Fungsi Otak dalam Psycoliguistic
KEPALA DAN BAHASA
PENDAHULUAN
Psycholinguistics atau the psychology of language
merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang membahas tentang proses-proses
pemerolehan dan penggunaan bahasa ditinjau dari segi psikologi (Nan Bernstein
Ratner, dkk. 1998).
1.Comprehension:
How people understand spoken and written language.
2.Speech
Production: How people produce language.
3.Acquisition:
How people learn language.
Sementara itu, dalam Wikipedia, Psycholinguistics didefinisikan sebagai sebuah ilmu pengetahuan
yang mempelajari faktor-faktor psikologi dan neurobiologi yang memungkinkan
manusia untuk memperoleh, menggunakan dan memahami bahasa.
Dalam
kaitan ini Levelt (Marat,1983: 1) memberi definisi psikolinguistik sebagai suatu studi mengenai penggunaan
dan perolehan bahasa oleh manusia. Kridalaksana (1982: 140) pun berpendapat
sama dengan menyatakan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari
hubungan antara bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia serta kemampuan
berbahasa dapat diperoleh.
Sejalan dengan pendapat di atas Slobin
(Chaer,2003: 5) mengemukakan bahwa psikolinguistik mencoba menguraikan
proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan
kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi dan bagaimana
kemampuan bahasa diperoleh manusia. Secara lebih rinci Chaer (2003: 6)
berpendapat bahwa psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat
struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu
bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.
Otak
Anda mengendalikan semua fungsi tubuh Anda. Otak merupakan pusat dari
keseluruhan tubuh Anda. Jika otak Anda sehat, maka akan mendorong kesehatan
tubuh serta menunjang kesehatan mental Anda. Sebaliknya, apabila otak Anda
terganggu, maka kesehatan tubuh dan mental Anda bisa ikut terganggu. Otak merupakan
organ yang paling rumit. Membahas tentang fungsi otak secara detail bisa
memakan waktu berhari-hari. Oleh karena itu disini kita akan membahas anatomi
dan fungsi otak secara garis besarnya saja sekedar membuat Anda paham
bagian-bagian dan fungsi otak Anda sendiri.
ISI
Bagian otak dan fungsinya
Otak terdiri dari dua belahan (hemisfer) yakni,
hemisfer kiri dan kanan. Fungsi otak kiri terutama berperan dalam perkembangan
bahasa dan bicara, karena mengatur kemampuan berbicara, pengucapan kalimat dan
kata, pengertian pembicaraan orang, mengulang kata dan kalimat, disamping
kemampuan berhitung, membaca, dan menulis.
Fungsi otak kanan berperan dalam bahasa non verbal seperti
penekanan dan irama kata, pengenalan situasi dan kondisi, pengendalian emosi,
kesenian, kreativitas, dan berpikir holistik.
Kedua belahan otak berhubungan melalui suatu jalinan serabut
saraf, dan kerja sama terjadinya melalui suatu bagian yang disebut korpus
kalosum, walau pada kenyataannya dalam aktivitas tertentu hanya salah satu
belahan otak yang berperan .
Hemisfer kiri memang dominan untuk bicara-bahasa, tetapi
tanpa aktivitas hemisfer kanan, maka seseorang akan menjadi monoton tak ada
prosodi, tak ada lagu kalimat; tampak adanya emosi; tanpa disertai
isyarat-isyarat bahasa. Fungsi bicara-bahasa dipusatkan pada hemisfer
kiri bagi orang yang tidak kidal. Hemisfer kiri ini disebut dengan hemisfer
dominan bagi bahasa, dan korteksnya dinamakan korteks bahasa.
Hemisfer dominan secara morfologis lebih berat, lebih besar
girusnya dan lebih panjang. Hemisfer kiri memunyai arti penting bagi
bicara-bahasa, juga berperan untuk fungsi memori verbal. Sementara hemisfer
kanan berfungsi untuk emosi, lagu, isyarat (gesture), baik yang emosional
maupun verbal.
Fungsi otak dalam pembelajaran
bahasa
Untuk menghasilkan kata yang diucapkan, seseorang pertama
harus memilih kata dari kamus mental. Ini proses
akses leksikon mengaktifkan
area Wernicke, yang kemudian menafsirkan entri leksikal,
mengidentifikasi makna kata, bagaimana mengucapkannya, dan sebagainya. Informasi
fonetik untuk kata (bagaimana mengucapkannya) dikirim melalui fasciculus arkuata
ke daerah Broca. Maka
daerah Broca menentukan apa kombinasi berbagai artikulator
diperlukan untuk memproduksi
masing-masing suara dalam kata
dan menginstruksikan motor
korteks yang otot
untuk bergerak.
Lihat
table 1 dibawah ini
|
Produksi kata
|
||
|
langkah
1
|
Wernicke's
area
|
ketika mengakses leksikon; menafsirkan entri leksikal
|
|
langkah
2
|
Broca's
area
|
menafsirkan informasi yang diterima dari
fasciculus arkuata, mengirimkan informasi artculatory motor korteks
|
|
langkah
3
|
Motor
cortex
|
motor korteks mengarahkan
gerakan otot untuk mengucapkan kata
|
1. Daerah Broca
Proses dari mengidentifikasi bagian-bagian dari otak
tersebut yang berhubungan di dalam bahasa dimulai pada tahun 1861, ketika Paul
Broca, seorang ahli bedah otak Perancis, memeriksa otak dari pasien yang baru
meninggal yang memiliki penyakit yang tidak biasa. Terlebih dahulu dia
telah dapat memahami bahasa berbicara dan tidak memiliki kerusakan motorik dari
mulut atau lidah yang mungkin memengaruhi kemampuannya untuk berbicara, baik
dia dapat berbicara dengan kalimat yang sempurna maupun dengan
jelas menuangkan pikirannya ke dalam tulisan. Hanya melafalkan bunyi suku kata
yang dapat dia buat “Tan”, yang sampai digunakan sebagai namanya.
Ketika otak Tan diotopsi Broca, dia
menemukan luka yang cukup besar di dalam kulit otak sebelah kiri. Sesudah itu,
Broca mempelajari delapan pasien lainnya, semuanya telah memiliki kekurangan
bahasa yang serupa dengan luka di dalam lobus depan hemisfer sebelah kiri
mereka. Hal ini mendorongnya untuk membuat pernyataan terkenalnya “Kita
berbicara dengan hemisfer sebelah kiri” dan untuk mengidentifikasi, untuk
pertama kalinya, keberadaan dari “pusat bahasa” di dalamnya yang kemudian dari
lobus depan hemisfer ini. Sekarang yang dikenal sebagai “daerah broca”, hal ini
adalah fakta bahwa daerah pertama dari otak yang dihubungkan dengan
fungsinya secara spesifik – dalam kasus ini adalah bahasa.
2.
Daerah Wernicke
Sepuluh
tahun kemudian, Carl Wernicke, seorang neurologis Jerman, menemukan
bagian lainnya dari otak, yang satu ini menyangkut di dalam
memahami bahasa, yang kemudian dari lobus belakang hemisfer sebelah
kiri. Orang yang memiliki luka pada daerah ini dapat berbicara, tetapi
kemampuan berbicara seringkali membingungkan dan tidak masuk akal.
Pengamatan
Wernicke telah banyak sekali ditetapkan sejak itu. Para peneliti
otak sekarang setuju bahwa yang menjalankan sulcus lateral (juga
dikenal sabagai celah dari Silvius) di dalam hemisfer sebelah
kiri dari otak, di sana terdapat simpul syaraf pendek yang menghubungkan
keduanya di dalam memahami dan di dalam menghasilkan ujaran bahasa.
Pada daerah depan otak akhir dari simpulan ini berada di daerah Broca,
yang mana biasanya dihubungkan dengan menghasilkan bahasa, atau keluaran
bahasa. Di akhir yang lain (lebih secara spesifik lagi, di dalam lobus
belakang), berada daerah Wernicke, yang mana dihubungkan dengan proses dari
kata-kata yang kita dengar menjadi ujaran , atau masukkan-masukkan
bahasa. Daerah Broca dan Wernicke disambungkan oleh berkas syaraf
fiber yang besar yang disebut dengan arcuate fasciculus.
Simpulan
bahasa ini telah ditemukan di dalam hemisfer sebelah kiri sekitar
90% dari orang sebelah kanan dan 70% dari orang sebelah kiri,
bahasa menjadi salah satu fungsi bahwa melakuan secara asimetris di dalam otak.
Secara mengejutkan, simpula ini juga ditemukan pada tempat yang sama di dalam
orang tuli yang menggunakan bahasa simbol. Oleh karena itu, simpul ini
seharusnya tidak muncul menjadi spesifik untuk mendengar atau ujaran
bahasa, tetapi agak lebih menjadi lebih halus dihubungkan dengan apapun
secara pemilihan bahasa individu yang terjadi dilakukan.
Masalah
umum yang diceritakan di dalam percobaan lainnya untuk menentukan lokasi dari
fungsi-fungsi otak bahwa setiap otak itu unik. Hanya seperti setiap orang
biasanya yang memiliki lima jari, tetapi jari-jari orang itu berbeda, semua
otak manusia memiliki struktur otak utama yang sama, tetapi ukuran dan bentuk
dari struktur tersebut dapat bervariasi dari satu orang dengan yang lainnya –
sebanyak beberapa milimeter. Ukuran rata-rata dapat digunakan, tentunya, di
dalam pembelajaran mengenai otak, tetapi sisa faktanya bahwa jenis yang sama
dari luka tidak akan selalu karena secara tepatnya jenis yang sama dari
pengurangan di dalam beberapa perbedaan secara individual.
Tabel 3
Kerusakan pada daerah Broca dan Wernicke
|
Kerusakan
daerah Broca
(apasia
broca)
|
Kerusakan
daerah Wernicke
(apasia
wernicke)
|
|
Menghalangi
seseorang untuk menghasilkan sebuah ujaran
|
Kehilangan
pemahaman kemampuan berbahasa
|
|
Seseorang
dapat memahami bahasa
|
Seseorang
dapat berbicara dengan sangat jelas, tetapi kata-kata yang dibuat tidak masuk
akal. Ini yang disebut dalam berbicara dengan “salad kata” karena itu
kelihatan kata-kata semuanya dicampurkan seperti sayuran di dalam salad.
|
|
Kata-kata
tidak dibentuk dengan baik
|
|
|
Ujaran
pelan dan menyatu
|
(Sumber:
Robert J. Sternberg, Psikologi Kognitif, 2008)
Tidak
hanya terdapat afasia wernicke dan broca saja tetapi masih ada beberapa macam
afasia lainnya, yaitu afasia anomik, afasia global, dan afasia konduksi,
selain itu ada juga beberapa gangguan bahasa lainnya seperti disaatria,
agnosia atau dimensia, disleksia aleksia, disleksia agrafia dan stroke.
Afasia anomik: kerusakan otak terjadi pada bagian depan dari lobus
parietal dengan lobus temporal. Gangguan wicaranya tampak pada ketidakmampuan
penderita untuk mengaitkan konsep dan bunyi atau kata yang mewakilinya. Jadi,
kalau kepada pasien ini diminta untuk mengambil benda yang bernama gunting, dia
akan bisa melakukannya. Akan tetapi, kalau kepadanya ditunjukkan gunting, dia
tidak akan dapat mengatakan nama benda itu.
Afasia
global: pada afasia ini kerusakan terjadi tidak pada satu
atau dua daerah saja tetapi di beberapa daerah yang lain; kerusakan bisa
menyebar dari daerah broca, melewati korteks motor, menuju lobus parietal, dan
sampai ke daerah wernicke. Luka yang sangat luas ini tentunya mengakibatkan gangguan
fisikal dan verbal yang sangat besar. Dari segi fisik, penderita bisa lumpuh di
sebelah kanan, mulut bisa mencong, dan lidah bisa menjadi tidak cukup
fleksibel. Dari segi verbal, dia bisa kesukaran memahami ujaran orang, ujaran
tidak mudah dimengerti orang, dan kata-kata dia tidak diucapkan dengan cukup
jelas.
Afasia
konduksi: bagian otak yang rusak pada afasia macam ini
adalah fiber-fiber yang ada pada fasikulus arkuat yang menghubungkan lobus
frontal dengan lobus temporal. Karena hubungan daerah broca di lobus frontal
yang menangani produksi dengan daerah wernicke di lobus temporal yang
menanganikomprehensi terputus maka pasien afasia konduksi tidak dapat mengulang
kata yang baru saja diberikan kepadanya. Dia dapat memahami apa yang dikatakan
orang. Misalnya, dia akan dapat mengambil pena yang terletak di meja, kalau
disuruh demikian. Dia juga akan dapat berkata pena itu di meja, tetapi dia
tidak akan dapat menjawab secara lisan pertanyaan di mana penanya? Bisa
terjadi, dia ditanya tentang A, yang dijawab adalah tentang B, atau C.
Disaartria
adalah gangguan yang berupa lafal yang tidak jelas, tetapi ujarannya utuh.
Gangguan seperti ini terjadi karena bagian yang rusak pada otak hanyalah
korteks motor saja sehingga mungkin hanya lidah, bibir, atau rahangnya saja
yang berubah. Agnosia atau demensia adalah gangguan pada
pembuatan ide. Penderita tidak dapat memfokuskan ide yang akan dikatakan dengan
baik sehingga isi ujaran bisa loncat-loncat ke sana kemari. Aleksia
adalah hilangnya kemampuan untuk membaca sedangkan agrafia adalah
hilangnya kemampuan untuk menulis dengan huruf-huruf normal. Kedua penyakit ini
disebut pula sebagai disleksia.
Pengaruh
stroke tidak terbatas hanya pada gangguan wicara saja. Ada
gangguan-gangguan lain yang tidak langsung berkaitan dnegan bahasa. Penderita
apraksia, misalnya, tidak dapat melakukan gerakan-gerakan tertentu (seperti
memindahkan mainan balok dari tempat A ke B), meskipun dia tidak menderita
cacat lumpuh tangan. Penderita ataksia kehilangan kemampuan untuk
melakukan gerakan-gerakan muskuler yang volunter.
3. Daerah motor kortex
Satu daerah lagi yang terlibat dalam proses ujaran adalah daerah korteks ujaran superior atau daerah motor suplementer. Dapat disimpulkan bahwa ujaran didengar dan dipahami melalui daerah Wernicke pada hemisfer kiri, lalu isyarat ujaran itu dipindahkan kedalam Broca untuk menghasilkan balasan ujaran itu. Kemudian dikirimkan kedalam motor suplementer untuk menghasilkan ujaran secara fisik.
Kesimpulan
Otak terdiri dari 2 belahan yaitu belahan kiri dan kanan
yang mana otak sebelah kiri berfungsi terutama berperan dalam perkembangan
bahasa dan bicara, karena mengatur kemampuan berbicara, pengucapan kalimat dan
kata, pengertian pembicaraan orang, mengulang kata dan kalimat, disamping
kemampuan berhitung, membaca, dan menulis. Sedangkan fungsi otak kanan berperan
dalam bahasa non verbal seperti penekanan dan irama kata, pengenalan situasi
dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian, kreativitas, dan berpikir holistik.
Dalam memproduksi kata atau kalimat ada 3 daerah bagian otak
yang terlibat yakni yang pertama wernike’s area yang mana akan mengakses leksikon; menafsirkan
entri leksikal,
kedua broca’s area yang menafsirkan informasi yang diterima dari fasciculus
arkuata, kemudian mengirimkan informasi ke articulator motor korteks. Ketiga
daerah motor korteks yang mengarahkan gerakan otot untuk mengucapkan kata
Komentar