasi dalam segala tingkah laku atau
perbuatannya. Sejalan dengan Lasyo, Darmodiharjo (dalam Setiadi, 2006: 117)
mengungkapkan nilai merupakan sesuatu yang berguna bagi manusia baik jasmani
maupun rohani. Sedangkan Soekanto (1983: 161) menyatakan, nilai-nilai merupakan
abstraksi daripada pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan sesamanya.
Pada hakikatnya, nilai yang tertinggi selalu berujung pada nilai yang terdalam
dan terabstrak bagi manusia, yaitu menyangkut tentang hal-hal yang bersifat
hakki. Dari beberapa pendapat tersebut di atas pengertian nilai dapat
disimpulkan sebagai sesuatu yang bernilai, berharga, bermutu, akan menunjukkan
suatu kualitas dan akan berguna bagi kehidupan manusia.
2. Pengertian Pendidikan
Secara
etimologis, pendidikan berasal dari bahasa Yunani “Paedogogike”, yang
terdiri atas kata “Pais” yang berarti Anak” dan kata “Ago” yang
berarti “Aku membimbing” (Hadi, 2003: 17). Jadi Soedomo Hadi menyimpulkan
paedogogike berarti aku membimbing anak. Purwanto (1986: 11) menyatakan bahwa
pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan
anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Hakikat pendidikan bertujuan untuk mendewasakan anak didik, maka seorang
pendidik haruslah orang yang dewasa, karena tidak mungkin dapat mendewasakan
anak didik jika pendidiknya sendiri belum dewasa. Tilaar (2002;435) mengatakan
hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Selanjutnya dikatakan pula
bahwa, memanusiakan manusia atau proses humanisasi melihat manusia sebagai
suatu keseluruhan di dalam eksistensinya. Eksistensi ini menurut penulis adalah
menempatkan kedudukan manusia pada tempatnya yang terhormat dan bermartabat.
Kehormatan itu tentunya tidak lepas dari nilai-nilai luhur yang selalu dipegang
umat manusia.
Pendidikan
pada hakikatnya juga berarti mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari pernyataan
tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam pendidikan, yaitu: a) cerdas, berarti
memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Cerdas
bermakna kreatif, inovatif dan siap mengaplikasikan ilmunya; b) hidup, memiliki
filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk
kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan
mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepadaNya. Filosofi
hidup ini sangat syarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat
kehidupan seseorang, memanusiakan manusia, memberikan makanan kehidupan berupa
semangat, nilai moral, dan tujuan hidup; c) bangsa, berarti manusia selain
sebagai individu juga merupakan makhluk sosial yang membutuhkan keberadaan
orang lain. Setiap individu berkewajiban menyumbangkan pengetahuannya untuk
masyarakat meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitar dengan ilmu,
sesuai dengan yang diajarkan agama dan pendidikan. Indikator terpenting
kemajuan suatu bangsa adalah pendidikan dan pengajaran (Ratna, 2005: 449).
Segala
sesuatu yang digunakan untuk mendidik harus yang mengandung nilai didik,
termasuk dalam pemilihan media. Novel sebagai suatu karya sastra, yang
merupakan karya seni juga memerlukan pertimbangan dan penilaian tentang seninya
(Pradopo, 2005: 30). Pendidikan pada kahikatnya merupakan upaya membantu
peserta didik untuk menyadari nilai-nilai yang dimilikinya dan berupaya
memfasilitasi mereka agar terbuka wawasan dan perasaannya untuk memiliki dan
meyakini nilai yang lebih hakiki, lebih tahan lama, dan merupakan kebenaran
yang dihormati dan diyakini secara sahih sebagai manusia yang beradab (Setiadi,
2006: 114).
Adler (dalam
Arifin, 1993: 12) mengartikan pendidikan sebagai proses dimana seluruh
kemampuan manusia dipengaruhi oleh pembiasaan yang baik untuk untuk membantu
orang lain dan dirinya sendiri mencapai kebiasaan yang baik. Secara etimologis,
sastra juga berarti alat untuk mendidik (Ratna, 2009: 447). Masih menurut
Ratna, lebih jauh dikaitkan dengan pesan dan muatannya, hampir secara
keseluruhan karya sastra merupakan sarana-sarana etika. Jadinya antara
pendidikan dan karya sastra (novel) adalah dua hal yang saling berkaitan.
Berdasarkan
dari beberapa pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa nilai pendidikan
merupakan segala sesuatu yang baik maupun buruk yang berguna bagi kehidupan
manusia yang diperoleh melalui proses pengubahan sikap dan tata laku dalam
upaya mendewasakan diri manusis melalui upaya pengajaran. Dihubungkan dengan
eksistensi dan kehidupan manusia, nilai-nilai pendidikan diarahkan pada
pembentukan pribadi manusis sebagai makhluk individu, sosial, religius, dan
berbudaya. Nilai-nilai pendidikan yang tersirat dalam berbagai hal dapat
mengembangkan masyarakat dalam berbagai hal dapat mengembangkan masyarakat
dengan berbagai dimensinya dan nilai-nilai tersebut mutlak dihayati dan
diresapi manusia sebab ia mengarah pada kebaikan dalam berpikir dan bertindak
sehingga dapat memajukan budi pekerti serta pikiran/ intelegensinya.
Nilai-nilai pendidikan dapat ditangkap manusia melalui berbagai hal diantaranya
melalui pemahaman dan penikmatan sebuah karya sastra. Sastra khususnya
humaniora sangat berperan penting sebagai media dalam pentransformasian sebuah
nilai termasuk halnya nilai pendidikan.
3. Macam-macam Nilai
Pendidikan
Sastra
sebagai hasil kehidupan mengandung nilai-nilai sosial, filosofi, religi dan
sebagainya. Baik yang bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang merupakan
menciptakan terbaru semuanya dirumuskan secara tersurat dan tersirat. Sastra
tidak saja lahir karena kejadian, tetapi juga dari kesadaran penciptaannya
bahwa sastra sebagai sesuatu yang imajinatif, fiktif, dll, juga harus melayani
misi-misi yang dapat dipertanggungjawabkan serta bertendens. Sastrawan pada
waktu menciptakan karyanya tidak saja didorong oleh hasrat untuk menciptakan
keindahan, tetapi juga berkehendak untuk menyampaikan pikiran-pikirannya,
pendapat-pendapatnya, dan kesan-kesan perasaannya terhadap sesuatu.
Menacari
nilai luhur dari karya sastra adalah menentukan kreativitas terhadap hubungan
kehidupannya. Dalam karya sastra akan tersimpan nilai atau pesan yang berisi
amanat atau nasihat. Melalui karyanya, pencipta karya sastra berusaha untuk
mempengaruhi pola piker pembaca dan ikut mengkaji tentang baik dan buruk, benar
mengambil pelajaran, teladan yang patut ditiru sebaliknya, untuk dicela bagi
yang tidak baik. Karya sastra diciptakan bukan sekedar untuk dinikmati, akan
tetapi untuk dipahami dan diambil manfaatnya. Karya sastra tidak sekedar benda
mati yang tidak berarti, tetapi didalamnya termuat suatu ajaran berupa
nilai-nilai hidup dan pesan-pesan luhur yang mampu menambah wawasan manusia
dalam memahami kehidupan. Dalam karya sastra, berbagai nilai hidup dihadirkan
karena hal ini merupakan hal positif yang mampu mendidik manusia, sehingga
manusia mencapai hidup yang lebih baik sebagai makhluk yang dikaruniai oleh
akal, pikiran, dan perasaan.
Novel
merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak memberikan penjelasan
secara jelas tentang sistem nilai. Nilai itu mengungkapkan perbuatan apa yang dipuji
dan dicela, pandangan hidup mana yang dianut dan dijauhi, dan hal apa saja yang
dijunjung tinggi. Adapun nilai-nilai pendidikan dalam novel sebagai berikut.
a. Nilai Pendidikan Religius
Religi
merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati
manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan
secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia
secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, 1995:
90). Nilai-nilai religious bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik
menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang
terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut
mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada
nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan
personal.
Kehadiran
unsur religi dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri
(Nurgiyantoro, 2005: 326). Semi (1993: 21) menyatakan, agama merupakan kunci
sejarah, kita batu memahami jiwa suatu masyarakat bila kita memahami agamanya.
Semi (1993: 21) juga menambahkan, kita tidak mengerti hasil-hasil kebudayaanya,
kecuali bila kita paham akan kepercayaan atau agama yang mengilhaminya. Religi
lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Nilai religius yang merupakan nilai
keohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan
manusia.
b. Nilai Pendidikan Moral
Moral
merupakan sesuatu yang ingin
disampaikan pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam
karya sastra, makna yang disaratkan lewat cerita. Moral dapat dipandang sebagai
tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak semua tema merupaka moral (Kenny
dalam Nurgiyantoro, 2005: 320). Moral merupakan pandangan pengarang tentang
nilai-nilai kebenaran dan pandangan itu yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Hasbullah (2005: 194) menyatakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang
membedakan antara yang baik dan yang buruk. Nilai moral yang terkandung dalam
karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika
merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa
yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam
masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi orang itu ,
masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Uzey (2009: 2) berpendapat bahwa
nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan
baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi
tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau
tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku
kehidupan kita sehari-hari.
Dapat
disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan
tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang
meliputi perilaku. Untuk karya menjunjung tinggi budi pekerti dan nilai susila.
c. Nilai Pendidikan Sosial
Kata
“sosial” berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat/ kepentingan umum.
Nilai sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata
cara hidup sosial. Perilaku sosial brupa sikap seseorang terhadap peristiwa
yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara
berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai sosial yang
ada dalam karya sastra dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang
diinterpretasikan (Rosyadi, 1995: 80). Nilai pendidikan sosial akan menjadikan
manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan
antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai sosial
mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah
masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka
menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam
nilai sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya,
pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan
masyarakat.
Sejalan
dengan tersebut nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat
untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri, dan
berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai
norma yang berlaku. Uzey (2009: 7) juga berpendapat bahwa nilai sosial mengacu
pada pertimbangan terhadap suatu tindakan benda, cara untuk mengambil keputusan
apakah sesuatu yang bernilai itu memiliki kebenaran, keindahan, dan nilai
ketuhanan. Jadi nilai sosial dapat disimpulkan sebagai kumpulan sikap dan
perasaan yang diwujudkan melalui perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang
yang memiliki nilai tersebut. Nilai sosial merupakan sikap-sikap dan perasaan
yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan
apa yang benar dan apa yang penting.
d. Nilai Pendidikan Budaya
Nilai-nilai
budaya menurut Rosyadi (1995:74) merupakan sesuatu yang dianggap baik dan
berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu
dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nolai
budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada sutu masyarakat dan
kebudayaannya.
Nilai budaya
merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam
pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu
singkat. Uzey (2009: 1) berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya
dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu.
Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara
individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh
masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang
digambarkan.
Sistem nilai
budaya merupakan inti kebudayaan, sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan
menata elemen-elemen yang berada pada struktur permukaan dari kehidupan manusia
yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan
material. Sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam
alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus
mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sisitem nilai budaya
biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Dapat
disimpulkan dari pendapat tersebut sistem nilai budaya menempatkan pada posisi
sentral dan penting dalam kerangka suatu kebudayaan yang sifatnya abstrak dan
hanya dapat diungkapkan atau dinyatakan melalui pengamatan pada gejala-gejala
yang lebih nyata seperti tingkah laku dan benda-benda material sebagai hasil
dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola. Adapun nilai-nilai
budaya yang terkandung dalam novel dapat diketahui melalui penelaahan terhadap
karakteristik dan perilaku tokoh-tokoh dalam cerita.
D. Penelitian Relevan
Hasil
Penelitian sebelumnya yang relevan dan dapat dijadikan acuan serta masukan pada
penelitian ini adalah:
1. Ririh Yuli Atminingsih dalam penelitian berjudul “Analisis Gaya Bahasa dan
Nilai Pendidikan Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata”. Dalam
kesimpulannya gaya bahasa yang digunakan dalam Novel Laskar Pelangi antara
lain: personifikasi, hiperbola, antitesis, simile, metafora, epizeukis, eponim,
anadipsis, repetisi, parifrasis, tautologi, koreksio, pleonasme, ironi,
paradoks, satire, hipalase, innuendo, metonomia, sinekdoke pars prototo,
sinekdoke totum pro parte, alusio, epitet, antonomasia, ellipsis, asidenton,
tautotes, anaphora, pertanyaan retoris. Ririh juga menyatakan alasan pengarang menggunakan
gaya bahasa pada novel Laskar Pelangi adalah untuk mengungkapkan
ekspresi jiwa atau perasaan tertentu, untuk menunjukkan kreativitas seni dalam
bentuk bahasa, untuk membangkitkan inajinasi pembaca, untuk memberikan kesan
keindahan pada novel, untuk memperjelas makna kata, untuk menampilkan variasi
dan gaya yang berbeda dengan karangan novel lain. Nilai pendidikan yang
digunakan adalah nilai religius, nilai moral, dan nilai sosial. Persamaan karya
ilmiah Ririh Yuli Atminingsih dengan penulis yaitu sama-sama mengkaji gaya
bahasa dan nilai pendidikan dengan judul novel yang berbeda. Perbedaannya
adalah terdapat dalam simpulan penelitian. Karya ilmiah Ririh dalam simpulannya
terdapat nilai religious, moral, dan sosial; sedangkan dalam karya ilmiah penulis
juga ditemukan nilai budaya.
2. Triyatmi dalam penetian berjudul “Kajian Gaya Bahasa dalam Kain Rentang
Kampanye Pemilu 2004” penelitian ini disimpulkan: 1) Gaya bahasa yang digunakan
dalam kain rentang kampanye 2004, baik kampanye legislative, calon presiden,
dan calon wakil presiden sebagai berikut: a) Empat jenis gaya bahasa yang
digunakan: (1) Gaya bahasa perbandingan meliputi eufemisme, epitet, hiperbola,
simile, personifikasi, sinekdoke, dan asosiasi; (2) Gaya bahasa perulangan,
meliputi anaphora dan aliterasi; (3) Gaya Bahasa sindiran (satire); (4) Gaya
bahasa pertentangan (oksimoron). b) Tidak ditemukan gaya bahasa penegasan. c)
Gaya bahasa yang sering digunakan dalam kain rentang kampanye 2004 adalah
eufemisme dan epitet. 2) Alasan penggunaan gaya bahasa pada kain rentang
kampanye 2004, yaitu: a) Penyesuaiaan konsep yang menjadi dasar penulisan kain
rentang oleh masing-masing tim sukses partai; b) Kain rentang yang dibuat
merupakan salah satu media publikasi yang digunakan untuk sosialisasi program
kerja partai yang bersangkutan; c) Bahasa yang sederhana, simpatik, dan
meyakinkan merupakan media yang mudah diingat dan menarik perhatian massa calon
pemilih. Persamaan karya ilmiah Triyatmi dengan penulis yaitu sama-sama
mengkaji gaya bahasa, tetapi dalam simpulan karya ilmiah Triyatmi tidak
ditemukan gaya bahasa penegasan. Perbedaannya adalah objek yang diteliti. Objek
yang diteliti Triyatmi adalah kain rentang kampanye pemilu 2004, sedangkan
penulis objek yang diteliti adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea
Hirata.
3. Endang Lindarti dalam penelitian berjudul “Analisis Struktur dan Nilai
Pendidikan dalam Cerita Rakyat di Kabupaten Karanganyar”. Simpulan yang
ditulisnya yaitu antarsastra dan nilai kehidupan terdapat interaksi yang kuat.
Jadi antara nilai sastra dan nilai-nilai didik merupakan dua fenomena sosial
yang saling melengkapi dalam kehadirannya dalam karya sastra sebagai suatu yang
penting. Dalam cerita rakyat tersebut, nilai didik yang terkandung adalah nilai
moral, religius, sosial, dan budaya. Persamaan karya ilmiah Endang Lindiarti
dengan penulis yaitu sama-sama di dalam penelitiannya terdapat simpulan yang
mengandung unsur nilai moral, religi, sosial, dan budaya. perbedaannya terdapat
pada objek yang dikaji. Obyek yang dikaji dalam penelitian Endang Lindiarti
adalah cerita rakyat di Kabupaten Karanganyar, sedangkan yang dikaji penulis
objek penelitiannya adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.
E. Kerangka
Berpikir
Dalam novel Laskar Pelangi,terdapat segi yang akan penulis analisis dari nilai-nilai pendidikan yang
terdapat di dalamnya. Nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Sang
Pemimpi meliputi empat macam nilai pendidikan, yaitu: nilai pendidikan
moral, religius, sosial, dan budaya. Semua nilai yang ditemukan tersebut akan
dapat bermanfaat bagi para pembaca novel Laskar Pelangi, Supaya lebih jelas dapat
dilihat pada skema kerangka berpikir berikut.
BAB III
TUJUAN
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini
sebagai Menyebutkan dan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang
digunakan pengarang dalam novel Laskar Pelangi.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat
penelitian tidak terikat pada satu tempat karena objek yang dikaji berupa naskah
(teks) sastra, yaitu novel Laskar Pelangi, Penelitian ini bukan penelitian yang analisisnya bersifat statis melainkan
sebuah analisis yang dinamis yang dapat terus dikembangkan.
B. Bentuk dan Strategi
Penelitian
Bentuk
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode content analysis atau
analisis isi. Penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang
menjadi masalah, kemudian menganalisis dan menafsirkan data yang ada. Metode content
analysis atau analisis isi yang digunakan untuk menelaah isi dari suatu
dokumen, dalam penelitian ini dokumen yang dimaksud adalah novel Sang
Pemimpi karya Andrea Hirata.
C. Sumber Data
Sumber data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen. Dokumen yang digunakan
adalah novel Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata cetakan ke-1 yang diterbitkan oleh penerbitan Bentang Yogyakarta tahun 2013.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pegumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik catat, karena
data-datanya berupa teks. Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data adalah
sebagai berikut: membaca novel Laskar pelangi, secara berulang-ulang, mencatat kalimat-kalimat
yang menyatakan pemakaian gaya bahasa dan nilai pendidikan.
E. Validitas Data
Validitas atau keabsahan data
merupakan kebenaran data dari proses penelitian. Dalam mendapatkan data, dalam
penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi. Adapun triangulasi yang
digunakan adalah triangulasi teori, yaitu secara penelitian terhadap topik yang
sama dengan menggunakan teori yang berbeda dalam menganalisa data
F. Analisis Data
Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model analisis
mengalir, yang meliputi tiga komponen, yaitu 1) reduksi data; 2) penyajian
data; dan 3) penarikan simpulan. Analisis model mengalir mempunyai tiga
komponen yang saling terjalin dengan baik, yaitu sebelum, selama dan sesudah
pelaksanaan pengumpulan data. Penjelasannya sebagai berikut.
1. Reduksi data
Pada langkah ini data yang
diperolah dicatat dalam uraian yang terperinci. Dari data-data yang sudah
dicatat tersebut, kemudian dilakukan penyederhanaan data. Data-data yang
dipilih hanya data yang berkaitan dengan masalah yang akan dianalisis, dalam
hal ini tentang gaya bahasa dan nilai pendidikan yang terdapat di dalam novel Laskar
Pelangi,. Informasi-informasi yang pengacu pada
permasalahan itulah yang menjadi data dalam penelitian ini.
2. Sajian data
Pada langkah ini, data-data
yang sudah ditetapkan kemudian disusun secara teratur dan terperinci agar mudah
dipahami. Data-data tersebut kemudian dianalisis sehingga diperoleh deskripsi
tentang gaya bahasa yang digunakan, kejelasan makna dari gaya bahasa tersebut
dan nilai pendidikannya.
3. Penarikan simpulan/
verifikasi
Pada tahap ini dibuat
kesimpulan tentang hasil dari data yang diperoleh sejak awal penelitian.
Kesimpulan ini masih memerlukan adanya verifikasi (penelitian kembali tentang
kebenaran laporan) sehingga hasil yang diperoleh benar-benar valid.
Ketiga komponen tersebut
saling berkaitan dan dilakukan secara terus-menerus mulai dari awal, saat
penelitian berlangsung, sampai akhir laporan.
Adapun model
analisis mengalir jika digambarkan adalah sebagai berikut.
Masa Pengumpulan Data
REDUKSI DATA
Selama Pasca
Antisipasi
PENYAJIAN DATA
ANALISIS
Selama Pasca
PENARIKAN
KESIMPULAN/VERIFIKASI
Selama Pasca
Gambar 2. Model Analisis
Mengalir
(Miles, Mattew B. &
Huberman, A. Michael, 1992: 18)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Analisis Nilai-nilai
Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi,
1. Nilai Pendidikan Religius
Nilai
religius merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta
alam dan seisinya. Berbicara tentang hubungan manusia dan Tuhan tidak terlepas
dari pembahasan agama. Agama merupakan pegangan hidup bagi manusia. Agama dapat
pula bertindak sebagai pemacu faktor kreatif, kedinamisan hidup, dan perangsang
atau pemberi makna kehidupan. Melalui agama, manusia pun dapat mempertahankan
keutuhan masyarakat agar hidup dalam pola kemasyarakatan yang telah tetap
sekaligus menuntun untuk meraih masa depan yang lebih baik. Seperti dalam
kutipan di bawah ini.
ketika hari
pertama penerimaan siswa baru di SD
Muhammadiyah. Saat itu menjadi sangat menegangkan bagi kedua guru luar biasa
yaitu Ibu Muslimah dan Pak Harpan serta ke sembilan murid yang sedang menunggu satu orang murid
lagi untuk menjadikan genap 10 orang. Karena jika tidak mendapatkan 10 murid
maka terpaksa SD Muhammadiyah tidak dapat mebuka kelas baru, dan sekolah
tersebut akan ditutup oleh Depdikbud Sumsel
Hari itu,
tiba-tiba datanglah seorang anak sedang berlari kearah SD Muhammadiyah
untuk menjadikan genap 10 orang siswa. Harun, seorang anak dengan
keterbelakangan mental menyelamatkan pendidikan di SD Muhammadiyah.
Lima tahun kemudian, Ibu Muslimah, Pak
Harfan dan kesepuluh muridnya dengan keunikan dan keistimewaan masing-masing
anak, berjuang untuk terus sekolah di antara tantangan yang berat dan tekanan
yang meraka hadapi. Ikal, Lintang dan Mahar dengan bakat dan kecerdasan mereka
muncul sebagai pendorong semangat mereka.
Ditengah upaya
untuk tetap mempertahankan sekolah, kembali mereka harus menghadapi masalah
dimana untuk Ulangan Umum SD Muhammadiyah harus bergabung dengan SD
PN Timah (Perusahaan Negara Timah) yang merupakan sekolah elit. Merekapun jadi
pusat perhatian dan ditertawakan oleh guru dan siswa dari SD PN tersebut karena pakaian meraka yang beralas kakisandal, dan pakaian robek
dan jelek karena memang mereka adalah keluarga miskin.
Pada suatu hari diadakan lomba karnaval
untuk memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus RI. Ibu Muslimah dan Pak Harfan
memutuskan tahun ini SD Muhammadiyah akan ikut lomba tersebut dan menunjuk
Mahar sebagai ketua dan pencari ide untuk karnaval tersebut, karena Mahar
selalu mendapat nilai tinggi pada mata pelajaran kesenian tetapi Pak Harpan mengatakan
bahwa sekolah SD Muhammadiyah tidak mempunyai dana untuk membiayai acara
tersebut. Dengan kejeniusannya dalam bidang kesenian Mahar pun menghasilkan ide
yang brilian.
Pada saat lomba tersebut SD Muhammadiyah
menampilkan tarian khas daerah Papua. Dengan kostum yang terbuat dari rangkaian
daun kelor dan kalung buah caruluk, mereka menampilkan tarian tersebut dengan
baik. Sorak dan tepuk tangan meriah diberikan pada mereka, termasuk dari SD PN
yang menampilkan Drum Band dengan peralatan sangat mahal. SD Muhammadiyah
mengalahkan peserta lainnya dengan segala keterbatasan dana, karena Mahar
berpendapat ide itu lebih mahal dari pada uang.
Di lihat
dari kutipan di atas, Tokoh mahar dalam novel Laskar Pelangi, mencerminkan
tokoh yang pandai memberikan pandapat sehingga meraka bisa juara
satu di lomba kernaval memperingati hari kemerdekaan 17 agustus dengan berbagai
coba,an denga fasilitas yang sangat tebatas dan segalah sesuatu yang sangat
terbatas di sekolah mereka dengan
keterbatasan sekolah mereka mampuh berpikir dan memberikan ide-ide baru
sehingga mereka bisa jadi peringat nomor satu di antara sekolah-sekolah yang
elit tersebut, dan kata mahar dan lintang pendapat lebih berharga di banding
uang, dengan setiap harinya, walaupun mereka
segalahnya keterbatasan, namun mereka
mampu
menumbuhkan sikap sabar, tidak sombong dan tidak angkuh pada sesama. Manusia
menjadi saling mencintai dan menghormati, dengan demikian manusia bisa hidup
harmonis dalam hubungannnya dengan Tuhan dan sesamamanusia dan manusia tidak bisa hidup sendiri tampa manusia
lain yang ada disekeliling mereka, maupun
makhluk lain. dalam kutipan di atas adalah sosok yang baik yang
dapat kita tiru dan mengambil hikma penyayang
dan menghormati manusia lain walaupun mereka di jelekan dengan
sekolah lain, mereka tetap semangat belajar dan
mampuh memberikan pondasi- yang kokoh, lintang dan mahar terbukti sebagai anak yang cerdas dan pintar meraka mampuh memberika
inovasi baru agar dapat juara satu dalam
lomba kernaval memperingati hari kemerdekaan.
Kutipan di
atas mempunyai kandungan nilai pendidikan religius karena secara jelas
disampaikan penulis melalui gaya bahasa pars pro toto yang terlihat pada kata “pendapat
lebih berharga dari pada uang” yang berarti segalanya kekayaan yang orang lain miliki tidak ada
harganya di bandingkan dangan pendapat, dengan gaya bahasa yang mereka
keluarkan dan Pars pro toto adalah gaya bahasa yang melukiskan sebagian dari keseluruhan,
berarti kata tersebut dalam kutipan di atas “pendapat
lebih berharga dibandingka uang yang dimaksud adalah mahar dan
lintang.
Sebuah karya
sastra yang mengangkat sebuah kemanusiaan yang berdasarkan kebenaran akan
menggugah hati nurani dan akan memberikan kemungkinan pertimbangan baru pada
diri penikmatnya. Oleh karena itu, cukup beralasan apabila sastra dapat
berfungsi sebagai peneguh batin pembaca dalam menjalankan keyakinan agamanya dalam
kehidupan sehari-hari.
Jika setiap
manusia akan saling menghormati dalam menjalankan agamanya, maka hubungan yang
harmonis akan terjalin dan akan menjadikan hidup manusia menjadi tenteram dan
bahagia karena nilai religius merupakan keterkaitan antarmanusia dengan Tuhan
sebagai sumber ketentraman dan kebahagiaan di dunia. Nilai religius akan
menanamkan sikap manusia untuk tunduk dan taat kepada Tuhan atau dalam
keseharian kita kenal dengan takwa. Seperti yang tergambar dalam tokoh mahar dan
lintang di bawah ini.
“Setiap maghrib, mereka
selalu melihat matahari tengelam bersama-sama dengan keindahan yang sangat luar
biasa
Perilaku mahar dan
lintang dalam kesehariannya mencerminkan seorang yang sangat
sabar dengan keterbatasan hidup dan sekolah, dan mahar senang mendengarka
siaran radio dan dia mudah mendapat
informasih dan bisa memberikan hal-hal yang baru dengar mendengarkan siaran
radio dengan mahar dan lintang Orang yang sangat
kreatis dalam segalah hal terbukti bahwa setiap pulang
sekolah selesai belajar lintang dan mahar selalu membatru orang tuanya meraka
masing-masing apapun pekerjaan orang tua mereka tidak pernah mengeluh dalam
kerasnya kehidupan dengan kesadarannya sendiri, tanpa diperintah
siapapun.
Kutipan di atas mempunyai kandungan nilai pendidikan religius karena secara
jelas disampaikan penulis melalui gaya bahasa hipalase yaitu gaya bahasa yang
menggunakan kata tertentu untuk menerangkan sesuatu, namun kata tersebut tidak tepat
bagi kata yang diterangkan. Hal tersebut dapat dilihat pada kalimat “lebih baik
memberi dari pada menerima”, yang dimaksud dalam kalimat-kalimat tersebut
di ucapakan
oleh bapak dan ibu guru di SD muhammadiyah.
2. Nilai Pendidikan Moral
Nilai moral sering
disamakan dengan nilai etika, yaitu suatu nilai yang menjadi ukuran patut
tidaknya manusia bergaul dalam kehidupan bermasyarakat. Moral merupakan tingkah
laku atau perbuatan manusia yang dipandang dari nilai individu itu berada.
Sikap disiplin tidak hanya dilakukan dalam hal beribadah saja, tetapi dalam
segala hal, sikap yang penuh dengan kedisiplinan akan menghasilkan kebaikan.
Seperti halnya jika dalam agama, seorang hamba jika menjalankan shalat tepat
waktu akan mendapat pahala lebih banyak, demikian juga jika disiplin dijalankan
pada pekerjaan lainnya dan tanpa memandang siapa yang berperan dalam melakukan
Perbuatan disiplin tersebut,
Seperti pada kutipan berikut mengandung nilai moral yang sangat penting.
Ikal,
Lintang dan Mahar mewakili SD Muhammadiyah dalam lomba cerdas cermat yang
diikuti SD terbaik di daerah tersebut, termasuk juara bertahan SD PN Timah.
Persaingan sangat sengit terjadi antara SD Muhammadiyah dengan SD PN Timah.
Lintang seorang anak jenius yang berasal dari keluarga miskin pesisir pantai
melibas habis pertanyaan matematika yang dibacakan. Hingga pada akhirnya
terjadi perselisihan antara juri karena
lintang salah menjawab dan dianggap curang. Juri mengatakan lintang tidak
pernah menghitung, jadi juri mengganggap lintang sutah tau jawabannya. Para
gurupun menentang tuduhan juri tersebut. Lintang dengan segala kejeniusannya
menjelaskan dan menjabarkan soal yang terakhir dengan baik sehingga juripun
meminta maaf karena jawaban dari juri tersebut ternyata salah, dan jawaban lintang
yang benar. Akhirnya Lintang dan
kawan-kawan memenangkan lomba
Kutipan di
atas sangat baik di tiru atau teladan bagi kita dalam kehidupan
bermasyarakat pantas dijadikan contoh bagi masyarakat,
khususnya para penerus bangsa (siswa). Agar bisa menikmati kehidupan dengan
seadanya walaupun miskin tetap belajar dan berjuang untuk mendapatkan yang
terbaik dalam nilai-nilai kehidupan dan memberikan contoh kepada masyarakat
terutama kepada anak-anak mereka yang menjadi penurus bangsa ini patut kita
jadikan sebuah contoh mutlak, di dalam keadaan yang rumit dan permasalah yang
sangat banyak dengan kekurang yang segalah fasilitas mereka mampuh merai juara
satu lomba kernavalk tersebut itu merupakan suatu yang harus kita banggahkan
dan kita ikuti oleh anak-anak kita .
Pendidikan moral sangat penting untuk mendidik
manusia yang belum benar tapi merasa benar tetapi dia sudah benar.
Kutipan di
atas mempunyai kandungan nilai pendidikan moral karena secara jelas disampaikan
penulis melalui gaya bahasa “memberikan ide baru dan sebuah pendapat dapat memberikan kemenangan”. Arti dari kalimat tersebut
segalah sesuatu dapat kita capai dengan kesabaran dan ketekunan dan displin
memperjuangkan nama sekolah SD muhammdiyah dengan kekurangan dan keterbatasan
meja, kursi ,buku perlengkapan sekolah, bojor, tapi bagi murid muhammdiyah
bukan alasan untuk tidak belajar atau berhenti dan bermalasan untuk pergi
sekolah, tetapi malah sebaliknya mereka mampuh bangun dalam suasana seperti tu
tetap semangat menjalankan kegiata mereka yaitu belajar.
Pengembangan
nilai moral sangat penting supaya manusia memahami dan menghayati etika ketika
berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat. Pemahaman dan penghayatan
nilai-nilai etika mampu menempatkan manusia sesuai kapasitasnya, dengan
demikian akan terwujud perasaan saling hormat, saling sayang, dan tercipta
suasana yang harmonis. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut ini:
Ketika
sekolah muhammdiyah ingin di tutup karena dengan alasa tidak mapuh memenuhi
segalah kualitas fasilitas, dan karena kekurangan siswa dan ketika sahabatnya
menyuru untuk tidak membagun sekolah SD muhammdiyah takuya tidak bisa
menjalutkan kejenja yang tinggi lagi di karenakan murid mereka sudah kelas lima
dan karena tahun depan tidak ada lagi siswa yang sekolah dan tidak bisa
membuka sekolah baru karena kekurang
siswa pak ci bilang sekolah muhammdiya
dimana pendidikan agama pendidikan budi pekerti bukan sekedar peerlengkapan
kurikulum kecerdasan bukan di lihat dari nilai-nilai dan dari angkah-angkah
tapi dari hati, tetapi tahun depan sudah tidak ada murid lagi, tetapi mereka tetap berjuang mendirikan
sekolah SD muhammdiyan
Kutipan di
atas terlihat jelas mengandung nilai pendidikan moral dan sosial melalui penggunakan gaya bahasa tersendiri Hal itu dapat dilihat dari kalimat “sekolah itu
bukan sekedar perlengkap kurikulu dan kepintaran dan kecerdasan tetapi
melainkan dari hati”. Kalimat tersebut mempunyai arti betapa pentingnya sebuah pendidikan dalam
kehidupan kita tidak ada yang lebih
penting selain pendidikan dimana kita belajar untuk sungguh-sungguhdan belajar
untuk menerimah bukan untuk memberi sebanyak-banyaknya.kecerdasan dan kepintaran
itu akan berjalan dengan serentak ketika di sertai dengan hati bukan dengan
angkah-angkah dan nilai-nalai dan saling membantu sesama dengan ikhlas tanpa
pabri
Kedua
kutipan di atas mengandung makna tersirat nilai moral, karena tercantum jelas
bahwa bakri sudah pindah kesekolah ke SD satu bangka belitung karena tidak ada gaji untuk menafkahi
keluarganya dan menghalalkan segala cara hanya ingi pidah
mengajar kesekolah lain kaerna tidak ada
orang yang perduli dengan sekolah kita
dan tidak ada orang percaya tetang
sekolah kita bahwa anak-anak miskin juga punya hak untuk belajar
dan mereka harus punya cita-cita dan biar semua orang percaya bahwa
sekolah ini ada danpantas untuk di pertahankan
kita harus bekerja lebih keras lagi Hal tersebut dapat
kita lihat supaya
moral manusia yang lain tidak ikut baik. Adapun
nilai yang dimaksud dalam konteks tersebut menyangkut baik dan buruk yang diterima
umum mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban. Moral juga dapat dikatakan
sebagai ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu rangkaian cerita karena
karya sastra itu menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan
yang berlaku.
3. Nilai Pendidikan Sosial
Nilai sosial
merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup
sosial. Suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek,
gagasan, atau orang juga termasuk di dalamnya. Karya sastra berkaitan erat
dengan nilai sosial, karena karya sastra dapat pula bersumber dari
kenyataan-kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Nilai sosial mencakup
kebutuhan hidup bersama, seperti kasih sayang, kepercayaan, pengakuan, dan
penghargaan. Nilai sosial yang dimaksud adalah kepedulian terhadap lingkungan
sekitar. Kepedulian tersebut dapat berupa perhatian maupun berupa kritik.
Kritik tersebut dilatar belakangi oleh dorongan untuk memprotes ketidakadilan
yang dilihat, didengar maupun yang dialaminya, seperti yang terdapat dalam
kutipan berikut.”tidak satu
orangpu yang percaya tetang sekolah yang dibangun oleh mereka dengan susah payah dan tidak ada satu
orangpun yang membantu padahal orang miskin berhak untuk belajar”
Kutipan di
atas dapat di jelaskan bahwa walaupun semiskin apapun seseorang itu mereka
berhak untuk belajar masih tetap ada dalam
dirinya, karena dia merasa walau bagaimanapun mereka adalah bisa belajar
dengan kebutuhan seadanya Kutipan di atas secara jelas megandung nilai
pendidikan sosial melalui penggunakan gaya bahasa hipebolah yaitu gaya bahasa yang mengandung makna dan arti yang belebihan yaitu
gaya bahasa suatu
pernyataan yang misalnya membesar-besarkan suatu hal dari yang sesungguhnya.
Hal itu dapat dilihat dari ungkapan”percuma gigi keracunan kuku sesuatu
yang indah lebih indah dari musik mu mahar”
Nilai sosial
berkenaan dengan kemanusiaan dan mengembangkan kehidupan bersama, seperti kasih
sayang, penghargaan, kerja sama, perlindungan, dan sifat-sifat yang ditujukan
untuk kepentingan kemanusiaan lainnya yang merupakan kebiasaan yang diwariskan
secara turun temurun. Seperti yang tercermin pada kutipan di bawah ini.
“ketika ibu
muslimah memutuskan untuk ikut karnaval dan memberikan tugas untuk sama-sama
untuk berpikir dan mencari ide-ide atau
pendapat yang berkaitan dengan lomba kernaval dan ceta cermat dan dengan
kebersamaan yang teguh mereka mampuh merai juara satu dalam dua lomba tersebut.
Beberapa
hari setelah mereka memenangi dua lombah tersebut mereka sangat
senag dan tambah bersemangat untuk tetap berjuang dan belajar dan ibu muslimah
menyuruh ikal membeli kapur demi kepentingan sekolah mereka dengan keterbatasa
segala-galahnya ikal berkata beli kapur saja susahnya luar biasa sekali
menempuh perjalana yang sangat panjang baru mendapatkan sebatang kapur tulis
dan demi kepentingan belajar bersama, mahar dan teman-teman yang lainya juga
sibuk dengan memberikan ide untu kernaval yang berlangsun pada hari itu
lagi-lagi mereka memenangi lombok tersebut dan mendapatkan penghargan yang
sangat luar biasa mereka banggakan.
Kutipan di
atas dapat didlihat secara jelas mengandung nilai pendidikan sosial melalui
penggunakan gaya bahasa alegori yaitu gaya bahasa yang bertautan satu dengan
yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Hal tersebut dapat dilihat dari
kata “belajar untuk memberi
dan pendapat lebih berharga ” Kata itu
mempunyai pertautan dalam satu kutipan
Nilai sosial
juga berupa hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup
sosial. Nilai dalam karya sastra, nilai sosial dapat dilihat dari cerminan
kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan sehingga diharapkan mampu
memberikan peningkatan kepekaan rasa kemanusiaan. Cerminan tersebut dapat
dilihat dari kutipan di bawah ini.
“Aku tersenyum tapi tangisku
tak reda karena seperti mekanika gerak balik helikopter purba ini, Arai telah
memutar balikkan logikasentimental ini. Ia justru berusaha menghiburku pada
saat aku seharusnya menghiburnya. Dadaku sesak.”(SP, 28)
Kutipan di atas
menggunakan gaya bahasa paradoks yaitu gaya bahasa yang bertentangan dalam satu
kalimat. Sepintas lalu hal tersebut tidak masuk akal. Hal itu dapat dilihat
dari kalimat “aku tersenyum tapi tangisku tak reda”. Kalimat tersebut
mempunyai arti Ikal masih bisa tersenyum ketika dia menangis.
Tokoh Ikal
yang seharusnya menghibur Arai ketika ia mendapat musibah ternyata malah
berputar terbalik. Justru Arai yang berusaha menghibur Ikal supaya dia
tersenyum, itulah sosok Arai yang tidak mudah ditebak. Sikap Arai yang peduli
terhadap orang lain juga dapat dilihat dari kutipan di bawah ini.
“Arai menyerahkan
karung-karung kami pada Mak Cik. Beliau terkaget-kaget. Lalu aku tertegun
mendengar rencana Arai, dengan bahan itu dimintanya Mak Cik membuat kue dan
kami yang akan menjualnya. Mulai sekarang Mak Cik mempunyai penghasilan! Seru
Arai bersemangat.”(SP, 51)
Kutipan di
atas menggunakan gaya bahasa hiperbola yaitu gaya bahasa yang mengandung suatu
pernyataan berlebihan. Hal itu dapat dilihat pada kalimat “beliau terkaget-kaget”
dan kalimat tersebut mempunyai arti yaitu sangat terkejut.
Arai tidak
tega melihat Mak Cik yang hidup kesusahan. Dia juga menyuruh Arai untuk memecah
celengannya untuk menolong Mak Cik. Cara mereka dengan membelikan bahan-bahan
untuk membuat kue supaya beliau bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Sifat
membalas budi atas kebaikan orang lain pada nilai sosial sangatlah penting.
Sifat tersebut juga bertujuan untuk membangun sikap saling peduli dan saling
peka antar sesama. Sifat tersebut tersirat dalam kutipan di bawah ini.
“Aku ingin membahagiakan Arai.
Aku ingin berbuat sesuatu seperti yang ia lakukan pada Jimbron. Seperti yang
selalu ia lakukan padaku. Aku sering melihat sepatuku yang menganga seperti
buaya berjemur tahu-tahu sudah rekat kembali, Arai diam-diam memakunya. Aku
juga selalu heran melihat kancing bajuku yang lepas tiba-tiba lengkap kembali,
tanpa banyak cincong Arai menjahitnya. Jika terbangun malam-malam, aku sering
mendapatiku telah berselimut, Arai menyelimutiku. Belum terhitung kebaikannya
waktu ia membelaku dalam perkara rambut belah tengah toni Koeswoyo saat aku
masih SD dulu. Bertahun lewat taoi aku tak kan lupa Rai, akan kubalas
kebaikanmu yang tak terucapkan itu, jasamu yang tak kenal pamrih itu,
ketulusanmu yang tak kasatmata itu.”(SP, 186)
DOWLOAD FILENYA DI SINI ! DOWLOAD
Komentar