Fungsi Otak dalam Psycoliguistic





KEPALA DAN BAHASA

PENDAHULUAN
            Psycholinguistics atau the psychology of language merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang membahas tentang proses-proses pemerolehan dan penggunaan bahasa ditinjau dari segi psikologi (Nan Bernstein Ratner, dkk. 1998). 

Pada umumnya, psycholinguistics mempelajari tiga hal utama (Clark & Clark, 1977; Tanenhaus, 1989):
1.Comprehension: How people understand spoken and written language.
2.Speech Production: How people produce language.
3.Acquisition: How people learn language.
Sementara itu, dalam Wikipedia, Psycholinguistics didefinisikan sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari faktor-faktor psikologi dan neurobiologi yang memungkinkan manusia untuk memperoleh, menggunakan dan memahami bahasa.
Dalam kaitan ini Levelt (Marat,1983: 1) memberi definisi psikolinguistik sebagai suatu studi mengenai penggunaan dan perolehan bahasa oleh manusia. Kridalaksana (1982: 140) pun berpendapat sama dengan menyatakan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia serta kemampuan berbahasa dapat diperoleh.
Sejalan dengan pendapat di atas Slobin (Chaer,2003: 5) mengemukakan bahwa psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan bahasa diperoleh manusia. Secara lebih rinci Chaer (2003: 6) berpendapat bahwa  psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.
            Otak Anda mengendalikan semua fungsi tubuh Anda. Otak merupakan pusat dari keseluruhan tubuh Anda. Jika otak Anda sehat, maka akan mendorong kesehatan tubuh serta menunjang kesehatan mental Anda. Sebaliknya, apabila otak Anda terganggu, maka kesehatan tubuh dan mental Anda bisa ikut terganggu. Otak merupakan organ yang paling rumit. Membahas tentang fungsi otak secara detail bisa memakan waktu berhari-hari. Oleh karena itu disini kita akan membahas anatomi dan fungsi otak secara garis besarnya saja sekedar membuat Anda paham bagian-bagian dan fungsi otak Anda sendiri.
ISI
Bagian otak dan fungsinya
Otak terdiri dari dua belahan (hemisfer) yakni, hemisfer kiri dan kanan. Fungsi otak kiri terutama berperan dalam perkembangan bahasa dan bicara, karena mengatur kemampuan berbicara, pengucapan kalimat dan kata, pengertian pembicaraan orang, mengulang kata dan kalimat, disamping kemampuan berhitung, membaca, dan menulis.
Fungsi otak kanan berperan dalam bahasa non verbal seperti penekanan dan irama kata, pengenalan situasi dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian, kreativitas, dan berpikir holistik.
Kedua belahan otak berhubungan melalui suatu jalinan serabut saraf, dan kerja sama terjadinya melalui suatu bagian yang disebut korpus kalosum, walau pada kenyataannya dalam aktivitas tertentu hanya salah satu belahan otak yang berperan .
                                                          
Hemisfer kiri memang dominan untuk bicara-bahasa, tetapi tanpa aktivitas hemisfer kanan, maka seseorang akan menjadi monoton tak ada prosodi, tak ada lagu kalimat; tampak adanya emosi; tanpa disertai isyarat-isyarat  bahasa. Fungsi bicara-bahasa dipusatkan pada hemisfer kiri bagi orang yang tidak kidal. Hemisfer kiri ini disebut dengan hemisfer dominan bagi bahasa, dan korteksnya dinamakan korteks bahasa.
Hemisfer dominan secara morfologis lebih berat, lebih besar girusnya dan lebih panjang. Hemisfer kiri memunyai arti penting bagi bicara-bahasa, juga berperan untuk fungsi memori verbal. Sementara hemisfer kanan berfungsi untuk emosi, lagu, isyarat (gesture), baik yang emosional maupun verbal.

Fungsi otak dalam pembelajaran bahasa
Untuk menghasilkan kata yang diucapkan, seseorang pertama harus memilih kata dari kamus mental. Ini proses akses leksikon mengaktifkan area Wernicke, yang kemudian menafsirkan entri leksikal, mengidentifikasi makna kata, bagaimana mengucapkannya, dan sebagainya. Informasi fonetik untuk kata (bagaimana mengucapkannya) dikirim melalui fasciculus arkuata ke daerah Broca. Maka daerah Broca menentukan apa kombinasi berbagai artikulator diperlukan untuk memproduksi masing-masing suara dalam kata dan menginstruksikan motor korteks yang otot untuk bergerak.
Lihat table 1 dibawah ini
Produksi kata
langkah 1
Wernicke's area
ketika mengakses leksikon; menafsirkan entri leksikal
langkah 2
Broca's area
menafsirkan informasi yang diterima dari fasciculus arkuata, mengirimkan     informasi artculatory motor korteks

langkah 3
Motor cortex
motor korteks mengarahkan gerakan otot untuk mengucapkan kata







 



1.      Daerah Broca
Proses dari mengidentifikasi bagian-bagian dari otak tersebut yang berhubungan di dalam bahasa dimulai pada tahun 1861, ketika Paul Broca, seorang ahli bedah otak Perancis, memeriksa otak dari pasien yang baru meninggal  yang memiliki penyakit yang tidak biasa. Terlebih dahulu dia telah dapat memahami bahasa berbicara dan tidak memiliki kerusakan motorik dari mulut atau lidah yang mungkin memengaruhi kemampuannya untuk berbicara, baik dia dapat berbicara dengan kalimat yang sempurna maupun   dengan jelas menuangkan pikirannya ke dalam tulisan. Hanya melafalkan bunyi suku kata yang dapat dia buat “Tan”, yang sampai digunakan sebagai namanya.


Ketika otak Tan diotopsi Broca, dia menemukan luka yang cukup besar di dalam kulit otak sebelah kiri. Sesudah itu, Broca mempelajari delapan pasien lainnya, semuanya telah memiliki kekurangan bahasa yang serupa dengan luka di dalam lobus depan hemisfer sebelah kiri mereka. Hal ini  mendorongnya untuk membuat pernyataan terkenalnya “Kita berbicara dengan hemisfer sebelah kiri” dan untuk mengidentifikasi, untuk pertama kalinya, keberadaan dari “pusat bahasa” di dalamnya yang kemudian dari lobus depan hemisfer ini. Sekarang yang dikenal sebagai “daerah broca”, hal ini adalah fakta bahwa  daerah pertama dari otak yang dihubungkan dengan fungsinya secara spesifik – dalam kasus ini adalah bahasa.
2.      Daerah Wernicke
Sepuluh tahun kemudian,  Carl Wernicke, seorang neurologis  Jerman, menemukan bagian lainnya  dari otak,  yang satu ini menyangkut di dalam memahami bahasa, yang kemudian dari lobus belakang  hemisfer sebelah kiri.  Orang yang memiliki luka pada daerah ini dapat berbicara, tetapi kemampuan berbicara seringkali membingungkan dan tidak masuk akal.
Pengamatan Wernicke telah banyak  sekali ditetapkan sejak itu. Para  peneliti otak sekarang setuju  bahwa yang menjalankan  sulcus lateral (juga dikenal sabagai  celah dari  Silvius)  di dalam hemisfer sebelah kiri dari otak, di sana terdapat simpul syaraf pendek yang menghubungkan keduanya  di dalam memahami dan di dalam menghasilkan ujaran bahasa.  Pada daerah depan otak akhir dari  simpulan ini  berada di daerah Broca, yang mana biasanya dihubungkan dengan menghasilkan bahasa, atau keluaran bahasa. Di akhir yang lain (lebih secara spesifik lagi, di dalam lobus belakang), berada daerah Wernicke, yang mana dihubungkan dengan proses dari kata-kata yang kita dengar menjadi ujaran , atau masukkan-masukkan  bahasa.  Daerah Broca dan Wernicke disambungkan oleh  berkas syaraf fiber yang besar yang disebut dengan arcuate fasciculus.

Simpulan bahasa ini telah ditemukan di dalam hemisfer sebelah kiri sekitar  90%  dari orang sebelah kanan dan  70%  dari orang sebelah kiri, bahasa menjadi salah satu fungsi bahwa melakuan secara asimetris di dalam otak. Secara mengejutkan, simpula ini juga ditemukan pada tempat yang sama di dalam orang tuli yang menggunakan bahasa simbol. Oleh karena itu, simpul ini seharusnya tidak muncul menjadi spesifik untuk mendengar atau ujaran bahasa,  tetapi agak lebih menjadi lebih halus dihubungkan dengan apapun secara  pemilihan bahasa individu yang terjadi dilakukan.
Masalah umum yang diceritakan di dalam percobaan lainnya untuk menentukan lokasi dari fungsi-fungsi otak bahwa setiap otak itu unik. Hanya seperti setiap orang biasanya yang memiliki lima jari, tetapi jari-jari orang itu berbeda, semua otak manusia memiliki struktur otak utama yang sama, tetapi ukuran dan bentuk dari struktur tersebut dapat bervariasi dari satu orang dengan yang lainnya – sebanyak beberapa milimeter. Ukuran rata-rata dapat digunakan, tentunya, di dalam pembelajaran mengenai otak, tetapi sisa faktanya bahwa jenis yang sama dari luka tidak akan selalu karena secara tepatnya jenis yang sama dari pengurangan di dalam beberapa perbedaan secara individual.
Tabel 3
Kerusakan pada daerah Broca dan Wernicke
Kerusakan daerah Broca
(apasia broca)
Kerusakan daerah Wernicke
(apasia wernicke)
Menghalangi seseorang untuk menghasilkan sebuah ujaran
Kehilangan pemahaman kemampuan berbahasa
Seseorang dapat memahami bahasa
Seseorang dapat berbicara dengan sangat jelas, tetapi kata-kata yang dibuat tidak masuk akal. Ini yang disebut dalam berbicara dengan “salad kata”  karena itu kelihatan kata-kata semuanya dicampurkan seperti sayuran di dalam salad.
Kata-kata tidak dibentuk dengan baik

Ujaran pelan dan menyatu

(Sumber: Robert  J. Sternberg, Psikologi Kognitif, 2008)
Tidak hanya terdapat afasia wernicke dan broca saja tetapi masih ada beberapa macam afasia lainnya, yaitu afasia anomik, afasia global, dan afasia konduksi, selain itu ada juga beberapa gangguan bahasa lainnya seperti disaatria, agnosia atau dimensia, disleksia aleksia, disleksia agrafia dan stroke. Afasia anomik: kerusakan otak terjadi pada bagian depan dari lobus parietal dengan lobus temporal. Gangguan wicaranya tampak pada ketidakmampuan penderita untuk mengaitkan konsep dan bunyi atau kata yang mewakilinya. Jadi, kalau kepada pasien ini diminta untuk mengambil benda yang bernama gunting, dia akan bisa melakukannya. Akan tetapi, kalau kepadanya ditunjukkan gunting, dia tidak akan dapat mengatakan nama benda itu.
Afasia global: pada afasia ini kerusakan terjadi tidak pada satu atau dua daerah saja tetapi di beberapa daerah yang lain; kerusakan bisa menyebar dari daerah broca, melewati korteks motor, menuju lobus parietal, dan sampai ke daerah wernicke. Luka yang sangat luas ini tentunya mengakibatkan gangguan fisikal dan verbal yang sangat besar. Dari segi fisik, penderita bisa lumpuh di sebelah kanan, mulut bisa mencong, dan lidah bisa menjadi tidak cukup fleksibel. Dari segi verbal, dia bisa kesukaran memahami ujaran orang, ujaran tidak mudah dimengerti orang, dan kata-kata dia tidak diucapkan dengan cukup jelas.
Afasia konduksi: bagian otak yang rusak pada afasia macam ini adalah fiber-fiber yang ada pada fasikulus arkuat yang menghubungkan lobus frontal dengan lobus temporal. Karena hubungan daerah broca di lobus frontal yang menangani produksi dengan daerah wernicke di lobus temporal yang menanganikomprehensi terputus maka pasien afasia konduksi tidak dapat mengulang kata yang baru saja diberikan kepadanya. Dia dapat memahami apa yang dikatakan orang. Misalnya, dia akan dapat mengambil pena yang terletak di meja, kalau disuruh demikian. Dia juga akan dapat berkata pena itu di meja, tetapi dia tidak akan dapat menjawab secara lisan pertanyaan di mana penanya? Bisa terjadi, dia ditanya tentang A, yang dijawab adalah tentang B, atau C.
Disaartria adalah gangguan yang berupa lafal yang tidak jelas, tetapi ujarannya utuh. Gangguan seperti ini terjadi karena bagian yang rusak pada otak hanyalah korteks motor saja sehingga mungkin hanya lidah, bibir, atau rahangnya saja yang berubah. Agnosia atau demensia adalah gangguan pada pembuatan ide. Penderita tidak dapat memfokuskan ide yang akan dikatakan dengan baik sehingga isi ujaran bisa loncat-loncat ke sana kemari. Aleksia adalah hilangnya kemampuan untuk membaca sedangkan agrafia adalah hilangnya kemampuan untuk menulis dengan huruf-huruf normal. Kedua penyakit ini disebut pula sebagai disleksia.
Pengaruh stroke tidak terbatas hanya pada gangguan wicara saja. Ada gangguan-gangguan lain yang tidak langsung berkaitan dnegan bahasa. Penderita apraksia, misalnya, tidak dapat melakukan gerakan-gerakan tertentu (seperti memindahkan mainan balok dari tempat A ke B), meskipun dia tidak menderita cacat lumpuh tangan. Penderita ataksia kehilangan kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan muskuler yang volunter.
3.      Daerah motor kortex

Satu daerah lagi yang terlibat dalam proses ujaran adalah daerah korteks ujaran superior atau daerah motor suplementer. Dapat disimpulkan bahwa ujaran didengar dan dipahami melalui daerah Wernicke pada hemisfer kiri, lalu isyarat ujaran itu dipindahkan kedalam Broca untuk menghasilkan balasan ujaran itu. Kemudian dikirimkan kedalam motor suplementer untuk menghasilkan ujaran secara fisik.


Kesimpulan
Otak terdiri dari 2 belahan yaitu belahan kiri dan kanan yang mana otak sebelah kiri berfungsi terutama berperan dalam perkembangan bahasa dan bicara, karena mengatur kemampuan berbicara, pengucapan kalimat dan kata, pengertian pembicaraan orang, mengulang kata dan kalimat, disamping kemampuan berhitung, membaca, dan menulis. Sedangkan fungsi otak kanan berperan dalam bahasa non verbal seperti penekanan dan irama kata, pengenalan situasi dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian, kreativitas, dan berpikir holistik.
Dalam memproduksi kata atau kalimat ada 3 daerah bagian otak yang terlibat yakni yang pertama wernike’s area yang mana akan mengakses leksikon; menafsirkan entri leksikal, kedua broca’s area yang menafsirkan informasi yang diterima dari fasciculus arkuata, kemudian mengirimkan informasi ke articulator motor korteks. Ketiga daerah motor korteks yang mengarahkan gerakan otot untuk mengucapkan kata






Komentar

Postingan populer dari blog ini

My First Post