ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN NOVEL “SANG PEMIMPI”
SKRIPSI
ANALISIS
NILAI-NILAI PENDIDIKAN
NOVEL “SANG
PEMIMPI”
Karya Andrea
Hirata
ABSTRAK
Andika Nugroho, Candra Novita
Hariani, Reni Widiantika. ANALISIS NILAI-NILAI
PENDIDIKAN NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA. Skripsi.
Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret
Surakarta, Agustus 2010.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) nilai-nilai pendidikan
yang digunakan pengarang dalam novel Sang Pemimpi.
Penelitian
ini berbentuk deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode content
analysis. Sumber data adalah novel Sang Pemimpi cetakan ke-15 dan
artikel-artikel dari internet. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik
catat. Validitas yang digunakan adalah triangulasi teori. Teknik analisis data
yang digunakan adalah analisis mengalir (flow model of analysis) yang
meliputi tiga komponen yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan. Prosedur penelitian yang dilakukan terdiri atas beberapa tahap
yaitu pengumpulan data, penyeleksian data, menganalisis data yang telah
diseleksi, dan membuat laporan penelitian.
Berdasarkan
hasil penelitian dapat disimpulkan: dalam novel Sang Pemimpi Andrea
Hirata ingin menyampaikan nilai-nilai pendidikan yang sangat bermanfaat bagi
para pembaca dengan menghidupkan isi cerita di dalamnya, sehingga dapat menjadi
lebih hidup dan menambah variasi serta menghindari hal-hal yang bersifat
monoton yang dapat membuat pembaca bosan. Nilai-nilai pendidikan yang terdapat
dalam novel Sang Pemimpi, berdasarkan hasil analisis terdiri atas empat
nilai. Nilai-nilai pendidikan tersebut yaitu: (a) nilai pendidikan religius
merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta alam dan
seisinya, dalam novel Sang Pemimpi, (b) nilai pendidikan moral yaitu
suatu nilai yang menjadi ukuran patut tidaknya manusia bergaul dalam kehidupan
bermasyarakat, dalam novel Sang Pemimpi, (c) nilai pendidikan sosial
yaitu suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek,
gagasan, atau orang, dalam novel Sang Pemimpi.
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan kesehatan, karunia, rahmat, dan
hidayah-Nya kepada kita semua, terutama penulis dan keluarga. Hanya kepada-Nya
kembali segala sanjungan, kepada-Nya kami memohon pertolongan dan ampunan, dan
atas ridlonya sehingga penulis mampu menyusun skripsi ini dengan baik, yang
merupakan persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Dalam
Penyusunan skripsi ini, penulis menyadari tidak dapat bekerja seorang diri
melainkan bekerja sama dengan berbagai pihak. Maka atas terselesaikannya
skripsi ini, penulis meyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. Gatot Sarmidi Kaprodi
Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Kanjuruhan Malang yang telah
membimbing tugas ini hingga selesai.
2. Teman-teman kuliah kelas A
untuk khususnya teman kelompok Bahasa Indonesia yang senantiasa membantu dan
bekerjasama.
3. Keluargaku yang tidak lelah dan bosan memberi motivasi dan dukungan,
baik dukungan material maupun dukungan spiritual.
4. Bapak dan Ibu Dosen Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang
telah memberikan bekal ilmu kepada penulis;
7. Semua pihak yang telah
mendukung dan membantu sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas ini.
Penulis
telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tugas ini serta tidak
lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
proses penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga tugas ini dapat
memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan, khususnya dalam bidang
bahasa dan sastra Indonesia.
Malang, November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
JUDUL .............................................................................................................
i
ABSTRAK
.......................................................................................................
v
KATA PENGANTAR .....................................................................................
viii
DAFTAR ISI
....................................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR
.......................................................................................
xii
DAFTAR TABEL
............................................................................................
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
....................................................................................
xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
...................................................................... 1
B. Rumusan Masalah
................................................................................
4
C. Tujuan Penelitian ................................................................................
4
D. Manfaat Penelitian
..............................................................................
5
BAB II KAJIAN TEORITIK
A. Hakikat Novel
.................................................................................................6
1. Pengertian Novel
............................................................................. 6
2. Ciri-ciri Novel
.................................................................................
9
3.
Macam-macam
Novel......................................................................
9
B. Hakikat Nilai Pendidikan
..................................................................... 28
1. Pengertian Nilai
...............................................................................
28
2. Pengertian
Pendidikan......................................................................29
3. Macam-macam Nilai
Pendidikan.....................................................31
D. Penelitian Relevan
................................................................................
35
E. Kerangka Berpikir
................................................................................
37
BAB III TUJUAN
A. Tujuan dari penelitian ……………………………………………….
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
.............................................................. 39
B. Bentuk dan Strategi
Penelitian ............................................................. 39
C. Sumber Data
.........................................................................................
40
D. Teknik Pengumpulan Data
................................................................... 40
E. Validitas Data
.......................................................................................
40
F. Analisis Data
........................................................................................
40
G. Prosedur
Penelitian...............................................................................
42
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Analisis
Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Sang Pemimpi .............. 94
1. Nilai
PendidikanReligius.................................................................94
2. Nilai Pendidikan
Moral....................................................................96
3. Nilai Pendidikan
Sosial....................................................................98
4. Nilai Pendidikan
Budaya................................................................101
BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI,
DAN SARAN
A. Simpulan
..............................................................................................
104
B. Implikasi
...............................................................................................
105
C. Saran
.....................................................................................................
106
DAFTAR PUSTAKA
......................................................................................
107
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar
1. Kerangka
Berpikir
................................................................................
40
2. Model Analisis
Mengalir......................................................................
43
3. Prosedur
Penelitian……………………………………………………44
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Cover Novel Sang Pemimpi
Karya Andrea Hirata…………………...107
2.
Tokoh-tokoh dalam Novel Sang Pemimpi ...........................................
108
3. Sinopsis
Novel Sang Pemimpi .............................................................
111
4. Biografi
Andrea Hirata
......................................................................... 114
5. Lain-lain
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra
merupakan wujud gagasan seseorang melalui pandangan terhadap lingkungan sosial
yang beraada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Sastra
hadir sebagai hasil perenungan pengarang terhadap fenomena yang ada. Sastra
sebagai karya fiksi memiliki pemahaman yang lebih mendalam, bukan hanya sekadar
cerita khayal atau angan dari pengarang saja, melainkan wujud dari kreativitas
pengarang dalam menggali dan mengolah gagasan yang ada dalam pikirannya.
Salah satu
bentuk karya sastra adalah novel. Novel adalah karya fiksi yang dibangun
melalui berbagai unsur intrinsiknya. Unsur-unsur tersebut sengaja dipadukan
pengarang dan dibuat mirip dengan dunia yang nyata lengkap dengan
peristiwa-peristiwa di dalamnya, sehingga nampak seperti sungguh ada dan
terjadi. Unsur inilah yang akan menyebabkan karya sastra (novel) hadir. Unsur
intrinsik sebuah novel adalah unsur yang secara langsung membangun sebuah
cerita. Keterpaduan berbagai unsur intrinsik ini akan menjadikan sebuah novel
yang sangat bagus.
Sang Pemimpi
diterbitkan pertama kali pada Juli 2006. Sejak kemunculan novel Sang
Pemimpi mendapatkan tanggapan positif dari penikmat sastra. Tingginya apresiasi
masyarakat terhadap novel Sang Pemimpi menjadikan novel tersebut masuk
dalam jajaran novel psikologi islami pembangun jiwa. Andrea Hirata telah
membuat lompatan langkah yang gemilang untuk mengikuti jejak sang legenda Buya
Hamka, berkarya dan mempunyai fenomena (Badrut Taman Gafas, 2005). Melalui
novel kontemporernya yang diperkaya dengan muatan budaya yang Islami, Andrea
Hirata seolah mengulang kesuksesan sang pujangga Buya Hamka yang karya-karyanya
popular hingga ke mancanegara seperti “Merantau Ke Deli”, “Di Bawah
Lindungan Ka’bah”, dan ”Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Meskipun
nilai yang mendasari novel tersebut bersumber dari Islam, berbagai kalangan
kaum beragama dan berkepercayaan dapat menerimanya tanpa ada perasaan terancam.
Cerita novel
Sang Pemimpi diperoleh dari mengeksplorasi kisah persahabatan dan
pendidikan di Indonesia. Ia mengemas novel Sang Pemimpi dengan bahasa
yang sederhana imajinatif, namun tetap memperhatikan kualitas isi. Membaca
novel Sang Pemimpi membuat pembaca seolah-olah melihat potret nyata
kehidupan masyarakat Indonesia. Hal itu seperti tanggapan salah seorang penikmat
novel Sang Pemimpi, yaitu Harnowo (editor senior dan penulis buku Mengikat
Makna) ia mengatakan bahwa, “kata-kata Andrea berhasil „menyihir‟ jiwaku. Dia dapat dikatakan mempunyai kemampuan mengolah kata sehingga
memesona yang membacanya” (Sang Pemimpi: sampul depan).
Meskipun
kisah yang terjadi dalam novel Sang Pemimpi sudah terjadi sangat lama,
akan tetapi pada kenyataannya kisah Sang Pemimpi masih ada di zaman
sekarang. Banyak pengamat sastra yang memberikan penilaian berkaitan dengan
suksesnya novel Sang Pemimpi. Suksesnya novel Sang Pemimpi disebabkan
novel tersebut muncul pada saat yang tepat yaitu pada waktu masyarakat
khususnya masyarakat yang merasa mengalami pendidikan yang sama seperti
beberapa tokoh yang terdapat dalam novel tersebut. Hal tersebut sejalan dengan
pernyataan yang disampaikan oleh Sapardi Djoko Darmono, seorang sastrawan dan
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI Ia menyatakan Sang Pemimpi merupakan
“Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan
kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas
pendidikan” (Ruktin Handayani: 2008).
Isi novel Sang
Pemimpi menegaskan bahwa keadaan ekonomi bukanlah menjadi hambatan
seseorang dalam meraih cita-cita dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
mencapai cita-citanya. Kemiskinan adalah penyakit sosial yang berada dalam
ruang lingkup materi sehingga tidak berkaitan dengan kemampuan otak seseorang.
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka peneliti berminat untuk menganalisis novel Sang
Pemimpi. Analisis terhadap novel Sang Pemimpi peneliti membatasi
pada nilai pendidikan. Alasan dipilih dari segi nilai pendidikan karena novel Sang
Pemimpi diketahui banyak memberikan inspirasi bagi pembaca, hal itu berarti
ada nilai-nilai positif yang dapat diambil dan direalisasikan oleh pembaca
dalam kehidupan sehari-hari mereka, khususnya dalam hal pendidikan. Pradopo
(1994: 94) mengungkapkan bahwa suatu karya sastra yang baik adalah yang
langsung memberi didikan kepada pembaca tentang budi pekerti dan nilai-nilai
moral, sesungguhnya hal ini telah menyimpang dari hukum-hukum karya sastra
sebagai karya seni dan menjadikan karya sastra sebagai alat pendidikan yang
langsung sedangkan nilai seninya dijadikan atau dijatuhkan nomor dua. Begitulah
paham pertama dalam penilaian karya sastra yang secara tidak langsung
disimpulkan dari corak-corak roman Indonesia yang mula-mula, ialah memberi
pendidikan dan nasihat kepada pembaca.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas dapat diketahui rumusan masalah yang timbul
dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Nilai-nilai pendidikan apa
sajakah yang ingin disampaikan oleh Andrea Hirata dalamnovel Sang Pemimpi?
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang
dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
Manfaat praktis, hasil
penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak, antara lain :
a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini
memberikan gambaran bagi guru tentang pendekatan struktural genetik untuk
dijadikan pedoman dalam pembelajaran sastra yang menarik, kreatif, dan
inovatif.
b. Bagi
Peneliti
Hasil penelitian ini dapat
menjadi jawaban dari masalah yang dirumuskan. Selain itu, dengan selesainya
penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk semakin
aktif menyumbangkan hasil karya ilmiah bagi dunia sastra dan pendidikan.
c. Bagi
Pembaca
Hasil penelitian ini bagi
pembaca diharapkan dapat lebih memahami isi novel Sang Pemimpi dan
mengambil manfaat darinya. Selain itu, diharapkan pembaca semakin jeli dalam
memilih bahan bacaan (khususnya novel) dengan memilih novel-novel yang
mengandung pesan moral yang baik dan dapat menggunakan hasil penelitian ini
untuk sarana pembinaan watak diri pribadi.
d. Bagi
Peneliti yang Lain
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan inspirasi maupun bahan pijakan peneliti ain untuk
melakukan penelitian yang lebih mendalam.
BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. Hakikat Novel
1. Pengertian Novel
Kata novel
berasal dari bahasa Itali novella yang secara harfiah berarti „sebuah
barang baru yang kecil‟, dan
kemudian diartikan sebagai „cerita pendek dalam bentuk prosa‟. (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2005: 9). Dalam bahasa Latin kata novel
berasal novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang
berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis lain, novel
ini baru muncul kemudian (Tarigan, 1995: 164).
Pendapat
Tarigan diperkuat dengan pendapat Semi (1993: 32) bahwa novel merupakan karya
fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan
disajikan dengan halus. Novel yang diartikan sebagai memberikan konsentrasi
kehidupan yang lebih tegas, dengan roman yang diartikan rancangannya lebih luas
mengandung sejarah perkembagan yang biasanya terdiri dari beberapa fragmen dan
patut ditinjau kembali.
Sudjiman
(1998: 53) mengatakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang menyuguhkan tokoh
dan menampilkan serangkaian peristiwa serta latar secara tersusun. Novel
sebagai karya imajinatif mengugkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang mendalam dan
menyajikannya secara halus. Novel tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga
sebagai bentuk seni yang mempelajari dan meneliti segi-segi kehidupan dan
nilai-nilai baik buruk (moral) dalam kehidupan ini dan mengarahkan pada pembaca
tentang budi pekerti yang luhur.
Saad (dalam
Badudu J.S, 1984 :51) menyatakan nama cerita rekaan untuk cerita-cerita dalam
bentuk prosa seperti: roman, novel, dan cerpen. Ketiganya dibedakan bukan pada panjang
pendeknya cerita, yaitu dalam arti jumlah halaman karangan, melainkan yang
paling utama ialah digresi, yaitu sebuah peristiwa-peristiwa yang secara tidak
langsung berhubungan dengan cerita peristiwa yang secara tidak langsung
berhubungan dengan cerita yang dimasukkan ke dalam cerita ini. Makin banyak
digresi, makin menjadi luas ceritanya.
Batos (dalam
Tarigan, 1995: 164) menyatakan bahwa novel merupakan sebuah roman,
pelaku-pelaku mulai dengan waktu muda, menjadi tua, bergerak dari sebuah adegan
yang lain dari suatu tempat ke tempat yang lain. Nurgiyantoro (2005: 15)
menyatakan, novel merupakan karya yang bersifat realistis dan mengandung nilai
psikologi yang mendalam, sehingga novel dapat berkembang dari sejarah,
surat-surat, bentuk-bentuk nonfiksi atau dokumen-dokumen, sedangkan roman atau
romansa lebih bersifat puitis. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa
novel dan romansa berada dalam kedudukan yang berbeda. Jassin (dalam
Nurgiyantoro, 2005: 16) membatasi novel sebagai suatu cerita yang bermain dalam
dunia manusia dan benda yang di sekitar kita, tidak mendalam, lebih banyak
melukiskan satu saat dari kehidupan seseorang dan lebih mengenai sesuatu
episode. Mencermati pernyataan tersebut, pada kenyataannya banyak novel
Indonesia yang digarap secara mendalam, baik itu penokohan maupun unsur-unsur
intrinsik lain. Sejalan dengan Nurgiyantoro, Hendy (1993: 225) mengemukakan
bahwa novel merupakan prosa yang terdiri dari serangkaian peristiwa dan latar.
Ia juga menyatakan, novel tidaklah sama dengan roman. Sebagai karya sastra yang
termasuk ke dalam karya sastra modern, penyajian cerita dalam novel dirasa
lebih baik.
Novel
biasanya memungkinkan adanya penyajian secara meluas (expands) tentang
tempat atau ruang, sehingga tidak mengherankan jika keberadaan manusia dalam
masyarakat selalu menjadi topik utama (Sayuti, 2000: 6-7). Masyarakat tentunya
berkaitan dengan dimensi ruang atau tempat, sedangkan tokoh dalam masyarakat
berkembang dalam dimensi waktu semua itu membutuhkan deskripsi yang mendetail supaya
diperoleh suatu keutuhan yang berkesinambungan. Perkembangan dan perjalanan
tokoh untuk menemukan karakternya, akan membutuhkan waktu yang lama, apalagi
jika penulis menceritakan tokoh mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Novel memungkinkan untuk menampung keseluruhan detail untuk perkembangkan tokoh
dan pendeskripsian ruang.
Novel oleh
Sayuti (2000: 7) dikategorikan dalam bentuk karya fiksi yang bersifat formal.
Bagi pembaca umum, pengategorian ini dapat menyadarkan bahwa sebuah fiksi
apapun bentuknya diciptakan dengan tujuan tertentu. Dengan demikian, pembaca
dalam mengapresiasi sastra akan lebih baik. Pengategorian ini berarti juga
bahwa novel yang kita anggap sulit dipahami, tidak berarti bahwa novel tersebut
memang sulit. Pembaca tidak mungkin meminta penulis untuk menulis novel dengan
gaya yang menurut anggapan pembaca luwes dan dapat dicerna dengan mudah, karena
setiap novel yang diciptakan dengan suatu cara tertentu mempunyai tujuan
tertentu pula.
Penciptaan
karya sastra memerlukan daya imajinasi yang tinggi. Menurut Junus (1989: 91),
mendefinisikan novel adalah meniru ”dunia kemungkinan”. Semua yang diuraikan di
dalamnya bukanlah dunia sesungguhnya, tetapi kemungkinan-kemungkinan yang
secara imajinasi dapat diperkirakan bisa diwujudkan. Tidak semua hasil karya
sastra arus ada dalam dunia nyata , namun harus dapat juga diterima oleh nalar.
Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan
pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang
terkandung dalam novel tersebut.
Sebagian
besar orang membaca sebuah novel hanya ingin menikmati cerita yang disajikan
oleh pengarang. Pembaca hanya akan mendapatkan kesan secara umum dan bagian
cerita tertentu yang menarik. Membaca sebuah novel yang terlalu panjang yang
dapat diselesaikan setelah berulang kali membaca dan setiap kali membaca hanya
dapat menyelesaikan beberapa episode akan memaksa pembaca untuk mengingat
kembali cerita yang telah dibaca sebelumnya. Hal ini menyebabkan pemahaman
keseluruhan cerita dari episode ke episode berikutnya akan terputus.
Dari
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah cerita
fiktif yang berusaha menggambarkan atau melukiskan kehidupan tokoh-tokohnya
dengan menggunakan alur. Cerita fiktif tidak hanya sebagai cerita khayalan
semata, tetapi sebuah imajinasi yang dihasilkan oleh pengarang adalah realitas
atau fenomena yang dilihat dan dirasakan.
2. Ciri-ciri Novel
Hendy (1993:
225) menyebutkan ciri-ciri novel sebagai berikut.
a. Sajian cerita lebih panjang
dari cerita pendek dan lebih pendek dari roman. Biasanya cerita dalam novel
dibagi atas beberapa bagian.
b. Bahan cerita diangkat dari
keadaan yang ada dalam masyarakat dengan ramuan fiksi pengarang.
c. Penyajian berita berlandas
pada alur pokok atau alur utama yang batang tubuh cerita, dan dirangkai dengan
beberapa alur penunjang yang bersifat otonom (mempunyai latar tersendiri).
d. Tema sebuah novel terdiri
atas tema pokok (tema utama) dan tema bawahan yang berfungsi mendukung tema
pokok tersebut.
e. Karakter tokoh-tokoh utama
dalam novel berbeda-beda. Demikian juga karakter tokoh lainnya. Selain itu,
dalam novel dijumpai pula tokoh statis dan tokoh dinamis. Tokoh statis adalah
tokoh yang digambarkan berwatak tetap sejak awal hingga akhir. Tokoh dinamis
sebaliknya, ia bisa mempunyai beberapa karakter yang berbeda atau tidak tetap.
Pendapat
tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri novel adalah cerita yang
lebih panjang dari cerita pendek, diambil dari cerita masyarakat yang diolah
secara fiksi, serta mempunyai unsur intrinsik dan ekstrinsik. Ciri-ciri novel
tersebut dapat menarik pembaca atau penikmat karya sastra karena cerita yang
terdapat di dalamnya akan menjadikan lebih hidup.
3. Macam-macam Novel
Ada beberapa
jenis novel dalam sastra. Jenis novel mencerminkan keragaman tema dan
kreativitas dari sastrawan yang tak lain adalah pengarang novel. Nurgiyantoro
(2005: 16) membedakan novel menjadi novel serius dan novel popular.
a. Novel Populer
Sastra
populer adalah perekam kehidupan dan tidak banyak memperbincangkan kembali
kehidupan dalam serba kemungkinan. Sastra popular menyajikan kembali
rekaman-rekaman kehidupan dengan tujuan pembaca akan mengenali kembali
pengalamannya. Oleh karena itu, sastra populer yang baik banyak mengundang
pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya (Kayam dalam Nurgiyantoro, 2005: 18).
Heryanto
dalam Salman (2009: 2) mengungkapkan ragam kesusastraan Indonesia, meliputi:
(1) kesusastraan yang diresmikan, diabsahkan, (2) kesusastraan yang dilarang,
(3) kesusastraan yang diremehkan, dan (4) kesusastraan yang dipisahkan.
Kesusastraan yang diresmikan (konon) adalah kesusastraan yang sejauh ini banyak
dipelajari di pendidikan (tinggi). Kesusastraan yang dilarang adalah
karya-karya yang dianggap menggangu status quo (kekuasaan) seperti yang
telah terjadi seperti zaman Balai Pustaka yaitu karya Marco Kartodikromo. Pada
zaman Orde Baru, karya-karya Pramudya Ananta Toer atau kasus cerpen karya Ki
Panji Kusmin, Langit Makin Mendung, menjadi contoh yang terlarang pula.
Sementara itu, karya sastra yang dipisahkan adalah karya sastra daerah yang ditulis
dalam bahasa daerah. Dalam posisi itu, karya sastra yang diremehkan adalah
karya sastra yang dianggap populer, sastra hiburan.
Berbicara
tentang sastra populer, Kayam dalam Nurgiyantoro (2005: 18) menyebutkan bahwa
sastra populer adalah perekam kehidupan dan tak banyak memperbincangkan kembali
kehidupan dalam serba kemungkinan . ia menyajikan kembali rekaan-rekaan
kehidupan itu dengan harapan pembaca akan mengenal kembali
pengalaman-pengalamannya sehingga merasa terhibur karena seseorang telah menceritakan
pengalamannya dan bukan penafsiran tentang emosi itu. Oleh karena itu, sastra
populer yang baik banyak mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya.
Hal seperti
itu dapat dilihat dari fenomena yang terjadi pada novel Cintapucino karya
Icha Rahmanti yang tahun lalu sempat diliris ke dalam bentuk film. Banyak
remaja khsusnya remaja puti yang mengungkapkan kesamaan kejadian di masa SMA
yang mirip dengan yang digambarkan oleh Icha Rahmanti dalam novelnya.
Adapun
pengkategorian novel sebagai novel serius atau novel populer bukanlah menjadi
hal baru dalam dunia sastra. Usaha ini tidak mudah dilakukan karena bersifat
riskan. Selain dipengaruhi oleh hal subjektif yang muncul dari pengamat, juga
banyak faktor dari luar yang menentukan. Misalnya, sebuah novel yang
diterbitkan oleh penerbit yang biasa menerbitkan karya sastra yang telah mapan,
karya tersebut akan dikategorikan sebagai karya yang serius, karya yang
bernilai tinggi, padahal pengamat belum membaca isi novel.
Kayam dalam
Nurgiyantoro (2005: 17) menyebutkan kata ”pop” erat diasosiasikan dengan kata
”populer”, mungkin karena novel-novel itu sengaja ditulis untuk ”selera
populer” yang kemudian dikenal sebagai ”bacaan populer”. Jadilah istilah pop
sebagai istilah baru dalam dunia sastra kita.
Nurgiyantoro
juga menjelaskan bahwa novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan
banyak penggemarnya, khususnya pembaca dikalangan remaja. Novel jenis ini
menampilkan masalah yang aktual pada saat novel itu muncul. Pada umumnya, novel
populer bersifat artifisial, hanya bersifat sementara, cepet ketinggalan zaman,
dan tidak memaksa orang untuk membacanyasekali lagi seiring dengan munculnya
novel-novel baru yang lebih populer pada masa sesudahnya (2005: 18). Di sisi
lain, novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati karena
semata-mata menyampaikan cerita (Stanton dalam Nurgiyantoro 2005: 19). Novel
populer tidak mengejar efek estetis seperti yang terdapat dalam novel serius.
Beracuan
dari beberapa pendapat di atas, ditarik sebuah simpulan bahwa novel popular
adalah cerita yang bisa dibilang tidak terlalu rumit. Alur cerita yang mudah
ditelusuri, gaya bahasa yang sangat mengena, fenomena yang diangkat terkesan
sangat dekat. Hal ini pulalah yang menjadi daya tarik bagi kalangan remaja
sebagai kalangan yang paling menggemari novel populer. Novel populer juga
mempunyai jalan cerita yang menarik, mudah diikuti, dan mengikuti selera
pembaca. Selera pembaca yang dimaksudkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan
kegemaran naluriah pembaca, seperti motif-motif humor dan heroisme sehingga
pembaca merasa tertarik untuk selalu mengikuti kisah ceritanya.
b. Novel Serius
Novel serius
atau yang lebih dikenal dengan sebutan novel sastra merupakan jenis karya
sastra yang dianggap pantas dibicarakan dalam sejarah sastra yang bermunculan
cenderung mengacu pada novel serius. Novel serius harus sanggup memberikan
segala sesuatu yang serba mungkin, hal itu yang disebut makna sastra yang
sastra. Novel serius yang bertujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca,
juga mempunyai tujuan memberikan pengalaman yang berharga dan mengajak pembaca
untuk meresapi lebih sungguh-sungguh tentang masalah yang dikemukakan.
Berbeda
dengan novel populer yang selalu mengikuti selera pasar, novel sastra tidak
bersifat mengabdi pada pembaca. Novel sastra cenderung menampilkan tema-tema
yang lebih serius. Teks sastra sering mengemukakan sesuatu secara implisit
sehingga hal ini bisa dianggap menyibukkan pembaca. Nurgiyantoro (2005: 18)
mengungkapkan bahwa dalam membaca novel serius, jika ingin memahaminya dengan
baik diperlukan daya konsentrasi yang tinggi disertai dengan kemauan untuk itu.
Novel jenis ini, di samping memberikan hiburan juga terimplisit tujuan
memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca atau paling tidak mengajak
pembaca untuk meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh-sungguh tentang
permasalahan yang dikemukakan.
Kecenderungan
yang muncul pada novel serius memicu sedikitnya pembaca yang berminat pada
novel sastra ini. Meskipun demikian, hal ini tidak menyebabkan popularitas
novel serius menurun. Justru novel ini mampu bertahan dari waktu ke waktu.
Misalnya, roman Romeo Juliet karya William Shakespeare atau karya Sutan
Takdir, Armin Pane, Sanusi Pane yang memunculkan polemik yang muncul pada
dekade 30-an yang hingga saat ini masih dianggap relevan dan belum ketinggalan
zaman (Nurgiyantoro, 2005:21).
Beracuan
dari pendapat di atas, ditarik sebuah simpulan bahwa novel serius adalah novel
yang mengungkapkan sesuatu yang baru dengan cara penyajian yang baru pula.
Secara singkat disimpulkan bahwa unsur kebaruan sangat diutamakan dalam novel
serius. Di dalam novel serius, gagasan diolah dengan cara yang khas. Hal ini
penting mengingat novel serius membutuhkan sesuatu yang baru dan memiliki ciri
khas daripada novel-novel yang telah dianggap biasa. Sebuah novel diharapkan
memberi kesan yang mendalam kepada pembacanya dengan teknik yang khas ini.
B. Hakikat Nilai Pendidikan
1. Pengertian Nilai
Nilai adalah
sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia.
Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan
manusia. Nilai sebagai kualitas yang independen akan memiliki ketetapan yaitu
tidak berubah yang terjadi pada objek yang dikenai nilai. Persahabatan sebagai
nilai (positif/ baik) tidak akan berubah esensinya manakala ada pengkhianatan
antara dua yang bersahabat. Artinya nilai adalah suatu ketetapan yang ada
bagaimanapun keadaan di sekitarnya berlangsung.
Sastra dan
tata nilai merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam hakikat
mereka sebagai sesuatu yang eksistensial. Sastra sebagai produk kehidupan.,
mengandung nilai-nilai sosial, filsafat, religi, dan sebagainya baik yang
bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang mempeunyai penyodoran konsep
baru (Suyitno, 1986: 3). Sastra tidak hanya memasuki ruang serta nilai-nilai
kehidupan personal, tetapi juga nilai-nilai kehidupan manusia dalam arti total.
Menilai oleh
Setiadi (2006: 110) dikatakan sebagai kegiatan menghubungkan sesuatu dengan
sesuatu yang lain sehingga diperoleh menjadi suatu keputusan yang menyatakan
sesuatu itu berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik, atau
buruk, manusiawi atau tidak manusiawi, religius atau tidak religius,
berdasarkan jenis tersebutlah nilai ada. Lasyo (Setiadi 2006: 117) menyatakan,
nilai manusia merupakan landasan atau motivasi dalam segala tingkah laku atau perbuatannya.
Sejalan dengan Lasyo, Darmodiharjo (dalam Setiadi, 2006: 117) mengungkapkan
nilai merupakan sesuatu yang berguna bagi manusia baik jasmani maupun rohani.
Sedangkan Soekanto (1983: 161) menyatakan, nilai-nilai merupakan abstraksi
daripada pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan sesamanya. Pada
hakikatnya, nilai yang tertinggi selalu berujung pada nilai yang terdalam dan
terabstrak bagi manusia, yaitu menyangkut tentang hal-hal yang bersifat hakki.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas pengertian nilai dapat disimpulkan
sebagai sesuatu yang bernilai, berharga, bermutu, akan menunjukkan suatu
kualitas dan akan berguna bagi kehidupan manusia.
2. Pengertian Pendidikan
Secara
etimologis, pendidikan berasal dari bahasa Yunani “Paedogogike”, yang
terdiri atas kata “Pais” yang berarti Anak” dan kata “Ago” yang
berarti “Aku membimbing” (Hadi, 2003: 17). Jadi Soedomo Hadi menyimpulkan
paedogogike berarti aku membimbing anak. Purwanto (1986: 11) menyatakan bahwa
pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan
anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Hakikat pendidikan bertujuan untuk mendewasakan anak didik, maka seorang
pendidik haruslah orang yang dewasa, karena tidak mungkin dapat mendewasakan
anak didik jika pendidiknya sendiri belum dewasa. Tilaar (2002;435) mengatakan
hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Selanjutnya dikatakan pula
bahwa, memanusiakan manusia atau proses humanisasi melihat manusia sebagai
suatu keseluruhan di dalam eksistensinya. Eksistensi ini menurut penulis adalah
menempatkan kedudukan manusia pada tempatnya yang terhormat dan bermartabat.
Kehormatan itu tentunya tidak lepas dari nilai-nilai luhur yang selalu dipegang
umat manusia.
Pendidikan
pada hakikatnya juga berarti mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari pernyataan
tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam pendidikan, yaitu: a) cerdas, berarti
memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Cerdas
bermakna kreatif, inovatif dan siap mengaplikasikan ilmunya; b) hidup, memiliki
filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk
kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan
mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepadaNya. Filosofi
hidup ini sangat syarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat
kehidupan seseorang, memanusiakan manusia, memberikan makanan kehidupan berupa
semangat, nilai moral, dan tujuan hidup; c) bangsa, berarti manusia selain sebagai
individu juga merupakan makhluk sosial yang membutuhkan keberadaan orang lain.
Setiap individu berkewajiban menyumbangkan pengetahuannya untuk masyarakat
meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitar dengan ilmu, sesuai dengan
yang diajarkan agama dan pendidikan. Indikator terpenting kemajuan suatu bangsa
adalah pendidikan dan pengajaran (Ratna, 2005: 449).
Segala
sesuatu yang digunakan untuk mendidik harus yang mengandung nilai didik,
termasuk dalam pemilihan media. Novel sebagai suatu karya sastra, yang
merupakan karya seni juga memerlukan pertimbangan dan penilaian tentang seninya
(Pradopo, 2005: 30). Pendidikan pada kahikatnya merupakan upaya membantu
peserta didik untuk menyadari nilai-nilai yang dimilikinya dan berupaya
memfasilitasi mereka agar terbuka wawasan dan perasaannya untuk memiliki dan
meyakini nilai yang lebih hakiki, lebih tahan lama, dan merupakan kebenaran
yang dihormati dan diyakini secara sahih sebagai manusia yang beradab (Setiadi,
2006: 114).
Adler (dalam
Arifin, 1993: 12) mengartikan pendidikan sebagai proses dimana seluruh
kemampuan manusia dipengaruhi oleh pembiasaan yang baik untuk untuk membantu
orang lain dan dirinya sendiri mencapai kebiasaan yang baik. Secara etimologis,
sastra juga berarti alat untuk mendidik (Ratna, 2009: 447). Masih menurut
Ratna, lebih jauh dikaitkan dengan pesan dan muatannya, hampir secara
keseluruhan karya sastra merupakan sarana-sarana etika. Jadinya antara
pendidikan dan karya sastra (novel) adalah dua hal yang saling berkaitan.
Berdasarkan
dari beberapa pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa nilai pendidikan
merupakan segala sesuatu yang baik maupun buruk yang berguna bagi kehidupan
manusia yang diperoleh melalui proses pengubahan sikap dan tata laku dalam
upaya mendewasakan diri manusis melalui upaya pengajaran. Dihubungkan dengan
eksistensi dan kehidupan manusia, nilai-nilai pendidikan diarahkan pada
pembentukan pribadi manusis sebagai makhluk individu, sosial, religius, dan
berbudaya. Nilai-nilai pendidikan yang tersirat dalam berbagai hal dapat
mengembangkan masyarakat dalam berbagai hal dapat mengembangkan masyarakat
dengan berbagai dimensinya dan nilai-nilai tersebut mutlak dihayati dan
diresapi manusia sebab ia mengarah pada kebaikan dalam berpikir dan bertindak
sehingga dapat memajukan budi pekerti serta pikiran/ intelegensinya.
Nilai-nilai pendidikan dapat ditangkap manusia melalui berbagai hal diantaranya
melalui pemahaman dan penikmatan sebuah karya sastra. Sastra khususnya
humaniora sangat berperan penting sebagai media dalam pentransformasian sebuah
nilai termasuk halnya nilai pendidikan.
3. Macam-macam Nilai
Pendidikan
Sastra
sebagai hasil kehidupan mengandung nilai-nilai sosial, filosofi, religi dan
sebagainya. Baik yang bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang merupakan
menciptakan terbaru semuanya dirumuskan secara tersurat dan tersirat. Sastra
tidak saja lahir karena kejadian, tetapi juga dari kesadaran penciptaannya
bahwa sastra sebagai sesuatu yang imajinatif, fiktif, dll, juga harus melayani
misi-misi yang dapat dipertanggungjawabkan serta bertendens. Sastrawan pada
waktu menciptakan karyanya tidak saja didorong oleh hasrat untuk menciptakan
keindahan, tetapi juga berkehendak untuk menyampaikan pikiran-pikirannya,
pendapat-pendapatnya, dan kesan-kesan perasaannya terhadap sesuatu.
Menacari
nilai luhur dari karya sastra adalah menentukan kreativitas terhadap hubungan
kehidupannya. Dalam karya sastra akan tersimpan nilai atau pesan yang berisi
amanat atau nasihat. Melalui karyanya, pencipta karya sastra berusaha untuk
mempengaruhi pola piker pembaca dan ikut mengkaji tentang baik dan buruk, benar
mengambil pelajaran, teladan yang patut ditiru sebaliknya, untuk dicela bagi
yang tidak baik. Karya sastra diciptakan bukan sekedar untuk dinikmati, akan
tetapi untuk dipahami dan diambil manfaatnya. Karya sastra tidak sekedar benda
mati yang tidak berarti, tetapi didalamnya termuat suatu ajaran berupa
nilai-nilai hidup dan pesan-pesan luhur yang mampu menambah wawasan manusia
dalam memahami kehidupan. Dalam karya sastra, berbagai nilai hidup dihadirkan
karena hal ini merupakan hal positif yang mampu mendidik manusia, sehingga
manusia mencapai hidup yang lebih baik sebagai makhluk yang dikaruniai oleh
akal, pikiran, dan perasaan.
Novel
merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak memberikan penjelasan
secara jelas tentang sistem nilai. Nilai itu mengungkapkan perbuatan apa yang
dipuji dan dicela, pandangan hidup mana yang dianut dan dijauhi, dan hal apa
saja yang dijunjung tinggi. Adapun nilai-nilai pendidikan dalam novel sebagai
berikut.
a. Nilai Pendidikan Religius
Religi
merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati
manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan
secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia
secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, 1995:
90). Nilai-nilai religious bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik
menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang
terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut
mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada
nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan
personal.
Kehadiran
unsur religi dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri
(Nurgiyantoro, 2005: 326). Semi (1993: 21) menyatakan, agama merupakan kunci
sejarah, kita batu memahami jiwa suatu masyarakat bila kita memahami agamanya.
Semi (1993: 21) juga menambahkan, kita tidak mengerti hasil-hasil kebudayaanya,
kecuali bila kita paham akan kepercayaan atau agama yang mengilhaminya. Religi
lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Nilai religius yang merupakan nilai
keohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan
manusia.
b. Nilai Pendidikan Moral
Moral
merupakan sesuatu yang igin disampaikan pengarang kepada pembaca, merupakan
makna yang terkandung dalam karya sastra, makna yang disaratkan lewat cerita.
Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak
semua tema merupaka moral (Kenny dalam Nurgiyantoro, 2005: 320). Moral
merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran dan pandangan itu
yang ingin disampaikan kepada pembaca. Hasbullah (2005: 194) menyatakan bahwa,
moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia
agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa
yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu
tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan
bermanfaat bagi orang itu , masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Uzey
(2009: 2) berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu
nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu
berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral
berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang
lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.
Dapat
disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan
tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang
meliputi perilaku. Untuk karya menjunjung tinggi budi pekerti dan nilai susila.
c. Nilai Pendidikan Sosial
Kata
“sosial” berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat/ kepentingan umum.
Nilai sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata
cara hidup sosial. Perilaku sosial brupa sikap seseorang terhadap peristiwa
yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara
berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai sosial yang
ada dalam karya sastra dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang
diinterpretasikan (Rosyadi, 1995: 80). Nilai pendidikan sosial akan menjadikan
manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan
antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai sosial
mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah
masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka
menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam
nilai sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya,
pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan
masyarakat.
Sejalan
dengan tersebut nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat
untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri, dan
berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai
norma yang berlaku. Uzey (2009: 7) juga berpendapat bahwa nilai sosial mengacu
pada pertimbangan terhadap suatu tindakan benda, cara untuk mengambil keputusan
apakah sesuatu yang bernilai itu memiliki kebenaran, keindahan, dan nilai
ketuhanan. Jadi nilai sosial dapat disimpulkan sebagai kumpulan sikap dan
perasaan yang diwujudkan melalui perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang
yang memiliki nilai tersebut. Nilai sosial merupakan sikap-sikap dan perasaan
yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan
apa yang benar dan apa yang penting.
d. Nilai Pendidikan Budaya
Nilai-nilai
budaya menurut Rosyadi (1995:74) merupakan sesuatu yang dianggap baik dan
berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu
dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nolai
budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada sutu masyarakat dan
kebudayaannya.
Nilai budaya
merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam
pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu
singkat. Uzey (2009: 1) berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya
dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu.
Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara
individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh
masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang
digambarkan.
Sistem nilai
budaya merupakan inti kebudayaan, sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan
menata elemen-elemen yang berada pada struktur permukaan dari kehidupan manusia
yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan
material. Sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam
alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka
anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sisitem nilai budaya
biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Dapat
disimpulkan dari pendapat tersebut sistem nilai budaya menempatkan pada posisi
sentral dan penting dalam kerangka suatu kebudayaan yang sifatnya abstrak dan
hanya dapat diungkapkan atau dinyatakan melalui pengamatan pada gejala-gejala
yang lebih nyata seperti tingkah laku dan benda-benda material sebagai hasil
dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola. Adapun nilai-nilai
budaya yang terkandung dalam novel dapat diketahui melalui penelaahan terhadap
karakteristik dan perilaku tokoh-tokoh dalam cerita.
D. Penelitian Relevan
Hasil
Penelitian sebelumnya yang relevan dan dapat dijadikan acuan serta masukan pada
penelitian ini adalah:
1. Ririh Yuli Atminingsih dalam penelitian berjudul “Analisis Gaya Bahasa dan
Nilai Pendidikan Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata”. Dalam
kesimpulannya gaya bahasa yang digunakan dalam Novel Laskar Pelangi antara
lain: personifikasi, hiperbola, antitesis, simile, metafora, epizeukis, eponim,
anadipsis, repetisi, parifrasis, tautologi, koreksio, pleonasme, ironi,
paradoks, satire, hipalase, innuendo, metonomia, sinekdoke pars prototo,
sinekdoke totum pro parte, alusio, epitet, antonomasia, ellipsis, asidenton,
tautotes, anaphora, pertanyaan retoris. Ririh juga menyatakan alasan pengarang
menggunakan gaya bahasa pada novel Laskar Pelangi adalah untuk
mengungkapkan ekspresi jiwa atau perasaan tertentu, untuk menunjukkan
kreativitas seni dalam bentuk bahasa, untuk membangkitkan inajinasi pembaca,
untuk memberikan kesan keindahan pada novel, untuk memperjelas makna kata,
untuk menampilkan variasi dan gaya yang berbeda dengan karangan novel lain.
Nilai pendidikan yang digunakan adalah nilai religius, nilai moral, dan nilai
sosial. Persamaan karya ilmiah Ririh Yuli Atminingsih dengan penulis yaitu
sama-sama mengkaji gaya bahasa dan nilai pendidikan dengan judul novel yang
berbeda. Perbedaannya adalah terdapat dalam simpulan penelitian. Karya ilmiah
Ririh dalam simpulannya terdapat nilai religious, moral, dan sosial; sedangkan
dalam karya ilmiah penulis juga ditemukan nilai budaya.
2. Triyatmi dalam penetian berjudul “Kajian Gaya Bahasa dalam Kain Rentang
Kampanye Pemilu 2004” penelitian ini disimpulkan: 1) Gaya bahasa yang digunakan
dalam kain rentang kampanye 2004, baik kampanye legislative, calon presiden,
dan calon wakil presiden sebagai berikut: a) Empat jenis gaya bahasa yang
digunakan: (1) Gaya bahasa perbandingan meliputi eufemisme, epitet, hiperbola,
simile, personifikasi, sinekdoke, dan asosiasi; (2) Gaya bahasa perulangan,
meliputi anaphora dan aliterasi; (3) Gaya Bahasa sindiran (satire); (4) Gaya
bahasa pertentangan (oksimoron). b) Tidak ditemukan gaya bahasa penegasan. c)
Gaya bahasa yang sering digunakan dalam kain rentang kampanye 2004 adalah
eufemisme dan epitet. 2) Alasan penggunaan gaya bahasa pada kain rentang
kampanye 2004, yaitu: a) Penyesuaiaan konsep yang menjadi dasar penulisan kain
rentang oleh masing-masing tim sukses partai; b) Kain rentang yang dibuat
merupakan salah satu media publikasi yang digunakan untuk sosialisasi program
kerja partai yang bersangkutan; c) Bahasa yang sederhana, simpatik, dan
meyakinkan merupakan media yang mudah diingat dan menarik perhatian massa calon
pemilih. Persamaan karya ilmiah Triyatmi dengan penulis yaitu sama-sama
mengkaji gaya bahasa, tetapi dalam simpulan karya ilmiah Triyatmi tidak
ditemukan gaya bahasa penegasan. Perbedaannya adalah objek yang diteliti. Objek
yang diteliti Triyatmi adalah kain rentang kampanye pemilu 2004, sedangkan
penulis objek yang diteliti adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea
Hirata.
3. Endang Lindarti dalam penelitian berjudul “Analisis Struktur dan Nilai
Pendidikan dalam Cerita Rakyat di Kabupaten Karanganyar”. Simpulan yang
ditulisnya yaitu antarsastra dan nilai kehidupan terdapat interaksi yang kuat.
Jadi antara nilai sastra dan nilai-nilai didik merupakan dua fenomena sosial
yang saling melengkapi dalam kehadirannya dalam karya sastra sebagai suatu yang
penting. Dalam cerita rakyat tersebut, nilai didik yang terkandung adalah nilai
moral, religius, sosial, dan budaya. Persamaan karya ilmiah Endang Lindiarti
dengan penulis yaitu sama-sama di dalam penelitiannya terdapat simpulan yang
mengandung unsur nilai moral, religi, sosial, dan budaya. perbedaannya terdapat
pada objek yang dikaji. Obyek yang dikaji dalam penelitian Endang Lindiarti
adalah cerita rakyat di Kabupaten Karanganyar, sedangkan yang dikaji penulis
objek penelitiannya adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.
E. Kerangka
Berpikir
Dalam novel Sang
Pemimpi terdapat segi yang akan penulis analisis dari nilai-nilai
pendidikan yang terdapat di dalamnya. Nilai-nilai pendidikan yang terdapat
dalam novel Sang Pemimpi meliputi empat macam nilai pendidikan, yaitu:
nilai pendidikan moral, religius, sosial, dan budaya. Semua nilai yang
ditemukan tersebut akan dapat bermanfaat bagi para pembaca novel Sang
Pemimpi. Supaya lebih jelas dapat dilihat pada skema kerangka berpikir
berikut.
BAB III
TUJUAN
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini
sebagai Menyebutkan dan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang
digunakan pengarang dalam novel Sang Pemimpi.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat
penelitian tidak terikat pada satu tempat karena objek yang dikaji berupa
naskah (teks) sastra, yaitu novel Sang Pemimpi. Penelitian ini bukan
penelitian yang analisisnya bersifat statis melainkan sebuah analisis yang
dinamis yang dapat terus dikembangkan.
B. Bentuk dan Strategi
Penelitian
Bentuk
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode content analysis atau
analisis isi. Penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang
menjadi masalah, kemudian menganalisis dan menafsirkan data yang ada. Metode content
analysis atau analisis isi yang digunakan untuk menelaah isi dari suatu
dokumen, dalam penelitian ini dokumen yang dimaksud adalah novel Sang
Pemimpi karya Andrea Hirata.
C. Sumber Data
Sumber data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen. Dokumen yang digunakan
adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata cetakan ke-15 yang
diterbitkan oleh penerbitan Bentang Yogyakarta tahun 2008.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pegumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik catat, karena
data-datanya berupa teks. Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data adalah
sebagai berikut: membaca novel Sang Pemimpi secara berulang-ulang,
mencatat kalimat-kalimat yang menyatakan pemakaian gaya bahasa dan nilai pendidikan.
E. Validitas Data
Validitas
atau keabsahan data merupakan kebenaran data dari proses penelitian. Dalam
mendapatkan data, dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi. Adapun
triangulasi yang digunakan adalah triangulasi teori, yaitu secara penelitian
terhadap topik yang sama dengan menggunakan teori yang berbeda dalam
menganalisa data.
F. Analisis Data
Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model analisis
mengalir, yang meliputi tiga komponen, yaitu 1) reduksi data; 2) penyajian
data; dan 3) penarikan simpulan. Analisis model mengalir mempunyai tiga
komponen yang saling terjalin dengan baik, yaitu sebelum, selama dan sesudah
pelaksanaan pengumpulan data. Penjelasannya sebagai berikut.
1. Reduksi data
Pada langkah ini data yang
diperolah dicatat dalam uraian yang terperinci. Dari data-data yang sudah
dicatat tersebut, kemudian dilakukan penyederhanaan data. Data-data yang
dipilih hanya data yang berkaitan dengan masalah yang akan dianalisis, dalam
hal ini tentang gaya bahasa dan nilai pendidikan yang terdapat di dalam novel Sang
Pemimpi. Informasi-informasi yang pengacu pada permasalahan itulah
yang menjadi data dalam penelitian ini.
2. Sajian data
Pada langkah ini, data-data
yang sudah ditetapkan kemudian disusun secara teratur dan terperinci agar mudah
dipahami. Data-data tersebut kemudian dianalisis sehingga diperoleh deskripsi
tentang gaya bahasa yang digunakan, kejelasan makna dari gaya bahasa tersebut
dan nilai pendidikannya.
3. Penarikan simpulan/
verifikasi
Pada tahap ini dibuat
kesimpulan tentang hasil dari data yang diperoleh sejak awal penelitian.
Kesimpulan ini masih memerlukan adanya verifikasi (penelitian kembali tentang
kebenaran laporan) sehingga hasil yang diperoleh benar-benar valid.
Ketiga komponen tersebut
saling berkaitan dan dilakukan secara terus-menerus mulai dari awal, saat
penelitian berlangsung, sampai akhir laporan.
Adapun model
analisis mengalir jika digambarkan adalah sebagai berikut.
Masa Pengumpulan Data
REDUKSI DATA
Selama Pasca
Antisipasi
PENYAJIAN DATA
ANALISIS
Selama Pasca
PENARIKAN
KESIMPULAN/VERIFIKASI
Selama Pasca
Gambar 2. Model Analisis
Mengalir
(Miles, Mattew B. &
Huberman, A. Michael, 1992: 18)
G. Prosedur Penelitian
Prosedur
penelitian yang dilakukan peneliti terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut.
1.
Pengumpulan data
Pada tahap ini peneliti
mengumpulkan data berupa kutipan-kutipan yang menunjukkan penggambaran nilai
pendidikan dan pemakaian gaya bahasa dari novel Sang Pemimpi.
2.
Penyeleksian data
Data-data yang telah
dikumpulkan, kemudian diseleksi serta dipilah-pilah mana saja yang akan
dianalisis.
3.
Menganalisis data yang telah diseleksi.
4. Membuat
laporan penelitian.
Laporan penelitian merupakan
tahap akhir dari serangkaian proses. merupakan tahap penyampaian data-data yang
telah dianalisis, dirumuskan, dan ditarik kesimpulan. Kemudian dilakukan
konsultasi dengan pembimbing. Tulisan yang sudah baik disusun menjadi laporan
penelitian, disajikan dan diperbanyak.
Lebih jelasnya dapat dilihat
pada skema prosedur penelitian berikut:
Pengumpulan data
Membuat laporan
Analisis data
Penyeleksian data
Gambar 3. Skema Prosedur
Penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Analisis Nilai-nilai
Pendidikan dalam Novel Sang Pemimpi
1. Nilai Pendidikan Religius
Nilai
religius merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta
alam dan seisinya. Berbicara tentang hubungan manusia dan Tuhan tidak terlepas
dari pembahasan agama. Agama merupakan pegangan hidup bagi manusia. Agama dapat
pula bertindak sebagai pemacu faktor kreatif, kedinamisan hidup, dan perangsang
atau pemberi makna kehidupan. Melalui agama, manusia pun dapat mempertahankan
keutuhan masyarakat agar hidup dalam pola kemasyarakatan yang telah tetap
sekaligus menuntun untuk meraih masa depan yang lebih baik. Seperti dalam
kutipan di bawah ini.
“Jimbron adalah seorang yang
membuat kami takjub dengan tiga macam keheranan. Pertama, kami heran karena
kalau mengaji, ia selalu diantar seorang pendeta. Sebetulnya beliau adalah
seorang pastor karena beliau seorang Katolik, tapi kami memanggilnya Pendeta
Geovany. Rupanya setelah sebatang kara seperti Arai ia menjadi anak asuh sang
pendeta. Namun, pendeta berdarah Itali itu tak sedikit pun bermaksud
mengonversi keyakinan Jimbron. Beliau malah tak pernah telat jika mengantarkan
Jimbron mengaji ke masjid” (SP, 61)
Di lihat
dari kutipan di atas, Tokoh Jimbron dalam novel Sang Pemimpi mencerminkan
tokoh yang taat beragama dengan mengaji setiap harinya, walaupun dia hidup di
lingkungan agama yang berbeda, yaitu agama Katolik. Penamaan nilai religius
yang tinggi mampu menumbuhkan sikap sabar, tidak sombong dan tidak angkuh pada
sesama. Manusia menjadi saling mencintai dan menghormati, dengan demikian
manusia bisa hidup harmonis dalam hubungannnya dengan Tuhan, sesama manusia
maupun makhluk lain. Pendeta Geovany dalam kutipan di atas adalah sosok yang
penyayang dan menghormati manusia lain yang beda agama, ternukti bahwa Jimbron
sebagai anak angkatnya justru malah setiap harinya diantar mengaji dan tidak sedikit
pun bermaksud mengonversi keyakinan Jimbron. Beliau malah tak pernah
telat jika mengantarkan Jimbron mengaji ke masjid.
Kutipan di
atas mempunyai kandungan nilai pendidikan religius karena secara jelas
disampaikan penulis melalui gaya bahasa pars pro toto yang terlihat pada kata “sebatang
kara” yang berarti tidak punya siapa-siapa, hanya hidup seorang diri tanpa
ada keluarga di dekatnya. Pars pro toto adalah gaya bahasa yang melukiskan
sebagian dari keseluruhan, berarti kata tersebut dalam kutipan di atas yang
hidup sebatang kara yang dimaksud adalah Jimbron.
Sebuah karya
sastra yang mengangkat sebuah kemanusiaan yang berdasarkan kebenaran akan
menggugah hati nurani dan akan memberikan kemungkinan pertimbangan baru pada
diri penikmatnya. Oleh karena itu, cukup beralasan apabila sastra dapat
berfungsi sebagai peneguh batin pembaca dalam menjalankan keyakinan agamanya.
Jika setiap
manusia akan saling menghormati dalam menjalankan agamanya, maka hubungan yang
harmonis akan terjalin dan akan menjadikan hidup manusia menjadi tenteram dan
bahagia karena nilai religius merupakan keterkaitan antarmanusia dengan Tuhan
sebagai sumber ketentraman dan kebahagiaan di dunia. Nilai religius akan
menanamkan sikap manusia untuk tunduk dan taat kepada Tuhan atau dalam
keseharian kita kenal dengan takwa. Seperti yang tergambar dalam tokoh Arai di
bawah ini.
“Setiap habis maghrib, Arai
melantunkan ayat-ayat suci Al Quran di bawah temaram lampu minyak dan saat itu
seisi rumah kami terdiam.”(SP, 33)
Perilaku Arai dalam
kesehariannya mencerminkan seorang muslim. Orang yang taat pada perintah agama,
hal itu terbukti bahwa setiap habis maghrib dia selalu membacakan ayat-ayat
suci Al Quran dengan kesadarannya sendiri, tanpa diperintah siapapun.
Kutipan di atas mempunyai kandungan nilai pendidikan religius karena secara
jelas disampaikan penulis melalui gaya bahasa hipalase yaitu gaya bahasa yang
menggunakan kata tertentu untuk menerangkan sesuata, SKRIPSI
ANALISIS
NILAI-NILAI PENDIDIKAN
NOVEL “SANG
PEMIMPI”
Karya Andrea
Hirata
ABSTRAK
Andika Nugroho, Candra Novita
Hariani, Reni Widiantika. ANALISIS NILAI-NILAI
PENDIDIKAN NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA. Skripsi.
Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret
Surakarta, Agustus 2010.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) nilai-nilai pendidikan
yang digunakan pengarang dalam novel Sang Pemimpi.
Penelitian
ini berbentuk deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode content
analysis. Sumber data adalah novel Sang Pemimpi cetakan ke-15 dan
artikel-artikel dari internet. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik
catat. Validitas yang digunakan adalah triangulasi teori. Teknik analisis data
yang digunakan adalah analisis mengalir (flow model of analysis) yang
meliputi tiga komponen yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan. Prosedur penelitian yang dilakukan terdiri atas beberapa tahap
yaitu pengumpulan data, penyeleksian data, menganalisis data yang telah
diseleksi, dan membuat laporan penelitian.
Berdasarkan
hasil penelitian dapat disimpulkan: dalam novel Sang Pemimpi Andrea
Hirata ingin menyampaikan nilai-nilai pendidikan yang sangat bermanfaat bagi
para pembaca dengan menghidupkan isi cerita di dalamnya, sehingga dapat menjadi
lebih hidup dan menambah variasi serta menghindari hal-hal yang bersifat
monoton yang dapat membuat pembaca bosan. Nilai-nilai pendidikan yang terdapat
dalam novel Sang Pemimpi, berdasarkan hasil analisis terdiri atas empat
nilai. Nilai-nilai pendidikan tersebut yaitu: (a) nilai pendidikan religius
merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta alam dan
seisinya, dalam novel Sang Pemimpi, (b) nilai pendidikan moral yaitu
suatu nilai yang menjadi ukuran patut tidaknya manusia bergaul dalam kehidupan
bermasyarakat, dalam novel Sang Pemimpi, (c) nilai pendidikan sosial
yaitu suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek,
gagasan, atau orang, dalam novel Sang Pemimpi.
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan kesehatan, karunia, rahmat, dan
hidayah-Nya kepada kita semua, terutama penulis dan keluarga. Hanya kepada-Nya
kembali segala sanjungan, kepada-Nya kami memohon pertolongan dan ampunan, dan
atas ridlonya sehingga penulis mampu menyusun skripsi ini dengan baik, yang
merupakan persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Dalam
Penyusunan skripsi ini, penulis menyadari tidak dapat bekerja seorang diri
melainkan bekerja sama dengan berbagai pihak. Maka atas terselesaikannya
skripsi ini, penulis meyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. Gatot Sarmidi Kaprodi
Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Kanjuruhan Malang yang telah
membimbing tugas ini hingga selesai.
2. Teman-teman kuliah kelas A
untuk khususnya teman kelompok Bahasa Indonesia yang senantiasa membantu dan
bekerjasama.
3. Keluargaku yang tidak lelah dan bosan memberi motivasi dan dukungan,
baik dukungan material maupun dukungan spiritual.
4. Bapak dan Ibu Dosen Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang
telah memberikan bekal ilmu kepada penulis;
7. Semua pihak yang telah
mendukung dan membantu sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas ini.
Penulis
telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tugas ini serta tidak
lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
proses penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga tugas ini dapat
memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan, khususnya dalam bidang
bahasa dan sastra Indonesia.
Malang, November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
JUDUL
.............................................................................................................
i
ABSTRAK .......................................................................................................
v
KATA PENGANTAR
.....................................................................................
viii
DAFTAR ISI
....................................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR
.......................................................................................
xii
DAFTAR TABEL
............................................................................................
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
....................................................................................
xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
...................................................................... 1
B. Rumusan Masalah
................................................................................
4
C. Tujuan Penelitian
................................................................................
4
D. Manfaat Penelitian
..............................................................................
5
BAB II KAJIAN TEORITIK
A. Hakikat Novel
.................................................................................................6
1. Pengertian Novel
............................................................................. 6
2. Ciri-ciri Novel
.................................................................................
9
3.
Macam-macam Novel......................................................................
9
B. Hakikat Nilai Pendidikan
..................................................................... 28
1. Pengertian Nilai
...............................................................................
28
2. Pengertian
Pendidikan......................................................................29
3. Macam-macam Nilai
Pendidikan.....................................................31
D. Penelitian Relevan
................................................................................
35
E. Kerangka Berpikir
................................................................................
37
BAB III TUJUAN
A. Tujuan dari penelitian ……………………………………………….
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
.............................................................. 39
B. Bentuk dan Strategi
Penelitian ............................................................. 39
C. Sumber Data
.........................................................................................
40
D. Teknik Pengumpulan Data
................................................................... 40
E. Validitas Data
.......................................................................................
40
F. Analisis Data
........................................................................................
40
G. Prosedur
Penelitian...............................................................................
42
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Analisis
Nilai-nilai Pendidikan dalam Novel Sang Pemimpi .............. 94
1. Nilai
PendidikanReligius.................................................................94
2. Nilai Pendidikan
Moral....................................................................96
3. Nilai Pendidikan
Sosial....................................................................98
4. Nilai Pendidikan
Budaya................................................................101
BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI,
DAN SARAN
A. Simpulan
..............................................................................................
104
B. Implikasi
...............................................................................................
105
C. Saran
.....................................................................................................
106
DAFTAR PUSTAKA
......................................................................................
107
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar
1. Kerangka
Berpikir
................................................................................
40
2. Model
Analisis Mengalir......................................................................
43
3. Prosedur
Penelitian……………………………………………………44
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Cover Novel Sang Pemimpi
Karya Andrea Hirata…………………...107
2.
Tokoh-tokoh dalam Novel Sang Pemimpi ...........................................
108
3. Sinopsis
Novel Sang Pemimpi .............................................................
111
4. Biografi
Andrea Hirata
......................................................................... 114
5. Lain-lain
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra
merupakan wujud gagasan seseorang melalui pandangan terhadap lingkungan sosial
yang beraada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Sastra
hadir sebagai hasil perenungan pengarang terhadap fenomena yang ada. Sastra
sebagai karya fiksi memiliki pemahaman yang lebih mendalam, bukan hanya sekadar
cerita khayal atau angan dari pengarang saja, melainkan wujud dari kreativitas
pengarang dalam menggali dan mengolah gagasan yang ada dalam pikirannya.
Salah satu
bentuk karya sastra adalah novel. Novel adalah karya fiksi yang dibangun
melalui berbagai unsur intrinsiknya. Unsur-unsur tersebut sengaja dipadukan
pengarang dan dibuat mirip dengan dunia yang nyata lengkap dengan
peristiwa-peristiwa di dalamnya, sehingga nampak seperti sungguh ada dan
terjadi. Unsur inilah yang akan menyebabkan karya sastra (novel) hadir. Unsur
intrinsik sebuah novel adalah unsur yang secara langsung membangun sebuah
cerita. Keterpaduan berbagai unsur intrinsik ini akan menjadikan sebuah novel
yang sangat bagus.
Sang Pemimpi
diterbitkan pertama kali pada Juli 2006. Sejak kemunculan novel Sang
Pemimpi mendapatkan tanggapan positif dari penikmat sastra. Tingginya apresiasi
masyarakat terhadap novel Sang Pemimpi menjadikan novel tersebut masuk
dalam jajaran novel psikologi islami pembangun jiwa. Andrea Hirata telah
membuat lompatan langkah yang gemilang untuk mengikuti jejak sang legenda Buya
Hamka, berkarya dan mempunyai fenomena (Badrut Taman Gafas, 2005). Melalui
novel kontemporernya yang diperkaya dengan muatan budaya yang Islami, Andrea
Hirata seolah mengulang kesuksesan sang pujangga Buya Hamka yang karya-karyanya
popular hingga ke mancanegara seperti “Merantau Ke Deli”, “Di Bawah
Lindungan Ka’bah”, dan ”Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Meskipun
nilai yang mendasari novel tersebut bersumber dari Islam, berbagai kalangan
kaum beragama dan berkepercayaan dapat menerimanya tanpa ada perasaan terancam.
Cerita novel
Sang Pemimpi diperoleh dari mengeksplorasi kisah persahabatan dan
pendidikan di Indonesia. Ia mengemas novel Sang Pemimpi dengan bahasa
yang sederhana imajinatif, namun tetap memperhatikan kualitas isi. Membaca
novel Sang Pemimpi membuat pembaca seolah-olah melihat potret nyata
kehidupan masyarakat Indonesia. Hal itu seperti tanggapan salah seorang
penikmat novel Sang Pemimpi, yaitu Harnowo (editor senior dan penulis
buku Mengikat Makna) ia mengatakan bahwa, “kata-kata Andrea berhasil
„menyihir‟ jiwaku. Dia
dapat dikatakan mempunyai kemampuan mengolah kata sehingga memesona yang
membacanya” (Sang Pemimpi: sampul depan).
Meskipun
kisah yang terjadi dalam novel Sang Pemimpi sudah terjadi sangat lama,
akan tetapi pada kenyataannya kisah Sang Pemimpi masih ada di zaman
sekarang. Banyak pengamat sastra yang memberikan penilaian berkaitan dengan
suksesnya novel Sang Pemimpi. Suksesnya novel Sang Pemimpi disebabkan
novel tersebut muncul pada saat yang tepat yaitu pada waktu masyarakat
khususnya masyarakat yang merasa mengalami pendidikan yang sama seperti beberapa
tokoh yang terdapat dalam novel tersebut. Hal tersebut sejalan dengan
pernyataan yang disampaikan oleh Sapardi Djoko Darmono, seorang sastrawan dan
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI Ia menyatakan Sang Pemimpi merupakan
“Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan
kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas
pendidikan” (Ruktin Handayani: 2008).
Isi novel Sang
Pemimpi menegaskan bahwa keadaan ekonomi bukanlah menjadi hambatan seseorang
dalam meraih cita-cita dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai
cita-citanya. Kemiskinan adalah penyakit sosial yang berada dalam ruang lingkup
materi sehingga tidak berkaitan dengan kemampuan otak seseorang.
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka peneliti berminat untuk menganalisis novel Sang
Pemimpi. Analisis terhadap novel Sang Pemimpi peneliti membatasi
pada nilai pendidikan. Alasan dipilih dari segi nilai pendidikan karena novel Sang
Pemimpi diketahui banyak memberikan inspirasi bagi pembaca, hal itu berarti
ada nilai-nilai positif yang dapat diambil dan direalisasikan oleh pembaca
dalam kehidupan sehari-hari mereka, khususnya dalam hal pendidikan. Pradopo
(1994: 94) mengungkapkan bahwa suatu karya sastra yang baik adalah yang langsung
memberi didikan kepada pembaca tentang budi pekerti dan nilai-nilai moral,
sesungguhnya hal ini telah menyimpang dari hukum-hukum karya sastra sebagai
karya seni dan menjadikan karya sastra sebagai alat pendidikan yang langsung
sedangkan nilai seninya dijadikan atau dijatuhkan nomor dua. Begitulah paham
pertama dalam penilaian karya sastra yang secara tidak langsung disimpulkan
dari corak-corak roman Indonesia yang mula-mula, ialah memberi pendidikan dan
nasihat kepada pembaca.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas dapat diketahui rumusan masalah yang timbul
dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Nilai-nilai pendidikan apa
sajakah yang ingin disampaikan oleh Andrea Hirata dalamnovel Sang Pemimpi?
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang
dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
Manfaat praktis, hasil
penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak, antara lain :
a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini
memberikan gambaran bagi guru tentang pendekatan struktural genetik untuk
dijadikan pedoman dalam pembelajaran sastra yang menarik, kreatif, dan
inovatif.
b. Bagi
Peneliti
Hasil penelitian ini dapat
menjadi jawaban dari masalah yang dirumuskan. Selain itu, dengan selesainya
penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk semakin
aktif menyumbangkan hasil karya ilmiah bagi dunia sastra dan pendidikan.
c. Bagi
Pembaca
Hasil penelitian ini bagi
pembaca diharapkan dapat lebih memahami isi novel Sang Pemimpi dan
mengambil manfaat darinya. Selain itu, diharapkan pembaca semakin jeli dalam
memilih bahan bacaan (khususnya novel) dengan memilih novel-novel yang
mengandung pesan moral yang baik dan dapat menggunakan hasil penelitian ini
untuk sarana pembinaan watak diri pribadi.
d. Bagi
Peneliti yang Lain
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan inspirasi maupun bahan pijakan peneliti ain untuk
melakukan penelitian yang lebih mendalam.
BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. Hakikat Novel
1. Pengertian Novel
Kata novel
berasal dari bahasa Itali novella yang secara harfiah berarti „sebuah
barang baru yang kecil‟, dan
kemudian diartikan sebagai „cerita pendek dalam bentuk prosa‟. (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2005: 9). Dalam bahasa Latin kata novel
berasal novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang
berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis lain, novel
ini baru muncul kemudian (Tarigan, 1995: 164).
Pendapat
Tarigan diperkuat dengan pendapat Semi (1993: 32) bahwa novel merupakan karya
fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan
disajikan dengan halus. Novel yang diartikan sebagai memberikan konsentrasi
kehidupan yang lebih tegas, dengan roman yang diartikan rancangannya lebih luas
mengandung sejarah perkembagan yang biasanya terdiri dari beberapa fragmen dan
patut ditinjau kembali.
Sudjiman
(1998: 53) mengatakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang menyuguhkan tokoh
dan menampilkan serangkaian peristiwa serta latar secara tersusun. Novel
sebagai karya imajinatif mengugkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang mendalam dan
menyajikannya secara halus. Novel tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga
sebagai bentuk seni yang mempelajari dan meneliti segi-segi kehidupan dan
nilai-nilai baik buruk (moral) dalam kehidupan ini dan mengarahkan pada pembaca
tentang budi pekerti yang luhur.
Saad (dalam
Badudu J.S, 1984 :51) menyatakan nama cerita rekaan untuk cerita-cerita dalam
bentuk prosa seperti: roman, novel, dan cerpen. Ketiganya dibedakan bukan pada
panjang pendeknya cerita, yaitu dalam arti jumlah halaman karangan, melainkan
yang paling utama ialah digresi, yaitu sebuah peristiwa-peristiwa yang secara
tidak langsung berhubungan dengan cerita peristiwa yang secara tidak langsung
berhubungan dengan cerita yang dimasukkan ke dalam cerita ini. Makin banyak
digresi, makin menjadi luas ceritanya.
Batos (dalam
Tarigan, 1995: 164) menyatakan bahwa novel merupakan sebuah roman,
pelaku-pelaku mulai dengan waktu muda, menjadi tua, bergerak dari sebuah adegan
yang lain dari suatu tempat ke tempat yang lain. Nurgiyantoro (2005: 15)
menyatakan, novel merupakan karya yang bersifat realistis dan mengandung nilai
psikologi yang mendalam, sehingga novel dapat berkembang dari sejarah,
surat-surat, bentuk-bentuk nonfiksi atau dokumen-dokumen, sedangkan roman atau
romansa lebih bersifat puitis. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa
novel dan romansa berada dalam kedudukan yang berbeda. Jassin (dalam
Nurgiyantoro, 2005: 16) membatasi novel sebagai suatu cerita yang bermain dalam
dunia manusia dan benda yang di sekitar kita, tidak mendalam, lebih banyak melukiskan
satu saat dari kehidupan seseorang dan lebih mengenai sesuatu episode.
Mencermati pernyataan tersebut, pada kenyataannya banyak novel Indonesia yang
digarap secara mendalam, baik itu penokohan maupun unsur-unsur intrinsik lain.
Sejalan dengan Nurgiyantoro, Hendy (1993: 225) mengemukakan bahwa novel
merupakan prosa yang terdiri dari serangkaian peristiwa dan latar. Ia juga
menyatakan, novel tidaklah sama dengan roman. Sebagai karya sastra yang
termasuk ke dalam karya sastra modern, penyajian cerita dalam novel dirasa
lebih baik.
Novel
biasanya memungkinkan adanya penyajian secara meluas (expands) tentang
tempat atau ruang, sehingga tidak mengherankan jika keberadaan manusia dalam
masyarakat selalu menjadi topik utama (Sayuti, 2000: 6-7). Masyarakat tentunya
berkaitan dengan dimensi ruang atau tempat, sedangkan tokoh dalam masyarakat
berkembang dalam dimensi waktu semua itu membutuhkan deskripsi yang mendetail
supaya diperoleh suatu keutuhan yang berkesinambungan. Perkembangan dan
perjalanan tokoh untuk menemukan karakternya, akan membutuhkan waktu yang lama,
apalagi jika penulis menceritakan tokoh mulai dari masa kanak-kanak hingga
dewasa. Novel memungkinkan untuk menampung keseluruhan detail untuk
perkembangkan tokoh dan pendeskripsian ruang.
Novel oleh
Sayuti (2000: 7) dikategorikan dalam bentuk karya fiksi yang bersifat formal.
Bagi pembaca umum, pengategorian ini dapat menyadarkan bahwa sebuah fiksi
apapun bentuknya diciptakan dengan tujuan tertentu. Dengan demikian, pembaca
dalam mengapresiasi sastra akan lebih baik. Pengategorian ini berarti juga
bahwa novel yang kita anggap sulit dipahami, tidak berarti bahwa novel tersebut
memang sulit. Pembaca tidak mungkin meminta penulis untuk menulis novel dengan
gaya yang menurut anggapan pembaca luwes dan dapat dicerna dengan mudah, karena
setiap novel yang diciptakan dengan suatu cara tertentu mempunyai tujuan
tertentu pula.
Penciptaan
karya sastra memerlukan daya imajinasi yang tinggi. Menurut Junus (1989: 91),
mendefinisikan novel adalah meniru ”dunia kemungkinan”. Semua yang diuraikan di
dalamnya bukanlah dunia sesungguhnya, tetapi kemungkinan-kemungkinan yang
secara imajinasi dapat diperkirakan bisa diwujudkan. Tidak semua hasil karya
sastra arus ada dalam dunia nyata , namun harus dapat juga diterima oleh nalar.
Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan
pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang
terkandung dalam novel tersebut.
Sebagian
besar orang membaca sebuah novel hanya ingin menikmati cerita yang disajikan
oleh pengarang. Pembaca hanya akan mendapatkan kesan secara umum dan bagian
cerita tertentu yang menarik. Membaca sebuah novel yang terlalu panjang yang
dapat diselesaikan setelah berulang kali membaca dan setiap kali membaca hanya
dapat menyelesaikan beberapa episode akan memaksa pembaca untuk mengingat
kembali cerita yang telah dibaca sebelumnya. Hal ini menyebabkan pemahaman
keseluruhan cerita dari episode ke episode berikutnya akan terputus.
Dari
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah cerita
fiktif yang berusaha menggambarkan atau melukiskan kehidupan tokoh-tokohnya
dengan menggunakan alur. Cerita fiktif tidak hanya sebagai cerita khayalan
semata, tetapi sebuah imajinasi yang dihasilkan oleh pengarang adalah realitas
atau fenomena yang dilihat dan dirasakan.
2. Ciri-ciri Novel
Hendy (1993:
225) menyebutkan ciri-ciri novel sebagai berikut.
a. Sajian cerita lebih panjang
dari cerita pendek dan lebih pendek dari roman. Biasanya cerita dalam novel
dibagi atas beberapa bagian.
b. Bahan cerita diangkat dari
keadaan yang ada dalam masyarakat dengan ramuan fiksi pengarang.
c. Penyajian berita berlandas
pada alur pokok atau alur utama yang batang tubuh cerita, dan dirangkai dengan
beberapa alur penunjang yang bersifat otonom (mempunyai latar tersendiri).
d. Tema sebuah novel terdiri
atas tema pokok (tema utama) dan tema bawahan yang berfungsi mendukung tema
pokok tersebut.
e. Karakter tokoh-tokoh utama
dalam novel berbeda-beda. Demikian juga karakter tokoh lainnya. Selain itu,
dalam novel dijumpai pula tokoh statis dan tokoh dinamis. Tokoh statis adalah
tokoh yang digambarkan berwatak tetap sejak awal hingga akhir. Tokoh dinamis
sebaliknya, ia bisa mempunyai beberapa karakter yang berbeda atau tidak tetap.
Pendapat
tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri novel adalah cerita yang
lebih panjang dari cerita pendek, diambil dari cerita masyarakat yang diolah
secara fiksi, serta mempunyai unsur intrinsik dan ekstrinsik. Ciri-ciri novel
tersebut dapat menarik pembaca atau penikmat karya sastra karena cerita yang
terdapat di dalamnya akan menjadikan lebih hidup.
3. Macam-macam Novel
Ada beberapa
jenis novel dalam sastra. Jenis novel mencerminkan keragaman tema dan
kreativitas dari sastrawan yang tak lain adalah pengarang novel. Nurgiyantoro
(2005: 16) membedakan novel menjadi novel serius dan novel popular.
a. Novel Populer
Sastra
populer adalah perekam kehidupan dan tidak banyak memperbincangkan kembali
kehidupan dalam serba kemungkinan. Sastra popular menyajikan kembali
rekaman-rekaman kehidupan dengan tujuan pembaca akan mengenali kembali
pengalamannya. Oleh karena itu, sastra populer yang baik banyak mengundang
pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya (Kayam dalam Nurgiyantoro, 2005: 18).
Heryanto
dalam Salman (2009: 2) mengungkapkan ragam kesusastraan Indonesia, meliputi:
(1) kesusastraan yang diresmikan, diabsahkan, (2) kesusastraan yang dilarang,
(3) kesusastraan yang diremehkan, dan (4) kesusastraan yang dipisahkan.
Kesusastraan yang diresmikan (konon) adalah kesusastraan yang sejauh ini banyak
dipelajari di pendidikan (tinggi). Kesusastraan yang dilarang adalah karya-karya
yang dianggap menggangu status quo (kekuasaan) seperti yang telah
terjadi seperti zaman Balai Pustaka yaitu karya Marco Kartodikromo. Pada zaman
Orde Baru, karya-karya Pramudya Ananta Toer atau kasus cerpen karya Ki Panji
Kusmin, Langit Makin Mendung, menjadi contoh yang terlarang pula.
Sementara itu, karya sastra yang dipisahkan adalah karya sastra daerah yang
ditulis dalam bahasa daerah. Dalam posisi itu, karya sastra yang diremehkan
adalah karya sastra yang dianggap populer, sastra hiburan.
Berbicara
tentang sastra populer, Kayam dalam Nurgiyantoro (2005: 18) menyebutkan bahwa
sastra populer adalah perekam kehidupan dan tak banyak memperbincangkan kembali
kehidupan dalam serba kemungkinan . ia menyajikan kembali rekaan-rekaan
kehidupan itu dengan harapan pembaca akan mengenal kembali
pengalaman-pengalamannya sehingga merasa terhibur karena seseorang telah
menceritakan pengalamannya dan bukan penafsiran tentang emosi itu. Oleh karena
itu, sastra populer yang baik banyak mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan
dirinya.
Hal seperti
itu dapat dilihat dari fenomena yang terjadi pada novel Cintapucino karya
Icha Rahmanti yang tahun lalu sempat diliris ke dalam bentuk film. Banyak
remaja khsusnya remaja puti yang mengungkapkan kesamaan kejadian di masa SMA
yang mirip dengan yang digambarkan oleh Icha Rahmanti dalam novelnya.
Adapun
pengkategorian novel sebagai novel serius atau novel populer bukanlah menjadi
hal baru dalam dunia sastra. Usaha ini tidak mudah dilakukan karena bersifat
riskan. Selain dipengaruhi oleh hal subjektif yang muncul dari pengamat, juga
banyak faktor dari luar yang menentukan. Misalnya, sebuah novel yang
diterbitkan oleh penerbit yang biasa menerbitkan karya sastra yang telah mapan,
karya tersebut akan dikategorikan sebagai karya yang serius, karya yang
bernilai tinggi, padahal pengamat belum membaca isi novel.
Kayam dalam
Nurgiyantoro (2005: 17) menyebutkan kata ”pop” erat diasosiasikan dengan kata
”populer”, mungkin karena novel-novel itu sengaja ditulis untuk ”selera populer”
yang kemudian dikenal sebagai ”bacaan populer”. Jadilah istilah pop sebagai
istilah baru dalam dunia sastra kita.
Nurgiyantoro
juga menjelaskan bahwa novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan
banyak penggemarnya, khususnya pembaca dikalangan remaja. Novel jenis ini
menampilkan masalah yang aktual pada saat novel itu muncul. Pada umumnya, novel
populer bersifat artifisial, hanya bersifat sementara, cepet ketinggalan zaman,
dan tidak memaksa orang untuk membacanyasekali lagi seiring dengan munculnya
novel-novel baru yang lebih populer pada masa sesudahnya (2005: 18). Di sisi
lain, novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati karena
semata-mata menyampaikan cerita (Stanton dalam Nurgiyantoro 2005: 19). Novel
populer tidak mengejar efek estetis seperti yang terdapat dalam novel serius.
Beracuan
dari beberapa pendapat di atas, ditarik sebuah simpulan bahwa novel popular
adalah cerita yang bisa dibilang tidak terlalu rumit. Alur cerita yang mudah
ditelusuri, gaya bahasa yang sangat mengena, fenomena yang diangkat terkesan
sangat dekat. Hal ini pulalah yang menjadi daya tarik bagi kalangan remaja sebagai
kalangan yang paling menggemari novel populer. Novel populer juga mempunyai
jalan cerita yang menarik, mudah diikuti, dan mengikuti selera pembaca. Selera
pembaca yang dimaksudkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan kegemaran
naluriah pembaca, seperti motif-motif humor dan heroisme sehingga pembaca
merasa tertarik untuk selalu mengikuti kisah ceritanya.
b. Novel Serius
Novel serius
atau yang lebih dikenal dengan sebutan novel sastra merupakan jenis karya
sastra yang dianggap pantas dibicarakan dalam sejarah sastra yang bermunculan
cenderung mengacu pada novel serius. Novel serius harus sanggup memberikan
segala sesuatu yang serba mungkin, hal itu yang disebut makna sastra yang
sastra. Novel serius yang bertujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca,
juga mempunyai tujuan memberikan pengalaman yang berharga dan mengajak pembaca
untuk meresapi lebih sungguh-sungguh tentang masalah yang dikemukakan.
Berbeda
dengan novel populer yang selalu mengikuti selera pasar, novel sastra tidak
bersifat mengabdi pada pembaca. Novel sastra cenderung menampilkan tema-tema
yang lebih serius. Teks sastra sering mengemukakan sesuatu secara implisit
sehingga hal ini bisa dianggap menyibukkan pembaca. Nurgiyantoro (2005: 18)
mengungkapkan bahwa dalam membaca novel serius, jika ingin memahaminya dengan
baik diperlukan daya konsentrasi yang tinggi disertai dengan kemauan untuk itu.
Novel jenis ini, di samping memberikan hiburan juga terimplisit tujuan
memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca atau paling tidak mengajak
pembaca untuk meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh-sungguh tentang
permasalahan yang dikemukakan.
Kecenderungan
yang muncul pada novel serius memicu sedikitnya pembaca yang berminat pada
novel sastra ini. Meskipun demikian, hal ini tidak menyebabkan popularitas
novel serius menurun. Justru novel ini mampu bertahan dari waktu ke waktu.
Misalnya, roman Romeo Juliet karya William Shakespeare atau karya Sutan
Takdir, Armin Pane, Sanusi Pane yang memunculkan polemik yang muncul pada
dekade 30-an yang hingga saat ini masih dianggap relevan dan belum ketinggalan
zaman (Nurgiyantoro, 2005:21).
Beracuan
dari pendapat di atas, ditarik sebuah simpulan bahwa novel serius adalah novel
yang mengungkapkan sesuatu yang baru dengan cara penyajian yang baru pula.
Secara singkat disimpulkan bahwa unsur kebaruan sangat diutamakan dalam novel
serius. Di dalam novel serius, gagasan diolah dengan cara yang khas. Hal ini
penting mengingat novel serius membutuhkan sesuatu yang baru dan memiliki ciri
khas daripada novel-novel yang telah dianggap biasa. Sebuah novel diharapkan
memberi kesan yang mendalam kepada pembacanya dengan teknik yang khas ini.
B. Hakikat Nilai Pendidikan
1. Pengertian Nilai
Nilai adalah
sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia.
Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan
manusia. Nilai sebagai kualitas yang independen akan memiliki ketetapan yaitu
tidak berubah yang terjadi pada objek yang dikenai nilai. Persahabatan sebagai
nilai (positif/ baik) tidak akan berubah esensinya manakala ada pengkhianatan
antara dua yang bersahabat. Artinya nilai adalah suatu ketetapan yang ada
bagaimanapun keadaan di sekitarnya berlangsung.
Sastra dan
tata nilai merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam hakikat
mereka sebagai sesuatu yang eksistensial. Sastra sebagai produk kehidupan.,
mengandung nilai-nilai sosial, filsafat, religi, dan sebagainya baik yang
bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang mempeunyai penyodoran konsep
baru (Suyitno, 1986: 3). Sastra tidak hanya memasuki ruang serta nilai-nilai
kehidupan personal, tetapi juga nilai-nilai kehidupan manusia dalam arti total.
Menilai oleh
Setiadi (2006: 110) dikatakan sebagai kegiatan menghubungkan sesuatu dengan
sesuatu yang lain sehingga diperoleh menjadi suatu keputusan yang menyatakan
sesuatu itu berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik, atau buruk,
manusiawi atau tidak manusiawi, religius atau tidak religius, berdasarkan jenis
tersebutlah nilai ada. Lasyo (Setiadi 2006: 117) menyatakan, nilai manusia
merupakan landasan atau motivasi dalam segala tingkah laku atau perbuatannya.
Sejalan dengan Lasyo, Darmodiharjo (dalam Setiadi, 2006: 117) mengungkapkan
nilai merupakan sesuatu yang berguna bagi manusia baik jasmani maupun rohani.
Sedangkan Soekanto (1983: 161) menyatakan, nilai-nilai merupakan abstraksi
daripada pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan sesamanya. Pada
hakikatnya, nilai yang tertinggi selalu berujung pada nilai yang terdalam dan
terabstrak bagi manusia, yaitu menyangkut tentang hal-hal yang bersifat hakki.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas pengertian nilai dapat disimpulkan
sebagai sesuatu yang bernilai, berharga, bermutu, akan menunjukkan suatu
kualitas dan akan berguna bagi kehidupan manusia.
2. Pengertian Pendidikan
Secara
etimologis, pendidikan berasal dari bahasa Yunani “Paedogogike”, yang
terdiri atas kata “Pais” yang berarti Anak” dan kata “Ago” yang
berarti “Aku membimbing” (Hadi, 2003: 17). Jadi Soedomo Hadi menyimpulkan
paedogogike berarti aku membimbing anak. Purwanto (1986: 11) menyatakan bahwa
pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan
anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Hakikat pendidikan bertujuan untuk mendewasakan anak didik, maka seorang
pendidik haruslah orang yang dewasa, karena tidak mungkin dapat mendewasakan
anak didik jika pendidiknya sendiri belum dewasa. Tilaar (2002;435) mengatakan
hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Selanjutnya dikatakan pula
bahwa, memanusiakan manusia atau proses humanisasi melihat manusia sebagai
suatu keseluruhan di dalam eksistensinya. Eksistensi ini menurut penulis adalah
menempatkan kedudukan manusia pada tempatnya yang terhormat dan bermartabat.
Kehormatan itu tentunya tidak lepas dari nilai-nilai luhur yang selalu dipegang
umat manusia.
Pendidikan
pada hakikatnya juga berarti mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari pernyataan
tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam pendidikan, yaitu: a) cerdas, berarti
memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Cerdas
bermakna kreatif, inovatif dan siap mengaplikasikan ilmunya; b) hidup, memiliki
filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk
kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan
mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepadaNya. Filosofi
hidup ini sangat syarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat
kehidupan seseorang, memanusiakan manusia, memberikan makanan kehidupan berupa
semangat, nilai moral, dan tujuan hidup; c) bangsa, berarti manusia selain
sebagai individu juga merupakan makhluk sosial yang membutuhkan keberadaan
orang lain. Setiap individu berkewajiban menyumbangkan pengetahuannya untuk
masyarakat meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitar dengan ilmu,
sesuai dengan yang diajarkan agama dan pendidikan. Indikator terpenting
kemajuan suatu bangsa adalah pendidikan dan pengajaran (Ratna, 2005: 449).
Segala
sesuatu yang digunakan untuk mendidik harus yang mengandung nilai didik,
termasuk dalam pemilihan media. Novel sebagai suatu karya sastra, yang
merupakan karya seni juga memerlukan pertimbangan dan penilaian tentang seninya
(Pradopo, 2005: 30). Pendidikan pada kahikatnya merupakan upaya membantu
peserta didik untuk menyadari nilai-nilai yang dimilikinya dan berupaya
memfasilitasi mereka agar terbuka wawasan dan perasaannya untuk memiliki dan
meyakini nilai yang lebih hakiki, lebih tahan lama, dan merupakan kebenaran
yang dihormati dan diyakini secara sahih sebagai manusia yang beradab (Setiadi,
2006: 114).
Adler (dalam
Arifin, 1993: 12) mengartikan pendidikan sebagai proses dimana seluruh
kemampuan manusia dipengaruhi oleh pembiasaan yang baik untuk untuk membantu
orang lain dan dirinya sendiri mencapai kebiasaan yang baik. Secara etimologis,
sastra juga berarti alat untuk mendidik (Ratna, 2009: 447). Masih menurut
Ratna, lebih jauh dikaitkan dengan pesan dan muatannya, hampir secara
keseluruhan karya sastra merupakan sarana-sarana etika. Jadinya antara
pendidikan dan karya sastra (novel) adalah dua hal yang saling berkaitan.
Berdasarkan
dari beberapa pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa nilai pendidikan
merupakan segala sesuatu yang baik maupun buruk yang berguna bagi kehidupan
manusia yang diperoleh melalui proses pengubahan sikap dan tata laku dalam
upaya mendewasakan diri manusis melalui upaya pengajaran. Dihubungkan dengan
eksistensi dan kehidupan manusia, nilai-nilai pendidikan diarahkan pada
pembentukan pribadi manusis sebagai makhluk individu, sosial, religius, dan
berbudaya. Nilai-nilai pendidikan yang tersirat dalam berbagai hal dapat
mengembangkan masyarakat dalam berbagai hal dapat mengembangkan masyarakat
dengan berbagai dimensinya dan nilai-nilai tersebut mutlak dihayati dan
diresapi manusia sebab ia mengarah pada kebaikan dalam berpikir dan bertindak
sehingga dapat memajukan budi pekerti serta pikiran/ intelegensinya.
Nilai-nilai pendidikan dapat ditangkap manusia melalui berbagai hal diantaranya
melalui pemahaman dan penikmatan sebuah karya sastra. Sastra khususnya
humaniora sangat berperan penting sebagai media dalam pentransformasian sebuah
nilai termasuk halnya nilai pendidikan.
3. Macam-macam Nilai
Pendidikan
Sastra
sebagai hasil kehidupan mengandung nilai-nilai sosial, filosofi, religi dan
sebagainya. Baik yang bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang merupakan
menciptakan terbaru semuanya dirumuskan secara tersurat dan tersirat. Sastra
tidak saja lahir karena kejadian, tetapi juga dari kesadaran penciptaannya
bahwa sastra sebagai sesuatu yang imajinatif, fiktif, dll, juga harus melayani
misi-misi yang dapat dipertanggungjawabkan serta bertendens. Sastrawan pada
waktu menciptakan karyanya tidak saja didorong oleh hasrat untuk menciptakan
keindahan, tetapi juga berkehendak untuk menyampaikan pikiran-pikirannya,
pendapat-pendapatnya, dan kesan-kesan perasaannya terhadap sesuatu.
Menacari
nilai luhur dari karya sastra adalah menentukan kreativitas terhadap hubungan
kehidupannya. Dalam karya sastra akan tersimpan nilai atau pesan yang berisi
amanat atau nasihat. Melalui karyanya, pencipta karya sastra berusaha untuk
mempengaruhi pola piker pembaca dan ikut mengkaji tentang baik dan buruk, benar
mengambil pelajaran, teladan yang patut ditiru sebaliknya, untuk dicela bagi
yang tidak baik. Karya sastra diciptakan bukan sekedar untuk dinikmati, akan
tetapi untuk dipahami dan diambil manfaatnya. Karya sastra tidak sekedar benda
mati yang tidak berarti, tetapi didalamnya termuat suatu ajaran berupa
nilai-nilai hidup dan pesan-pesan luhur yang mampu menambah wawasan manusia
dalam memahami kehidupan. Dalam karya sastra, berbagai nilai hidup dihadirkan
karena hal ini merupakan hal positif yang mampu mendidik manusia, sehingga
manusia mencapai hidup yang lebih baik sebagai makhluk yang dikaruniai oleh
akal, pikiran, dan perasaan.
Novel
merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak memberikan penjelasan
secara jelas tentang sistem nilai. Nilai itu mengungkapkan perbuatan apa yang dipuji
dan dicela, pandangan hidup mana yang dianut dan dijauhi, dan hal apa saja yang
dijunjung tinggi. Adapun nilai-nilai pendidikan dalam novel sebagai berikut.
a. Nilai Pendidikan Religius
Religi
merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati
manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan
secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia
secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, 1995:
90). Nilai-nilai religious bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik
menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang
terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut
mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada
nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan
personal.
Kehadiran
unsur religi dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri
(Nurgiyantoro, 2005: 326). Semi (1993: 21) menyatakan, agama merupakan kunci
sejarah, kita batu memahami jiwa suatu masyarakat bila kita memahami agamanya.
Semi (1993: 21) juga menambahkan, kita tidak mengerti hasil-hasil kebudayaanya,
kecuali bila kita paham akan kepercayaan atau agama yang mengilhaminya. Religi
lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Nilai religius yang merupakan nilai
keohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan
manusia.
b. Nilai Pendidikan Moral
Moral
merupakan sesuatu yang igin disampaikan pengarang kepada pembaca, merupakan
makna yang terkandung dalam karya sastra, makna yang disaratkan lewat cerita.
Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak
semua tema merupaka moral (Kenny dalam Nurgiyantoro, 2005: 320). Moral
merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran dan pandangan itu
yang ingin disampaikan kepada pembaca. Hasbullah (2005: 194) menyatakan bahwa,
moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia
agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa
yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu
tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan
bermanfaat bagi orang itu , masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Uzey
(2009: 2) berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu
nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu
berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral
berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang
lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.
Dapat
disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan
tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang
meliputi perilaku. Untuk karya menjunjung tinggi budi pekerti dan nilai susila.
c. Nilai Pendidikan Sosial
Kata
“sosial” berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat/ kepentingan umum.
Nilai sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata
cara hidup sosial. Perilaku sosial brupa sikap seseorang terhadap peristiwa
yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara
berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai sosial yang
ada dalam karya sastra dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan
(Rosyadi, 1995: 80). Nilai pendidikan sosial akan menjadikan manusia sadar akan
pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu
dengan individu lainnya.
Nilai sosial
mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah
masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka
menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam
nilai sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya,
pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan
masyarakat.
Sejalan
dengan tersebut nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat
untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri, dan
berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai
norma yang berlaku. Uzey (2009: 7) juga berpendapat bahwa nilai sosial mengacu
pada pertimbangan terhadap suatu tindakan benda, cara untuk mengambil keputusan
apakah sesuatu yang bernilai itu memiliki kebenaran, keindahan, dan nilai
ketuhanan. Jadi nilai sosial dapat disimpulkan sebagai kumpulan sikap dan
perasaan yang diwujudkan melalui perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang
yang memiliki nilai tersebut. Nilai sosial merupakan sikap-sikap dan perasaan
yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan
apa yang benar dan apa yang penting.
d. Nilai Pendidikan Budaya
Nilai-nilai
budaya menurut Rosyadi (1995:74) merupakan sesuatu yang dianggap baik dan
berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu
dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nolai
budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada sutu masyarakat dan
kebudayaannya.
Nilai budaya
merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam
pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu
singkat. Uzey (2009: 1) berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya
dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu.
Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara
individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh
masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang
digambarkan.
Sistem nilai
budaya merupakan inti kebudayaan, sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan
menata elemen-elemen yang berada pada struktur permukaan dari kehidupan manusia
yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan
material. Sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam
alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus
mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sisitem nilai budaya
biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Dapat
disimpulkan dari pendapat tersebut sistem nilai budaya menempatkan pada posisi
sentral dan penting dalam kerangka suatu kebudayaan yang sifatnya abstrak dan
hanya dapat diungkapkan atau dinyatakan melalui pengamatan pada gejala-gejala
yang lebih nyata seperti tingkah laku dan benda-benda material sebagai hasil
dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola. Adapun nilai-nilai
budaya yang terkandung dalam novel dapat diketahui melalui penelaahan terhadap
karakteristik dan perilaku tokoh-tokoh dalam cerita.
D. Penelitian Relevan
Hasil
Penelitian sebelumnya yang relevan dan dapat dijadikan acuan serta masukan pada
penelitian ini adalah:
1. Ririh Yuli Atminingsih dalam penelitian berjudul “Analisis Gaya Bahasa dan
Nilai Pendidikan Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata”. Dalam
kesimpulannya gaya bahasa yang digunakan dalam Novel Laskar Pelangi antara
lain: personifikasi, hiperbola, antitesis, simile, metafora, epizeukis, eponim,
anadipsis, repetisi, parifrasis, tautologi, koreksio, pleonasme, ironi,
paradoks, satire, hipalase, innuendo, metonomia, sinekdoke pars prototo,
sinekdoke totum pro parte, alusio, epitet, antonomasia, ellipsis, asidenton,
tautotes, anaphora, pertanyaan retoris. Ririh juga menyatakan alasan pengarang
menggunakan gaya bahasa pada novel Laskar Pelangi adalah untuk
mengungkapkan ekspresi jiwa atau perasaan tertentu, untuk menunjukkan
kreativitas seni dalam bentuk bahasa, untuk membangkitkan inajinasi pembaca,
untuk memberikan kesan keindahan pada novel, untuk memperjelas makna kata,
untuk menampilkan variasi dan gaya yang berbeda dengan karangan novel lain.
Nilai pendidikan yang digunakan adalah nilai religius, nilai moral, dan nilai
sosial. Persamaan karya ilmiah Ririh Yuli Atminingsih dengan penulis yaitu
sama-sama mengkaji gaya bahasa dan nilai pendidikan dengan judul novel yang
berbeda. Perbedaannya adalah terdapat dalam simpulan penelitian. Karya ilmiah
Ririh dalam simpulannya terdapat nilai religious, moral, dan sosial; sedangkan
dalam karya ilmiah penulis juga ditemukan nilai budaya.
2. Triyatmi dalam penetian berjudul “Kajian Gaya Bahasa dalam Kain Rentang
Kampanye Pemilu 2004” penelitian ini disimpulkan: 1) Gaya bahasa yang digunakan
dalam kain rentang kampanye 2004, baik kampanye legislative, calon presiden,
dan calon wakil presiden sebagai berikut: a) Empat jenis gaya bahasa yang
digunakan: (1) Gaya bahasa perbandingan meliputi eufemisme, epitet, hiperbola,
simile, personifikasi, sinekdoke, dan asosiasi; (2) Gaya bahasa perulangan,
meliputi anaphora dan aliterasi; (3) Gaya Bahasa sindiran (satire); (4) Gaya
bahasa pertentangan (oksimoron). b) Tidak ditemukan gaya bahasa penegasan. c)
Gaya bahasa yang sering digunakan dalam kain rentang kampanye 2004 adalah
eufemisme dan epitet. 2) Alasan penggunaan gaya bahasa pada kain rentang
kampanye 2004, yaitu: a) Penyesuaiaan konsep yang menjadi dasar penulisan kain
rentang oleh masing-masing tim sukses partai; b) Kain rentang yang dibuat
merupakan salah satu media publikasi yang digunakan untuk sosialisasi program
kerja partai yang bersangkutan; c) Bahasa yang sederhana, simpatik, dan
meyakinkan merupakan media yang mudah diingat dan menarik perhatian massa calon
pemilih. Persamaan karya ilmiah Triyatmi dengan penulis yaitu sama-sama
mengkaji gaya bahasa, tetapi dalam simpulan karya ilmiah Triyatmi tidak
ditemukan gaya bahasa penegasan. Perbedaannya adalah objek yang diteliti. Objek
yang diteliti Triyatmi adalah kain rentang kampanye pemilu 2004, sedangkan
penulis objek yang diteliti adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea
Hirata.
3. Endang Lindarti dalam penelitian berjudul “Analisis Struktur dan Nilai
Pendidikan dalam Cerita Rakyat di Kabupaten Karanganyar”. Simpulan yang
ditulisnya yaitu antarsastra dan nilai kehidupan terdapat interaksi yang kuat.
Jadi antara nilai sastra dan nilai-nilai didik merupakan dua fenomena sosial
yang saling melengkapi dalam kehadirannya dalam karya sastra sebagai suatu yang
penting. Dalam cerita rakyat tersebut, nilai didik yang terkandung adalah nilai
moral, religius, sosial, dan budaya. Persamaan karya ilmiah Endang Lindiarti
dengan penulis yaitu sama-sama di dalam penelitiannya terdapat simpulan yang
mengandung unsur nilai moral, religi, sosial, dan budaya. perbedaannya terdapat
pada objek yang dikaji. Obyek yang dikaji dalam penelitian Endang Lindiarti
adalah cerita rakyat di Kabupaten Karanganyar, sedangkan yang dikaji penulis
objek penelitiannya adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.
E. Kerangka
Berpikir
Dalam novel Sang
Pemimpi terdapat segi yang akan penulis analisis dari nilai-nilai
pendidikan yang terdapat di dalamnya. Nilai-nilai pendidikan yang terdapat
dalam novel Sang Pemimpi meliputi empat macam nilai pendidikan, yaitu:
nilai pendidikan moral, religius, sosial, dan budaya. Semua nilai yang
ditemukan tersebut akan dapat bermanfaat bagi para pembaca novel Sang
Pemimpi. Supaya lebih jelas dapat dilihat pada skema kerangka berpikir
berikut.
BAB III
TUJUAN
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini
sebagai Menyebutkan dan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang
digunakan pengarang dalam novel Sang Pemimpi.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat
penelitian tidak terikat pada satu tempat karena objek yang dikaji berupa
naskah (teks) sastra, yaitu novel Sang Pemimpi. Penelitian ini bukan
penelitian yang analisisnya bersifat statis melainkan sebuah analisis yang
dinamis yang dapat terus dikembangkan.
B. Bentuk dan Strategi
Penelitian
Bentuk
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode content analysis atau
analisis isi. Penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang
menjadi masalah, kemudian menganalisis dan menafsirkan data yang ada. Metode content
analysis atau analisis isi yang digunakan untuk menelaah isi dari suatu
dokumen, dalam penelitian ini dokumen yang dimaksud adalah novel Sang
Pemimpi karya Andrea Hirata.
C. Sumber Data
Sumber data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen. Dokumen yang digunakan
adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata cetakan ke-15 yang
diterbitkan oleh penerbitan Bentang Yogyakarta tahun 2008.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pegumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik catat, karena
data-datanya berupa teks. Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data adalah
sebagai berikut: membaca novel Sang Pemimpi secara berulang-ulang,
mencatat kalimat-kalimat yang menyatakan pemakaian gaya bahasa dan nilai
pendidikan.
E. Validitas Data
Validitas
atau keabsahan data merupakan kebenaran data dari proses penelitian. Dalam
mendapatkan data, dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi. Adapun
triangulasi yang digunakan adalah triangulasi teori, yaitu secara penelitian
terhadap topik yang sama dengan menggunakan teori yang berbeda dalam
menganalisa data.
F. Analisis Data
Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model analisis
mengalir, yang meliputi tiga komponen, yaitu 1) reduksi data; 2) penyajian
data; dan 3) penarikan simpulan. Analisis model mengalir mempunyai tiga
komponen yang saling terjalin dengan baik, yaitu sebelum, selama dan sesudah
pelaksanaan pengumpulan data. Penjelasannya sebagai berikut.
1. Reduksi data
Pada langkah ini data yang
diperolah dicatat dalam uraian yang terperinci. Dari data-data yang sudah
dicatat tersebut, kemudian dilakukan penyederhanaan data. Data-data yang
dipilih hanya data yang berkaitan dengan masalah yang akan dianalisis, dalam
hal ini tentang gaya bahasa dan nilai pendidikan yang terdapat di dalam novel Sang
Pemimpi. Informasi-informasi yang pengacu pada permasalahan itulah
yang menjadi data dalam penelitian ini.
2. Sajian data
Pada langkah ini, data-data
yang sudah ditetapkan kemudian disusun secara teratur dan terperinci agar mudah
dipahami. Data-data tersebut kemudian dianalisis sehingga diperoleh deskripsi
tentang gaya bahasa yang digunakan, kejelasan makna dari gaya bahasa tersebut
dan nilai pendidikannya.
3. Penarikan simpulan/
verifikasi
Pada tahap ini dibuat
kesimpulan tentang hasil dari data yang diperoleh sejak awal penelitian.
Kesimpulan ini masih memerlukan adanya verifikasi (penelitian kembali tentang
kebenaran laporan) sehingga hasil yang diperoleh benar-benar valid.
Ketiga komponen tersebut saling
berkaitan dan dilakukan secara terus-menerus mulai dari awal, saat penelitian
berlangsung, sampai akhir laporan.
Adapun model
analisis mengalir jika digambarkan adalah sebagai berikut.
Masa Pengumpulan Data
REDUKSI DATA
Selama Pasca
Antisipasi
PENYAJIAN DATA
ANALISIS
Selama Pasca
PENARIKAN
KESIMPULAN/VERIFIKASI
Selama Pasca
Gambar 2. Model Analisis
Mengalir
(Miles, Mattew B. &
Huberman, A. Michael, 1992: 18)
G. Prosedur Penelitian
Prosedur
penelitian yang dilakukan peneliti terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut.
1.
Pengumpulan data
Pada tahap ini peneliti
mengumpulkan data berupa kutipan-kutipan yang menunjukkan penggambaran nilai
pendidikan dan pemakaian gaya bahasa dari novel Sang Pemimpi.
2.
Penyeleksian data
Data-data yang telah
dikumpulkan, kemudian diseleksi serta dipilah-pilah mana saja yang akan
dianalisis.
3.
Menganalisis data yang telah diseleksi.
4. Membuat
laporan penelitian.
Laporan penelitian merupakan
tahap akhir dari serangkaian proses. merupakan tahap penyampaian data-data yang
telah dianalisis, dirumuskan, dan ditarik kesimpulan. Kemudian dilakukan
konsultasi dengan pembimbing. Tulisan yang sudah baik disusun menjadi laporan
penelitian, disajikan dan diperbanyak.
Lebih jelasnya dapat dilihat
pada skema prosedur penelitian berikut:
Pengumpulan data
Membuat laporan
Analisis data
Penyeleksian data
Gambar 3. Skema Prosedur
Penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Analisis Nilai-nilai
Pendidikan dalam Novel Sang Pemimpi
1. Nilai Pendidikan Religius
Nilai
religius merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta
alam dan seisinya. Berbicara tentang hubungan manusia dan Tuhan tidak terlepas
dari pembahasan agama. Agama merupakan pegangan hidup bagi manusia. Agama dapat
pula bertindak sebagai pemacu faktor kreatif, kedinamisan hidup, dan perangsang
atau pemberi makna kehidupan. Melalui agama, manusia pun dapat mempertahankan
keutuhan masyarakat agar hidup dalam pola kemasyarakatan yang telah tetap
sekaligus menuntun untuk meraih masa depan yang lebih baik. Seperti dalam
kutipan di bawah ini.
“Jimbron adalah seorang yang
membuat kami takjub dengan tiga macam keheranan. Pertama, kami heran karena
kalau mengaji, ia selalu diantar seorang pendeta. Sebetulnya beliau adalah
seorang pastor karena beliau seorang Katolik, tapi kami memanggilnya Pendeta
Geovany. Rupanya setelah sebatang kara seperti Arai ia menjadi anak asuh sang
pendeta. Namun, pendeta berdarah Itali itu tak sedikit pun bermaksud
mengonversi keyakinan Jimbron. Beliau malah tak pernah telat jika mengantarkan
Jimbron mengaji ke masjid” (SP, 61)
Di lihat
dari kutipan di atas, Tokoh Jimbron dalam novel Sang Pemimpi mencerminkan
tokoh yang taat beragama dengan mengaji setiap harinya, walaupun dia hidup di
lingkungan agama yang berbeda, yaitu agama Katolik. Penamaan nilai religius
yang tinggi mampu menumbuhkan sikap sabar, tidak sombong dan tidak angkuh pada
sesama. Manusia menjadi saling mencintai dan menghormati, dengan demikian
manusia bisa hidup harmonis dalam hubungannnya dengan Tuhan, sesama manusia
maupun makhluk lain. Pendeta Geovany dalam kutipan di atas adalah sosok yang
penyayang dan menghormati manusia lain yang beda agama, ternukti bahwa Jimbron
sebagai anak angkatnya justru malah setiap harinya diantar mengaji dan tidak
sedikit pun bermaksud mengonversi keyakinan Jimbron. Beliau malah tak
pernah telat jika mengantarkan Jimbron mengaji ke masjid.
Kutipan di
atas mempunyai kandungan nilai pendidikan religius karena secara jelas
disampaikan penulis melalui gaya bahasa pars pro toto yang terlihat pada kata “sebatang
kara” yang berarti tidak punya siapa-siapa, hanya hidup seorang diri tanpa
ada keluarga di dekatnya. Pars pro toto adalah gaya bahasa yang melukiskan
sebagian dari keseluruhan, berarti kata tersebut dalam kutipan di atas yang
hidup sebatang kara yang dimaksud adalah Jimbron.
Sebuah karya
sastra yang mengangkat sebuah kemanusiaan yang berdasarkan kebenaran akan
menggugah hati nurani dan akan memberikan kemungkinan pertimbangan baru pada
diri penikmatnya. Oleh karena itu, cukup beralasan apabila sastra dapat
berfungsi sebagai peneguh batin pembaca dalam menjalankan keyakinan agamanya.
Jika setiap
manusia akan saling menghormati dalam menjalankan agamanya, maka hubungan yang
harmonis akan terjalin dan akan menjadikan hidup manusia menjadi tenteram dan
bahagia karena nilai religius merupakan keterkaitan antarmanusia dengan Tuhan
sebagai sumber ketentraman dan kebahagiaan di dunia. Nilai religius akan
menanamkan sikap manusia untuk tunduk dan taat kepada Tuhan atau dalam
keseharian kita kenal dengan takwa. Seperti yang tergambar dalam tokoh Arai di
bawah ini.
“Setiap habis maghrib, Arai
melantunkan ayat-ayat suci Al Quran di bawah temaram lampu minyak dan saat itu
seisi rumah kami terdiam.”(SP, 33)
Perilaku Arai dalam
kesehariannya mencerminkan seorang muslim. Orang yang taat pada perintah agama,
hal itu terbukti bahwa setiap habis maghrib dia selalu membacakan ayat-ayat
suci Al Quran dengan kesadarannya sendiri, tanpa diperintah siapapun.
Kutipan di
atas mempunyai kandungan nilai pendidikan religius karena secara jelas
disampaikan penulis melalui gaya bahasa hipalase yaitu gaya bahasa yang
menggunakan kata tertentu untuk menerangkan sesuata, namun kata tersebut tidak
tepat bagi kata yang diterangkan. Hal tersebut dapat dilihat pada kalimat “seisi
rumah kami terdiam”, yang dimaksud dalam kalimat kalimat tersebut adalah
anggota keluarga Arai.
2. Nilai Pendidikan Moral
Nilai moral
sering disamakan dengan nilai etika, yaitu suatu nilai yang menjadi ukuran
patut tidaknya manusia bergaul dalam kehidupan bermasyarakat. Moral merupakan
tingkah laku atau perbuatan manusia yang dipandang dari nilai individu itu
berada. Sikap disiplin tidak hanya dilakukan dalam hal beribadah saja, tetapi
dalam segala hal, sikap yang penuh dengan kedisiplinan akan menghasilkan
kebaikan. Seperti halnya jika dalam agama, seorang hamba jika menjalankan
shalat tepat waktu akan mendapat pahala lebih banyak, demikian juga jika
disiplin dijalankan pada pekerjaan lainnya dan tanpa memandang siapa yang
berperan dalam melakukan
Perbuatan disiplin tersebut,
Seperti pada kutipan berikut mengandung nilai moral yang sangat penting.
“WC ini sudah hampir setahun
diabaikan karena keran air yang mampet. Tapi manusia-manusia cacing, para
intelektual muda SMA Negeri Bukan Main yang tempurung otaknya telah pindah ke
dengkul, nekat menggunakannya jika panggilan alam itu tak tertahankan. Dengan
hanya berbekal segayung air saat memasuki tempat sakral itu, mereka menghinakan
dirinya sendiri dihadapan agama Allah yang mengajarkan bahwa kebersihan adalah
sebagian dari iman. Dan kamilah yang menaanggung semua kebejatan moral
mereka.”(SP, 130)
Kutipan di
atas sangat tidak pantas dijadikan contoh bagi masyarakat, khususnya para
penerus bangsa (siswa). Jelas WC yang keran airnya mampet, malah masih
digunakan. Apalagi yang menggunakannya adalah para intelek muda yang dasar
pendidikannya ada. Mereka yang menggunakan tidak menghiraukan walaupun agama
sudah mengajarkan kebersihan adalah sebagian dari iman. Mereka yang melakukan
justru malah tidak merasa bersalah, walaupun orang lain yang kena dampak dari
ulah mereka. Pendidikan moral sangat penting untuk mendidik manusia yang belum
benar tapi merasa sudah benar.
Kutipan di
atas mempunyai kandungan nilai pendidikan moral karena secara jelas disampaikan
penulis melalui gaya bahasa sarkasme yaitu gaya bahasa sindiran yang paling
kasar dalam pengungkapannnya. Hal itu dapat dilihat pada kalimat “tempurung
otaknya telah pindah ke dengkul”. Arti dari kalimat tersebut adalah orang yang
berbuaat seenaknya sendiri tanpa peduli aturan dan etika.
Pengembangan
nilai moral sangat penting supaya manusia memahami dan menghayati etika ketika
berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat. Pemahaman dan penghayatan
nilai-nilai etika mampu menempatkan manusia sesuai kapasitasnya, dengan
demikian akan terwujud perasaan saling hormat, saling sayang, dan tercipta
suasana yang harmonis. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut ini:
“ LAIN KALI MENCALONKAN
DIRINYA JADI BUPATI!! PASANG HURUF H BESAR DI DEPAN NAMANYA, MENGAKU DIRINYA
HAJI???!! PADAHAL AKU TAHU KELAKUANNYA!! WAKTU JADI MAHASISWA, WESEL DARI
IBUNYA DIPAKAINYA UNTUK MAIN JUDI BUNTUT!!!”(SP, 168)
“ITULAH KALAU KAU MAU TAHU
TABIAT PEMIMPIN ZAMAN SEKARANG, BOI!! BARU MENCALONKAN DIRI SUDAH JADI PENIPU,
BAGAIMANA KALAU BAJINGAN SEPERTI ITU JADI KETUA!!??”(SP, 168)
Kutipan di
atas terlihat jelas mengandung nilai pendidikan moral melalui penggunakan gaya
bahasa antifrasis yaitu gaya bahasa sindiran yang mempergunakan kata-kata yang
bermakna kebalikannya dan bernada ironis. Hal itu dapat dilihat dari kalimat “bagaimana
kalau bajingan itu jadi ketua!!??”. Kalimat tersebut mempunyai arti
menyindir seseorang yang mempunyai kelakuan tidak baik seandainya menyalonkan
menjadi ketua, maka tidak bisa dibayangkan anak buahnya akan seperti apa.
Kedua
kutipan di atas mengandung makna tersirat nilai moral, karena tercantum jelas
bahwa bupati yaitu pemimpin sekarang kelakuannya sudah tidak jujur dan
menghalalkan segala cara hanya demi merebut kursi kepemimpinannya. Hal tersebut
perlu diubah, supaya moral manusia yang lain tidak ikut tercemar. Adapun nilai
yang dimaksud dalam konteks tersebut menyangkut baik dan buruk yang diterima
umum mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban. Moral juga dapat dikatakan
sebagai ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu rangkaian cerita karena
karya sastra itu menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan
yang berlaku.
3. Nilai Pendidikan Sosial
Nilai sosial
merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup
sosial. Suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek,
gagasan, atau orang juga termasuk di dalamnya. Karya sastra berkaitan erat
dengan nilai sosial, karena karya sastra dapat pula bersumber dari
kenyataan-kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Nilai sosial mencakup
kebutuhan hidup bersama, seperti kasih sayang, kepercayaan, pengakuan, dan
penghargaan. Nilai sosial yang dimaksud adalah kepedulian terhadap lingkungan
sekitar. Kepedulian tersebut dapat berupa perhatian maupun berupa kritik. Kritik
tersebut dilatar belakangi oleh dorongan untuk memprotes ketidakadilan yang
dilihat, didengar maupun yang dialaminya, seperti yang terdapat dalam kutipan
berikut.
“Aku ingin menyelamatkan
Jimbron walaupun benci setengah mati pada Arai. Aku dan Arai menopang Jimbron
dan beruntung kami berada dalam labirin gang yang membingungkan.”(SP, 15)
Kutipan di
atas dapat di jelaskan bahwa walaupun Ikal sangat benci kepada Arai tapi jiwa
penolongnya kepada Jimbron masih tetap ada dalam dirinya, karena dia merasa
walau bagaimanapun mereka adalah bersaudara. Kutipan di atas secara jelas
megandung nilai pendidikan sosial melalui penggunakan gaya bahasa hiperbola
yaitu gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, misalnya
membesar-besarkan suatu hal dari yang sesungguhnya. Hal itu dapat dilihat dari
ungkapan “benci setengah mati” yang mempunyai arti sangat membenci.
Nilai sosial
berkenaan dengan kemanusiaan dan mengembangkan kehidupan bersama, seperti kasih
sayang, penghargaan, kerja sama, perlindungan, dan sifat-sifat yang ditujukan
untuk kepentingan kemanusiaan lainnya yang merupakan kebiasaan yang diwariskan
secara turun temurun. Seperti yang tercermin pada kutipan di bawah ini.
“Aku membantu membawa
buku-bukunya dan kami meninggalkan gubuk berdinding lelak beratap daun itu
dengan membiarka pintu dan jendela-jendelanya terbuka karena dipastikan tak kan
ada siapa-siapa untuk mengambil apapun.”(SP, 25)
Beberapa
hari setelah ayahnya meninggal Ikal dan ayahnya menjemput Arai untuk di bawa ke
rumahnya. Arai dan Ikal sebenarnya adalah masih saudara. Pada waktu menjemput
Arai, Ikal membantu Arai untuk membawakan buku-bukunya yang masih perlu di
bawa.
Kutipan di
atas dapat didlihat secara jelas mengandung nilai pendidikan sosial melalui
penggunakan gaya bahasa alegori yaitu gaya bahasa yang bertautan satu dengan
yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Hal tersebut dapat dilihat dari
kata “membawa”, “meninggalkan”, dan “membiarkan. Kata itu mempunyai
pertautan dalam satu kutipan.
Nilai sosial
juga berupa hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup
sosial. Nilai dalam karya sastra, nilai sosial dapat dilihat dari cerminan
kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan sehingga diharapkan mampu
memberikan peningkatan kepekaan rasa kemanusiaan. Cerminan tersebut dapat
dilihat dari kutipan di bawah ini.
“Aku tersenyum tapi tangisku
tak reda karena seperti mekanika gerak balik helikopter purba ini, Arai telah
memutar balikkan logikasentimental ini. Ia justru berusaha menghiburku pada
saat aku seharusnya menghiburnya. Dadaku sesak.”(SP, 28)
Kutipan di
atas menggunakan gaya bahasa paradoks yaitu gaya bahasa yang bertentangan dalam
satu kalimat. Sepintas lalu hal tersebut tidak masuk akal. Hal itu dapat
dilihat dari kalimat “aku tersenyum tapi tangisku tak reda”. Kalimat
tersebut mempunyai arti Ikal masih bisa tersenyum ketika dia menangis.
Tokoh Ikal
yang seharusnya menghibur Arai ketika ia mendapat musibah ternyata malah
berputar terbalik. Justru Arai yang berusaha menghibur Ikal supaya dia
tersenyum, itulah sosok Arai yang tidak mudah ditebak. Sikap Arai yang peduli
terhadap orang lain juga dapat dilihat dari kutipan di bawah ini.
“Arai menyerahkan
karung-karung kami pada Mak Cik. Beliau terkaget-kaget. Lalu aku tertegun
mendengar rencana Arai, dengan bahan itu dimintanya Mak Cik membuat kue dan
kami yang akan menjualnya. Mulai sekarang Mak Cik mempunyai penghasilan! Seru
Arai bersemangat.”(SP, 51)
Kutipan di
atas menggunakan gaya bahasa hiperbola yaitu gaya bahasa yang mengandung suatu
pernyataan berlebihan. Hal itu dapat dilihat pada kalimat “beliau
terkaget-kaget” dan kalimat tersebut mempunyai arti yaitu sangat terkejut.
Arai tidak
tega melihat Mak Cik yang hidup kesusahan. Dia juga menyuruh Arai untuk memecah
celengannya untuk menolong Mak Cik. Cara mereka dengan membelikan bahan-bahan
untuk membuat kue supaya beliau bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Sifat membalas
budi atas kebaikan orang lain pada nilai sosial sangatlah penting. Sifat
tersebut juga bertujuan untuk membangun sikap saling peduli dan saling peka
antar sesama. Sifat tersebut tersirat dalam kutipan di bawah ini.
“Aku ingin membahagiakan Arai.
Aku ingin berbuat sesuatu seperti yang ia lakukan pada Jimbron. Seperti yang
selalu ia lakukan padaku. Aku sering melihat sepatuku yang menganga seperti
buaya berjemur tahu-tahu sudah rekat kembali, Arai diam-diam memakunya. Aku
juga selalu heran melihat kancing bajuku yang lepas tiba-tiba lengkap kembali,
tanpa banyak cincong Arai menjahitnya. Jika terbangun malam-malam, aku sering
mendapatiku telah berselimut, Arai menyelimutiku. Belum terhitung kebaikannya
waktu ia membelaku dalam perkara rambut belah tengah toni Koeswoyo saat aku
masih SD dulu. Bertahun lewat taoi aku tak kan lupa Rai, akan kubalas
kebaikanmu yang tak terucapkan itu, jasamu yang tak kenal pamrih itu,
ketulusanmu yang tak kasatmata itu.”(SP, 186)
Kutipan di
atas menggunakan gaya bahasa perumpamaan yaitu perbandingan dua hal yang pada
hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Hal itu dapat dilihat dari
kalimat “sepatuku yang menganga seperti buaya berjemur” yaitu sepatu
yang lemnya sudah tidak bisa merekat lagi disakan dengan buaya yang berjemur,
yaitu mulutnya terbuka.
Tanggung
jawab terhadap kebahagiaan orang lain juga menjadi jaminan untuk menjalankan
sikap kemanusiaan, supaya kebahagiaan orang lain terasa lengkap dengan sikap
kita terhadapnya.
“Bang Zitun sangat komit pada
penampilan Arai kali ini sebab ia merasa bertanggung jawab pada kegagalan Arai
yang pertama.” (SP, 210)
Kutipan di
atas adalah wujud sikap tanggung jawab Bang Zaitun untuk memksimalkan
penampilan Arai dalam memikat hati Nirmala sang pujaan hatinya, karena penampilan
Arai yang pertama kurang maksimal sehingga untuk memikat hati Nirmala bisa
dikatakan gagal.
4. Nilai Pendidikan Budaya
Nilai
pendidikan budaya adalah tingkat yang palig tinggi dan yang paling abstrak dari
adat istiadat. Hali itu disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan
konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari
warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai., berharga
dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang
member arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakatnya.
Walaupun
nilai-nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam masyarakat,
tetapi sebagai konsep, suatu nilai budaya itu bersifat sangat umum mempunyai
ruang ligkup yang sangat luas, dan biasanya sulit diterangkan secara rasional
dan nyata. Namun, justru karena sifatnya yang umum, luas, dan tidak konkret
itu, maka nilai-nilai budaya dalam suatu kebudayaan berada dalam daerah
emosional dari alam jiwa para individu yang menjadi warga dari kebudayaan
bersangkutan. Kebiasaan dalam daerah tertentu juga memengaruhi tata cara dalam
kehidupan sehari-hari, terlihat seperti kutipan di bawah ini.
“Dan seperti kebanyakan
anak-anak Melayu miskin di kampung kami yang rata-rata beranjak remaja mulai
bekerja mencari uang,…”(SP, 32)
Masyarakat melayu ketika mulai
beranjak dewasa kebanyakan mereka sudah berusaha bekerja mencari uang untuk
membantu keluarganya dalam mencukupi kebutuhan hidup. Maka tidak heran, banyak
remaja yang memilih tidak melanjutkan sekolah, melainkan memilih untuk bekerja.
Kutipan di atas secara jelas mengandung nilai pendidikan budaya melalui
penggunakan gaya bahasa paradoks yaitu gaya bahasa yang bertentangan dalam satu
kalimat. Hal itu dapat dilihat dari kata “anak-anak” dan “remaja” terdapat
pada satu kalimat dengan arti yang berlawanan.
Unsur-unsur
dan nilai kebudayaan juga dapat dilestarikan dengan menggunakan benda atau
barang kebudayaan daerah setempat. Hal tersebut juga diterapkan oleh masyarakat
Melayu, yaitu dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
“Padi dalam peregasan
sebenarnya sudah tak bisa lagi dimakan karena sudah disimpan puluhan tahun.
Saat ini peregasan tak lebih dari surga dunia bagi bermacam-macam kutu dan
keluarga tikus berbulu kelabu yang turun- temurun beranak pinak disitu.” (SP,
36)
Kutipan di
atas terdapat kata “peregasan” yang artinya adalah peti papan besar
tempat menyimpan padi. Sebagian besar orang Melayu di setiap rumahnya pasti
terdapat peregasan yang berfungsi untuk menyimpan beras. Bagi orang Melayu juga
menganggap peregasan adalah sebuah metafora, budaya, dan perlambang yang
mewakili periode gelap selama tiga setengah tahun Jepang menindas mereka.
Ajaibnya sang waktu, masa lalu yang menyakitkan lambat laun bisa menjelma
menjadi nostalgia romantik.
Kutipan di
atas secara jelas mempunyai kandungan nilai pendidikan budaya melalui
penggunakan gaya bahasa hiperbola. Hal itu terlihat pada kalimat “keluarga
tikus berbulu kelabu yang turun-temurun beranak pinak di situ”. Kalimat
tersebut mempunyai arti bahwa hewan tikus yang berkembang biak sangat banyak.
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan
Nilai-nilai
pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi, berdasarkan hasil
analisis terdiri dari empat nilai. Nilai-nilai pendidikan tersebut yaitu: (a)
nilai pendidikan religius merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan
Tuhan pencipta alam dan seisinya, dalam novel Sang Pemimpi. (b) Nilai
pendidikan moral yaitu suatu nilai yang menjadi ukuran patut tidaknya manusia
bergaul dalam kehidupan bermasyarakat, dalam novel Sang Pemimpi. (c)
Nilai pendidikan sosial yaitu suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari
terhadap suatu objek, gagasan, atau orang, dalam novel Sang Pemimpi (d)
Nilai pendidikan budaya tingkat yang palig tinggi dan yang paling abstrak dari
adat istiadat, dalam novel Sang Pemimpi.
B. Implikasi
Penelitian
ini memiliki implikasi terhadap aspek lain yang relevan dan memiliki hubungan
positif. Implikasi tersebut dijelaskan sebagai berikut.
1. Implikasi teoritis
a. Membuka wawasan yang
berkaitan dengan pendalaman materi keterampilan bersastra, khususnya karya
sastra novel.
b. Membuka wawasan akan
beragamnya novel yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran.
c. Membuka peluang
dilakukannya penelitian-penelitian tentang gaya bahasa serta nilai pendidikan.
2. Implikasi paedagogis
Menambah referensi novel yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia pada jenjang SMA kelas XI dengan standar kompetensi kemampuan
memahami berbagai hikayat, novel Indonesia, novel terjemahan. Novel Sang
Pemimpi dapat digunakan sebagai media pembelajaran novel yang isinya tidak
terlalu serius dan mudah dipahami, namun banyak mengandung nilai-nilai
pendidikan.
3. Implikasi praktis
a. Memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan penelitian sastra, sehingga peneliti lain
akan termotivasi untuk melakukan penelitian yang nantinya dapat diaplikasikan
dalam pembelajaran di sekolah.
b. Penelitian ini dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk lebih mencermati media pembelajaran
yang tepat bagi siswa.
C. Saran
Beberapa saran berikut dapat menjadi bahan masukan yang bermanfaat bagi
pihak-pihak terkait antara lain.
1. Saran kepada siswa
Siswa
hendaknya dalam membaca novel memperhatikan nilai-nilai positif antara lain
tentang semangat, tekad, perilaku pantang menyerah untuk selalu memperjuangkan
cita-cita dan jangan mencontoh apabila novel tersebut
mempunyai
nilai yang negatif. Nilai-nilai positif tersebut dapat menjadi dasar bagi siswa
untuk menerapkannya dalam berperilaku di kehidupan di masyarakat.
2. Saran kepada guru bahasa
dan sastra Indonesia
Guru
hendaknya dapat memaksimalkan penggunaan bahan pembelajaran sastra, dalam hal
ini adalah novel. Novel Sang Pemimpi ini di dalamnya memenuhi empat
macam manfaat pembelajaran sastra, yaitu: membantu keterampilan berbahasa,
meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang
pembentukan watak. Lebih lanjut guru dapat memilih novel lain yang sekiranya
terdapat beberapa cakupan yang bisa memberikan manfaat positif bagi siswa,
sehingga siswa tidak hanya memperoleh hiburan saja tetapi juga mendapatkan ilmu
kehidupan.
3. Saran kepada pembaca karya
sastra
Pembaca
karya sastra sebaiknya mengambil nilai-nilai positif dalam karya sastra yang
telah dibacanya dalam kehidupan di masyarakat. Novel Sang Pemimpi adalah
novel yang bagus dan berkualitas, sehingga tidak ada salahnya jika membaca
novel tersebut.
4. Saran kepada peneliti lain
Pada karya
ilmiah ini, peneliti mempunyai kelemahan yaitu dalam penelitian agak sulit
membedakan antara gaya bahasa yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu,
Peneliti lain sebaiknya terus meningkatkan penelitian dalam bidang sastra
khususnya novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata secara lebih mendalam
dengan bentuk analisis yang berbeda karena novel tersebut termasuk novel yang
bagus dan berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin.
2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru
Argesindo.
Arifin, H.
M. 1993. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara.
Badudu. J.
S. 1984. Sari Kasusastraan Indonesia 2. Bandung: Pustaka Prima.
Bertrand,
Russel. 1992. Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat. Jakarta:
Gramedia.
Endaswara,
Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Widyatama.
Hasbullah. 2005. Dasar-dasar
Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hendy, Zaidan. 1993. Kasusastraan
Indonesia Warisan yang Perlu Diwariskan 2.
Bandung:
Angkasa.
Hirata, Andrea. 2006. Sang
Pemimpi. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Koentjaraningrat. 1986. Pengantar
Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Miles, B. Mattew. dan
Huberman, Michael. A. 1992. Analisis data Kualitatif
(Terjemahan
Tjejep Rohendi Rohidi). Jakarta: UI Press.
Moeliono,
Anton. M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: PT Gramedia.
Nurdin, Ade
dkk. 2002. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas 1,2,3 SMU.
Bandung: CV
Pustaka setia.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mad
University Press.
Pradopo,
Rachmad Djoko. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode, Kritik, dan
Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pratikno,
Riyono. 1984. Kreatif Menulis Feature. Bandung: Alumni.
Purwanto,
Ngalim. M. 1986. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja
Karya.
Ratna,
Nyoman Kutha. 2009. Stlistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rosyadi.
1995. Nilai-nilai Budaya dalam Naskah Kaba. Jakarta: CV Dewi Sri.
Sayuti,
Suminto. A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Semi, Atar.
M. 1993. Anatomi sastra. Padang: Angkasa Raya.
Setiadi,
Elly. M. 2006..Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.
Soekanto,
Soerjono. 1983. Pribadi dan Masyarakat (Suatu Tujuan dan Sosilogis).
Bandung: Alumni.
Soelaeman, Munandar. 1987. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung:
PT Eresco.
Sudjiman, Panuti. 1998. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sugono, Dendy. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia II. Jakarta: Pusat
Bahasa.
Suwondo, Tirto. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT
Hanindita Graha
Widya.
Suyitno.
1986. Sastra, Tata Nilai, dan Eksegesis. Yogyakarta: Anindita.
Tilaar, HAR. 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik
Transformatif untuk Indonesia. Jakarta:
Grasindo.
pengertian-nilai. diakses pada tanggal 25
Oktober 2009.
Yunus, Umar. 1989. Stilistik: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat. Yogyakarta:
Unit Penerbitan Sastra Asia Barat
Zhang, Zhiqin.
2010. “The Interpretation of a Novel by Hemingway in Terms of Literary
Stylistics”. The International Journal of Language Society and Culture. Volume
30, Nomor
155. Tahun 2010.
Zulfahnur,
dkk. 1996. Teori Sastra. Jakarta: Depdikbud
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
COVER NOVEL
Lampiran 2
Beberapa Tokoh yang Berperan
dalam Novel Sang Pemimpi
A. Tokoh Utama
1. Ikal adalah anak kampung
yang miskin yang dimiliki negara
2. Arai adalah tokoh sentral
dalam buku ini. Menjadi saudara angkat Ikal ketika kelas 3 SD saat ayahnya
(satu-satunya anggota keluarga yang tersisa) meninggal dunia. Seseorang yang
mampu melihat keindahan di balik sesuatu, sangat optimis dan selalu melihat
suatu peristiwa dari kaca mata yang positif. Arai adalah sosok yang begitu
spontan dan jenaka, seolah tak ada sesuatupun di dunia ini yang akan membuatnya
sedih dan patah semangat.
3. Jimbron, anak yatim piatu
yang diasuh oleh seorang pastur Katolik bernama Geovanny.Laki-laki berwajah
bayi dan bertubuh subur ini sangat polos. Segala hal tentang kuda adalah
obsesinya, dan gagapnya berhubungan dengan sebuah peristiwa tragis yang
memilukan yang dia alami ketika masih SD , dulu ayahnya sekarat di depan matanya
maka ia membawa ayahnya dengan sepeda yang lajunya lama sampai di puskesmas
ayahnya meninggal di depan matanya dan waktu ditanyai orang-orang di sudah
terlanjur gagap karena terlalu banyak menangis sampai tersendat-sendat ia
selalu berfikir jika saja waktu itu dia menaiki kuda pasti ayahnya tertolong.
Jimbron adalah penyeimbang di antara Arai dan Ikal, kepolosan dan ketulusannya
adalah sumber simpati dan kasih sayang dalam diri keduanya untuk menjaga dan
melindunginya.
B. Tokoh Lain
1. Pendeta Geovanny, ia adalah
seorang Katolik yang mengasuh Jimbron selepas kepergian kedua orangtua Jimbron.
Meskipun berbeda agama dengan Jimbron, beliau tidak memaksakan Jimbron untuk
turut menjadi umat Katolik. Bahkan beliau tidak pernah terlambat mengantar
Jimbron pergi ke masjid untuk mengaji. Meski disebut Pendeta, Geovanny yang
berdarah Italia ini adalah seorang Pastor.
2. Pak Mustar M. Djai'din. BA.
adalah salah satu pendiri SMA Bukan Main. Ia adalah wakil kepala sekolah SMA
Bukan Main, seorang yang baik dan cukup sabar namun berubah menjadi tangan besi
ketika anaknya sendiri justru tidak diterima masuk ke SMA tersebut karena
NEMnya kurang 0,25 dari batas minimal.Terkenal dengan aturan-aturannya yang
disiplin dan hukuman yang sangat berat. Namun sebenarnya beliau adalah pribadi
yang sangat baik dan patut dicontoh.
3. Pak Drs. Julian Ichsan
Balia; Kepala Sekolah SMA Negeri Manggar.Laki-laki muda, tampan, lulusan IKIP
Bandung yang masih memegang teguh idealisme.
4. Nurmala; Zakiah Nurmala
binti Berahim Mantarum,gadis pujaan Arai sejak pertama kali Arai melihatnya.
Nurmala adalah gadis yang pandai, selalu menyandang ranking 1. Ia juga
penggemar Ray Charles dengan lagunya I Can't Stop Loving You dan Nat
King Cole dengan lagunya When I Fall in Love.
5. Laksmi; gadis pujaan
Jimbron. Telah kehilangan kedua orangtuanya dan tinggal serta bekerja di sebuah
pabrik cincau. Semenjak kepergian orangtuanya ia tidak pernah lagi tersenyum,
walaupun senyumnya amat manis. Ia baru dapat tersenyum ketika Jimbron datang
mengendarai sebuah kuda.
6. Capo Lam Nyet Pho; Seorang
yang memungkinkan berbagai hal sebagai objek untuk bisnisnya. Bahkan ketika PN
Timah terancam kolaps, ia melakukan ide untuk membuka peternakan kuda meskipun
kuda adalah hewan yang asing bagi komunitas Melayu.
7. Taikong Hamim; Guru mengaji
di masjid di kampung Gantung.Dikenal sebagai sosok nonkonfromis dan sering
memberlakukan hukuman fisik kepada anak-anak yang melakukan kesalahan.
8. Bang Zaitun; Seniman musik
pemimpin sebuah kelompaok Orkes Melayu. Dikenal sebagai orang yang pernah
mempunyai banyak pacar dan hampir memiliki 5 istri. Sebenarnya kunci
keberhasilannya dalam percintaan adalah sebuah gitar. Ia pun mengajarkan hal
tersebut pada Arai yang sedang mabuk cinta dengan Nurmala.
9. A Kiun; Gadis Hokian penjaga
loket bioskop.
10. Nurmi; Berbakat memainkan
biola, mewarisi biola dan bakat dari kakeknya yang ketua kelompok gambus di
Gantung. Nurmi adalah tetangga Arai dan Ikal, seumuran, dan dia adalah gadis
yang sangat mencintai biola.
11. Pak Cik Basman; Seorang
tukang sobek karcis di sebuah bioskop di Belitong.
12. A Siong; Pemilik toko
kelontong tempat Ikal dan Arai berselisih tentang penggunaaan uang tabungan.
13. Deborah Wong; Istri A
Siong dan ibu dari Mei Mei. Perempuan asal Hongkong yang tambun dan berkulit
putih.
14. Mei Mei; Gadis kecil anak
Deborah Wong.
LAMPIRAN 3
SINOPSIS NOVEL SANG PEMIMPI
Novel ini
adalah novel kedua dari tetraloginya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh
Bentang Pustaka pada bulan Juli tahun 2006. Dalam novel ini Andrea menarikan
imajinasi dan melantunkan stambul mimpi anak-anak Melayu kampung . Sang
Pemimpi adalah sebuah kisah kehidupan yang mempesona yang akan membuat
pembacanya percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan
pengorbanan, lebih dari itu, juga percaya kepada Tuhan. Andrea berkelana
menerobos sudut-sudut pemikiran dimana pembaca akan menemukan pandangan yang
berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang
meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru. selayaknya kenakalan
remaja biasa, tapi kemudian tanpa disadari kisah dan karakter-karakter dalam
buku ini lambat laun menguasai, potret-potret kecil yang menawan akan
menghentakkan pembaca pada rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis
yang meresonansi. Arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan
cita-cita yang gagah berani dalam kisah beberapa tokoh utama buku ini,
Tiga orang
pemimpi. Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA bukan main, di sinilah
perjuangan dan mimpi ketiga pemberani ini dimulai. Ikal, salah satu dari
anggota Laskar Pelangi, Arai, saudara sepupu Arai yang sudah yatim piatu sejak
SD dan tinggal di ruamh Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah
danIbu Ikal, dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga
sejak kecil. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan
Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.
Arai dan Ikal begitu pintar
dalam sekolahnya, sedangkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa saja.
Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arai selalu
menjadi lima dan tiga besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arai,
orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua
mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan belajar ke Sarbonne Perancis.
Mereka terpukau dengan cerita Pak Beia, guru seninya, yang selalu
meyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras menjadi kuli ngambat mulai pukul
dua pagi sampai jam tujuh dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan
ketiga pemuda itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Meskipun
kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk sampi ke sana. Tapi jiwa
optimisme Arai tak terbantahkan.
Selesai SMA,
Arai dan Ikal merantau ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jimbron lebih memilih
untuk menjadi pekerja ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua
celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia
yakin kalau Arai dan Ikal sampai di Perancis, maka jiwa Jimbron pun akan selalu
bersama mereka. Berbula-bulan terkatung-katung di Bogor, mencari pekerjaan
untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan
tidak bersahabat ditempuh, Ikal diterima menjadi tukang sortir (tukang Pos),
dan Arai memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Tahun berikutnya, Ikal
memutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI. Dan setelah lulus, ada lowongan untuk
mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan
dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.
Saat
wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujinya begitu terpukau dengan
proposal riset yang diajukan Ikal, meskipun hanya berlatar belakang sarjana
Ekonomi yang masih bekerja sebagai tukang sortir, tulisannya begitu hebat.
Akhirnya setelah wawancara selesai, siapa yang menyangka, kejutan yang luar
biasa. Arai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita,
akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam suatu forum yang begitu indah dan
terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah
direncanaknnya bertahun-thaun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman
dan mengambil jurusan Biologi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal risetnya juga
begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.
Akhirnya
sampai juga mereka pulang kampung ke Belitong. Ketika ada surat datang, mereka
berdebar-debar membuka isinya. Pengumuman penerima Beasiswa ke Eropa. Arai
begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin
membuka kabar tu bersama orang yang sanag dia rindukan. Kegelisahan dimulai.
Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Akhirnya Ikal diteima di Perguruan
tinggi, Sarbone Pernacis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai,
inilah jawaban dari mimpi-mimpi mereka. Kedua sang pemimpi ini diterima di
Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagan
dari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.
LAMPIRAN
4
BIOGRAFI ANDREA HIRATA
Nama Andrea
Hirata Seman Said Harun melejit seiring kesuksesan novel pertamanya, Laskar
Pelangi. Pria yang berulang tahun setiap 24 Oktober ini semakin terkenal
kala novel pertamanya yang jadi best seller diangkat ke layar lebar oleh
duo sineas yaitu Riri Riza dan Mira Lesmana. Selain Laskar Pelangi,
lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia ini juga menulis Laskar Pelangi dan
Edensor, serta Maryamah Karpov. Keempat novel tersebut tergabung
dalam sebuah tetralogi tetralogi. Setelah menyelesaikan studi S1 di UI, pria
yang kini masih bekerja di kantor pusat PT Telkom ini mendapat beasiswa Uni
Eropa untuk studi Master of Science di Université de Paris, Sorbonne, Perancis
dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi
telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia
lulus cumlaude.
Tesis itu telah diadaptasi ke
dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama
yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi
ilmiah. Penulis Indonesia yang berasal dari Pulau Belitong, Provinsi Bangka
Belitung ini masih hidup melajang hingga sekarang. Status lajang yang disandang
oleh Andrea sempat memicu kabar tak sedap. Karena pada bulan November 2008,
muncul pengakuan dari seorang perempuan, Roxana yang mengaku sebagai mantan
istrinya. Akhirnya terungkap bahwa Andrea memang pernah menikah dengan Roxana
pada 5 Juli 1998, namun telah dibatalkan pada tahun 2000. Alasan Andrea
melakukan pembatalan ini karena Roxana menikah saat dirinya masih berstatus
istri orang lain.
Sukses dengan novel tetralogi,
Andrea merambah dunia film. Novelnya yang pertama, telah diangkat ke layar
lebar, dengan judul sama, Laskar Pelangi pada 2008. Dengan menggandeng
Riri Riza sebagai sutradara dan Mira Lesmana pada produser, film ini menjadi
film yang paling fenomenal di 2008. Dan jelang akhir tahun 2009, Andrea bersama
Miles Films dan Mizan Production kembali merilis sekuelnya Sang
Pemimpi.
2. Nilai Pendidikan Moral
Nilai moral
sering disamakan dengan nilai etika, yaitu suatu nilai yang menjadi ukuran
patut tidaknya manusia bergaul dalam kehidupan bermasyarakat. Moral merupakan
tingkah laku atau perbuatan manusia yang dipandang dari nilai individu itu
berada. Sikap disiplin tidak hanya dilakukan dalam hal beribadah saja, tetapi
dalam segala hal, sikap yang penuh dengan kedisiplinan akan menghasilkan
kebaikan. Seperti halnya jika dalam agama, seorang hamba jika menjalankan
shalat tepat waktu akan mendapat pahala lebih banyak, demikian juga jika
disiplin dijalankan pada pekerjaan lainnya dan tanpa memandang siapa yang berperan
dalam melakukan
Perbuatan disiplin tersebut,
Seperti pada kutipan berikut mengandung nilai moral yang sangat penting.
“WC ini sudah hampir setahun
diabaikan karena keran air yang mampet. Tapi manusia-manusia cacing, para
intelektual muda SMA Negeri Bukan Main yang tempurung otaknya telah pindah ke
dengkul, nekat menggunakannya jika panggilan alam itu tak tertahankan. Dengan
hanya berbekal segayung air saat memasuki tempat sakral itu, mereka menghinakan
dirinya sendiri dihadapan agama Allah yang mengajarkan bahwa kebersihan adalah
sebagian dari iman. Dan kamilah yang menaanggung semua kebejatan moral
mereka.”(SP, 130)
Kutipan di
atas sangat tidak pantas dijadikan contoh bagi masyarakat, khususnya para
penerus bangsa (siswa). Jelas WC yang keran airnya mampet, malah masih
digunakan. Apalagi yang menggunakannya adalah para intelek muda yang dasar
pendidikannya ada. Mereka yang menggunakan tidak menghiraukan walaupun agama
sudah mengajarkan kebersihan adalah sebagian dari iman. Mereka yang melakukan
justru malah tidak merasa bersalah, walaupun orang lain yang kena dampak dari
ulah mereka. Pendidikan moral sangat penting untuk mendidik manusia yang belum
benar tapi merasa sudah benar.
Kutipan di
atas mempunyai kandungan nilai pendidikan moral karena secara jelas disampaikan
penulis melalui gaya bahasa sarkasme yaitu gaya bahasa sindiran yang paling
kasar dalam pengungkapannnya. Hal itu dapat dilihat pada kalimat “tempurung
otaknya telah pindah ke dengkul”. Arti dari kalimat tersebut adalah orang
yang berbuaat seenaknya sendiri tanpa peduli aturan dan etika.
Pengembangan
nilai moral sangat penting supaya manusia memahami dan menghayati etika ketika
berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat. Pemahaman dan penghayatan
nilai-nilai etika mampu menempatkan manusia sesuai kapasitasnya, dengan
demikian akan terwujud perasaan saling hormat, saling sayang, dan tercipta
suasana yang harmonis. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut ini:
“ LAIN KALI MENCALONKAN
DIRINYA JADI BUPATI!! PASANG HURUF H BESAR DI DEPAN NAMANYA, MENGAKU DIRINYA
HAJI???!! PADAHAL AKU TAHU KELAKUANNYA!! WAKTU JADI MAHASISWA, WESEL DARI
IBUNYA DIPAKAINYA UNTUK MAIN JUDI BUNTUT!!!”(SP, 168)
“ITULAH KALAU KAU MAU TAHU
TABIAT PEMIMPIN ZAMAN SEKARANG, BOI!! BARU MENCALONKAN DIRI SUDAH JADI PENIPU,
BAGAIMANA KALAU BAJINGAN SEPERTI ITU JADI KETUA!!??”(SP, 168)
Kutipan di
atas terlihat jelas mengandung nilai pendidikan moral melalui penggunakan gaya
bahasa antifrasis yaitu gaya bahasa sindiran yang mempergunakan kata-kata yang
bermakna kebalikannya dan bernada ironis. Hal itu dapat dilihat dari kalimat “bagaimana
kalau bajingan itu jadi ketua!!??”. Kalimat tersebut mempunyai arti
menyindir seseorang yang mempunyai kelakuan tidak baik seandainya menyalonkan
menjadi ketua, maka tidak bisa dibayangkan anak buahnya akan seperti apa.
Kedua
kutipan di atas mengandung makna tersirat nilai moral, karena tercantum jelas
bahwa bupati yaitu pemimpin sekarang kelakuannya sudah tidak jujur dan
menghalalkan segala cara hanya demi merebut kursi kepemimpinannya. Hal tersebut
perlu diubah, supaya moral manusia yang lain tidak ikut tercemar. Adapun nilai
yang dimaksud dalam konteks tersebut menyangkut baik dan buruk yang diterima
umum mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban. Moral juga dapat dikatakan
sebagai ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu rangkaian cerita karena
karya sastra itu menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan
yang berlaku.
3. Nilai Pendidikan Sosial
Nilai sosial
merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup
sosial. Suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek,
gagasan, atau orang juga termasuk di dalamnya. Karya sastra berkaitan erat
dengan nilai sosial, karena karya sastra dapat pula bersumber dari
kenyataan-kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Nilai sosial mencakup
kebutuhan hidup bersama, seperti kasih sayang, kepercayaan, pengakuan, dan
penghargaan. Nilai sosial yang dimaksud adalah kepedulian terhadap lingkungan
sekitar. Kepedulian tersebut dapat berupa perhatian maupun berupa kritik.
Kritik tersebut dilatar belakangi oleh dorongan untuk memprotes ketidakadilan
yang dilihat, didengar maupun yang dialaminya, seperti yang terdapat dalam
kutipan berikut.
“Aku ingin menyelamatkan
Jimbron walaupun benci setengah mati pada Arai. Aku dan Arai menopang Jimbron
dan beruntung kami berada dalam labirin gang yang membingungkan.”(SP, 15)
Kutipan di
atas dapat di jelaskan bahwa walaupun Ikal sangat benci kepada Arai tapi jiwa
penolongnya kepada Jimbron masih tetap ada dalam dirinya, karena dia merasa
walau bagaimanapun mereka adalah bersaudara. Kutipan di atas secara jelas
megandung nilai pendidikan sosial melalui penggunakan gaya bahasa hiperbola
yaitu gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, misalnya
membesar-besarkan suatu hal dari yang sesungguhnya. Hal itu dapat dilihat dari
ungkapan “benci setengah mati” yang mempunyai arti sangat membenci.
Nilai sosial
berkenaan dengan kemanusiaan dan mengembangkan kehidupan bersama, seperti kasih
sayang, penghargaan, kerja sama, perlindungan, dan sifat-sifat yang ditujukan
untuk kepentingan kemanusiaan lainnya yang merupakan kebiasaan yang diwariskan
secara turun temurun. Seperti yang tercermin pada kutipan di bawah ini.
“Aku membantu membawa
buku-bukunya dan kami meninggalkan gubuk berdinding lelak beratap daun itu dengan
membiarka pintu dan jendela-jendelanya terbuka karena dipastikan tak kan ada
siapa-siapa untuk mengambil apapun.”(SP, 25)
Beberapa
hari setelah ayahnya meninggal Ikal dan ayahnya menjemput Arai untuk di bawa ke
rumahnya. Arai dan Ikal sebenarnya adalah masih saudara. Pada waktu menjemput
Arai, Ikal membantu Arai untuk membawakan buku-bukunya yang masih perlu di
bawa.
Kutipan di
atas dapat didlihat secara jelas mengandung nilai pendidikan sosial melalui
penggunakan gaya bahasa alegori yaitu gaya bahasa yang bertautan satu dengan
yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Hal tersebut dapat dilihat dari
kata “membawa”, “meninggalkan”, dan “membiarkan. Kata itu mempunyai
pertautan dalam satu kutipan.
Nilai sosial
juga berupa hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup
sosial. Nilai dalam karya sastra, nilai sosial dapat dilihat dari cerminan
kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan sehingga diharapkan mampu
memberikan peningkatan kepekaan rasa kemanusiaan. Cerminan tersebut dapat
dilihat dari kutipan di bawah ini.
“Aku tersenyum tapi tangisku
tak reda karena seperti mekanika gerak balik helikopter purba ini, Arai telah
memutar balikkan logikasentimental ini. Ia justru berusaha menghiburku pada
saat aku seharusnya menghiburnya. Dadaku sesak.”(SP, 28)
Kutipan di
atas menggunakan gaya bahasa paradoks yaitu gaya bahasa yang bertentangan dalam
satu kalimat. Sepintas lalu hal tersebut tidak masuk akal. Hal itu dapat
dilihat dari kalimat “aku tersenyum tapi tangisku tak reda”. Kalimat
tersebut mempunyai arti Ikal masih bisa tersenyum ketika dia menangis.
Tokoh Ikal
yang seharusnya menghibur Arai ketika ia mendapat musibah ternyata malah
berputar terbalik. Justru Arai yang berusaha menghibur Ikal supaya dia
tersenyum, itulah sosok Arai yang tidak mudah ditebak. Sikap Arai yang peduli
terhadap orang lain juga dapat dilihat dari kutipan di bawah ini.
“Arai menyerahkan
karung-karung kami pada Mak Cik. Beliau terkaget-kaget. Lalu aku tertegun
mendengar rencana Arai, dengan bahan itu dimintanya Mak Cik membuat kue dan
kami yang akan menjualnya. Mulai sekarang Mak Cik mempunyai penghasilan! Seru
Arai bersemangat.”(SP, 51)
Kutipan di
atas menggunakan gaya bahasa hiperbola yaitu gaya bahasa yang mengandung suatu
pernyataan berlebihan. Hal itu dapat dilihat pada kalimat “beliau
terkaget-kaget” dan kalimat tersebut mempunyai arti yaitu sangat terkejut.
Arai tidak
tega melihat Mak Cik yang hidup kesusahan. Dia juga menyuruh Arai untuk memecah
celengannya untuk menolong Mak Cik. Cara mereka dengan membelikan bahan-bahan
untuk membuat kue supaya beliau bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Sifat
membalas budi atas kebaikan orang lain pada nilai sosial sangatlah penting.
Sifat tersebut juga bertujuan untuk membangun sikap saling peduli dan saling
peka antar sesama. Sifat tersebut tersirat dalam kutipan di bawah ini.
“Aku ingin membahagiakan Arai.
Aku ingin berbuat sesuatu seperti yang ia lakukan pada Jimbron. Seperti yang
selalu ia lakukan padaku. Aku sering melihat sepatuku yang menganga seperti
buaya berjemur tahu-tahu sudah rekat kembali, Arai diam-diam memakunya. Aku
juga selalu heran melihat kancing bajuku yang lepas tiba-tiba lengkap kembali,
tanpa banyak cincong Arai menjahitnya. Jika terbangun malam-malam, aku sering
mendapatiku telah berselimut, Arai menyelimutiku. Belum terhitung kebaikannya
waktu ia membelaku dalam perkara rambut belah tengah toni Koeswoyo saat aku
masih SD dulu. Bertahun lewat taoi aku tak kan lupa Rai, akan kubalas
kebaikanmu yang tak terucapkan itu, jasamu yang tak kenal pamrih itu,
ketulusanmu yang tak kasatmata itu.”(SP, 186)
Kutipan di
atas menggunakan gaya bahasa perumpamaan yaitu perbandingan dua hal yang pada
hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Hal itu dapat dilihat dari
kalimat “sepatuku yang menganga seperti buaya berjemur” yaitu sepatu
yang lemnya sudah tidak bisa merekat lagi disakan dengan buaya yang berjemur,
yaitu mulutnya terbuka.
Tanggung
jawab terhadap kebahagiaan orang lain juga menjadi jaminan untuk menjalankan
sikap kemanusiaan, supaya kebahagiaan orang lain terasa lengkap dengan sikap
kita terhadapnya.
“Bang Zitun sangat komit pada
penampilan Arai kali ini sebab ia merasa bertanggung jawab pada kegagalan Arai
yang pertama.” (SP, 210)
Kutipan di
atas adalah wujud sikap tanggung jawab Bang Zaitun untuk memksimalkan
penampilan Arai dalam memikat hati Nirmala sang pujaan hatinya, karena
penampilan Arai yang pertama kurang maksimal sehingga untuk memikat hati
Nirmala bisa dikatakan gagal.
4. Nilai Pendidikan Budaya
Nilai
pendidikan budaya adalah tingkat yang palig tinggi dan yang paling abstrak dari
adat istiadat. Hali itu disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan
konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari
warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai., berharga
dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang
member arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakatnya.
Walaupun
nilai-nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam masyarakat,
tetapi sebagai konsep, suatu nilai budaya itu bersifat sangat umum mempunyai
ruang ligkup yang sangat luas, dan biasanya sulit diterangkan secara rasional
dan nyata. Namun, justru karena sifatnya yang umum, luas, dan tidak konkret
itu, maka nilai-nilai budaya dalam suatu kebudayaan berada dalam daerah
emosional dari alam jiwa para individu yang menjadi warga dari kebudayaan
bersangkutan. Kebiasaan dalam daerah tertentu juga memengaruhi tata cara dalam
kehidupan sehari-hari, terlihat seperti kutipan di bawah ini.
“Dan seperti kebanyakan
anak-anak Melayu miskin di kampung kami yang rata-rata beranjak remaja mulai
bekerja mencari uang,…”(SP, 32)
Masyarakat melayu ketika mulai
beranjak dewasa kebanyakan mereka sudah berusaha bekerja mencari uang untuk
membantu keluarganya dalam mencukupi kebutuhan hidup. Maka tidak heran, banyak
remaja yang memilih tidak melanjutkan sekolah, melainkan memilih untuk bekerja.
Kutipan di atas secara jelas mengandung nilai pendidikan budaya melalui
penggunakan gaya bahasa paradoks yaitu gaya bahasa yang bertentangan dalam satu
kalimat. Hal itu dapat dilihat dari kata “anak-anak” dan “remaja” terdapat
pada satu kalimat dengan arti yang berlawanan.
Unsur-unsur
dan nilai kebudayaan juga dapat dilestarikan dengan menggunakan benda atau
barang kebudayaan daerah setempat. Hal tersebut juga diterapkan oleh masyarakat
Melayu, yaitu dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
“Padi dalam peregasan
sebenarnya sudah tak bisa lagi dimakan karena sudah disimpan puluhan tahun.
Saat ini peregasan tak lebih dari surga dunia bagi bermacam-macam kutu dan
keluarga tikus berbulu kelabu yang turun- temurun beranak pinak disitu.” (SP,
36)
Kutipan di
atas terdapat kata “peregasan” yang artinya adalah peti papan besar
tempat menyimpan padi. Sebagian besar orang Melayu di setiap rumahnya pasti
terdapat peregasan yang berfungsi untuk menyimpan beras. Bagi orang Melayu juga
menganggap peregasan adalah sebuah metafora, budaya, dan perlambang yang
mewakili periode gelap selama tiga setengah tahun Jepang menindas mereka.
Ajaibnya sang waktu, masa lalu yang menyakitkan lambat laun bisa menjelma
menjadi nostalgia romantik.
Kutipan di
atas secara jelas mempunyai kandungan nilai pendidikan budaya melalui
penggunakan gaya bahasa hiperbola. Hal itu terlihat pada kalimat “keluarga
tikus berbulu kelabu yang turun-temurun beranak pinak di situ”. Kalimat
tersebut mempunyai arti bahwa hewan tikus yang berkembang biak sangat banyak.
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan
Nilai-nilai
pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi, berdasarkan hasil
analisis terdiri dari empat nilai. Nilai-nilai pendidikan tersebut yaitu: (a)
nilai pendidikan religius merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan
Tuhan pencipta alam dan seisinya, dalam novel Sang Pemimpi. (b) Nilai
pendidikan moral yaitu suatu nilai yang menjadi ukuran patut tidaknya manusia
bergaul dalam kehidupan bermasyarakat, dalam novel Sang Pemimpi. (c)
Nilai pendidikan sosial yaitu suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari
terhadap suatu objek, gagasan, atau orang, dalam novel Sang Pemimpi (d)
Nilai pendidikan budaya tingkat yang palig tinggi dan yang paling abstrak dari
adat istiadat, dalam novel Sang Pemimpi.
B. Implikasi
Penelitian
ini memiliki implikasi terhadap aspek lain yang relevan dan memiliki hubungan
positif. Implikasi tersebut dijelaskan sebagai berikut.
1. Implikasi teoritis
a. Membuka wawasan yang
berkaitan dengan pendalaman materi keterampilan bersastra, khususnya karya
sastra novel.
b. Membuka wawasan akan
beragamnya novel yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran.
c. Membuka peluang
dilakukannya penelitian-penelitian tentang gaya bahasa serta nilai pendidikan.
2. Implikasi paedagogis
Menambah referensi novel yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia pada jenjang SMA kelas XI dengan standar kompetensi kemampuan
memahami berbagai hikayat, novel Indonesia, novel terjemahan. Novel Sang
Pemimpi dapat digunakan sebagai media pembelajaran novel yang isinya tidak
terlalu serius dan mudah dipahami, namun banyak mengandung nilai-nilai
pendidikan.
3. Implikasi praktis
a. Memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan penelitian sastra, sehingga peneliti lain
akan termotivasi untuk melakukan penelitian yang nantinya dapat diaplikasikan
dalam pembelajaran di sekolah.
b. Penelitian ini dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk lebih mencermati media pembelajaran
yang tepat bagi siswa.
C. Saran
Beberapa saran berikut dapat menjadi bahan masukan yang bermanfaat bagi
pihak-pihak terkait antara lain.
1. Saran kepada siswa
Siswa
hendaknya dalam membaca novel memperhatikan nilai-nilai positif antara lain
tentang semangat, tekad, perilaku pantang menyerah untuk selalu memperjuangkan
cita-cita dan jangan mencontoh apabila novel tersebut
mempunyai
nilai yang negatif. Nilai-nilai positif tersebut dapat menjadi dasar bagi siswa
untuk menerapkannya dalam berperilaku di kehidupan di masyarakat.
2. Saran kepada guru bahasa
dan sastra Indonesia
Guru
hendaknya dapat memaksimalkan penggunaan bahan pembelajaran sastra, dalam hal
ini adalah novel. Novel Sang Pemimpi ini di dalamnya memenuhi empat
macam manfaat pembelajaran sastra, yaitu: membantu keterampilan berbahasa,
meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang
pembentukan watak. Lebih lanjut guru dapat memilih novel lain yang sekiranya
terdapat beberapa cakupan yang bisa memberikan manfaat positif bagi siswa,
sehingga siswa tidak hanya memperoleh hiburan saja tetapi juga mendapatkan ilmu
kehidupan.
3. Saran kepada pembaca karya
sastra
Pembaca
karya sastra sebaiknya mengambil nilai-nilai positif dalam karya sastra yang
telah dibacanya dalam kehidupan di masyarakat. Novel Sang Pemimpi adalah
novel yang bagus dan berkualitas, sehingga tidak ada salahnya jika membaca
novel tersebut.
4. Saran kepada peneliti lain
Pada karya
ilmiah ini, peneliti mempunyai kelemahan yaitu dalam penelitian agak sulit
membedakan antara gaya bahasa yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu,
Peneliti lain sebaiknya terus meningkatkan penelitian dalam bidang sastra
khususnya novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata secara lebih mendalam
dengan bentuk analisis yang berbeda karena novel tersebut termasuk novel yang
bagus dan berkualitas.
Beberapa Tokoh yang Berperan
dalam Novel Sang Pemimpi
A. Tokoh Utama
1. Ikal adalah anak kampung
yang miskin yang dimiliki negara
2. Arai adalah tokoh sentral
dalam buku ini. Menjadi saudara angkat Ikal ketika kelas 3 SD saat ayahnya
(satu-satunya anggota keluarga yang tersisa) meninggal dunia. Seseorang yang
mampu melihat keindahan di balik sesuatu, sangat optimis dan selalu melihat
suatu peristiwa dari kaca mata yang positif. Arai adalah sosok yang begitu
spontan dan jenaka, seolah tak ada sesuatupun di dunia ini yang akan membuatnya
sedih dan patah semangat.
3. Jimbron, anak yatim piatu
yang diasuh oleh seorang pastur Katolik bernama Geovanny.Laki-laki berwajah
bayi dan bertubuh subur ini sangat polos. Segala hal tentang kuda adalah
obsesinya, dan gagapnya berhubungan dengan sebuah peristiwa tragis yang
memilukan yang dia alami ketika masih SD , dulu ayahnya sekarat di depan matanya
maka ia membawa ayahnya dengan sepeda yang lajunya lama sampai di puskesmas
ayahnya meninggal di depan matanya dan waktu ditanyai orang-orang di sudah
terlanjur gagap karena terlalu banyak menangis sampai tersendat-sendat ia
selalu berfikir jika saja waktu itu dia menaiki kuda pasti ayahnya tertolong.
Jimbron adalah penyeimbang di antara Arai dan Ikal, kepolosan dan ketulusannya
adalah sumber simpati dan kasih sayang dalam diri keduanya untuk menjaga dan
melindunginya.
B. Tokoh Lain
1. Pendeta Geovanny, ia adalah
seorang Katolik yang mengasuh Jimbron selepas kepergian kedua orangtua Jimbron.
Meskipun berbeda agama dengan Jimbron, beliau tidak memaksakan Jimbron untuk
turut menjadi umat Katolik. Bahkan beliau tidak pernah terlambat mengantar
Jimbron pergi ke masjid untuk mengaji. Meski disebut Pendeta, Geovanny yang
berdarah Italia ini adalah seorang Pastor.
2. Pak Mustar M. Djai'din. BA.
adalah salah satu pendiri SMA Bukan Main. Ia adalah wakil kepala sekolah SMA
Bukan Main, seorang yang baik dan cukup sabar namun berubah menjadi tangan besi
ketika anaknya sendiri justru tidak diterima masuk ke SMA tersebut karena
NEMnya kurang 0,25 dari batas minimal.Terkenal dengan aturan-aturannya yang
disiplin dan hukuman yang sangat berat. Namun sebenarnya beliau adalah pribadi
yang sangat baik dan patut dicontoh.
3. Pak Drs. Julian Ichsan
Balia; Kepala Sekolah SMA Negeri Manggar.Laki-laki muda, tampan, lulusan IKIP
Bandung yang masih memegang teguh idealisme.
4. Nurmala; Zakiah Nurmala
binti Berahim Mantarum,gadis pujaan Arai sejak pertama kali Arai melihatnya.
Nurmala adalah gadis yang pandai, selalu menyandang ranking 1. Ia juga
penggemar Ray Charles dengan lagunya I Can't Stop Loving You dan Nat
King Cole dengan lagunya When I Fall in Love.
5. Laksmi; gadis pujaan
Jimbron. Telah kehilangan kedua orangtuanya dan tinggal serta bekerja di sebuah
pabrik cincau. Semenjak kepergian orangtuanya ia tidak pernah lagi tersenyum,
walaupun senyumnya amat manis. Ia baru dapat tersenyum ketika Jimbron datang
mengendarai sebuah kuda.
6. Capo Lam Nyet Pho; Seorang
yang memungkinkan berbagai hal sebagai objek untuk bisnisnya. Bahkan ketika PN
Timah terancam kolaps, ia melakukan ide untuk membuka peternakan kuda meskipun
kuda adalah hewan yang asing bagi komunitas Melayu.
7. Taikong Hamim; Guru mengaji
di masjid di kampung Gantung.Dikenal sebagai sosok nonkonfromis dan sering
memberlakukan hukuman fisik kepada anak-anak yang melakukan kesalahan.
8. Bang Zaitun; Seniman musik
pemimpin sebuah kelompaok Orkes Melayu. Dikenal sebagai orang yang pernah
mempunyai banyak pacar dan hampir memiliki 5 istri. Sebenarnya kunci
keberhasilannya dalam percintaan adalah sebuah gitar. Ia pun mengajarkan hal
tersebut pada Arai yang sedang mabuk cinta dengan Nurmala.
9. A Kiun; Gadis Hokian
penjaga loket bioskop.
10. Nurmi; Berbakat memainkan
biola, mewarisi biola dan bakat dari kakeknya yang ketua kelompok gambus di
Gantung. Nurmi adalah tetangga Arai dan Ikal, seumuran, dan dia adalah gadis
yang sangat mencintai biola.
11. Pak Cik Basman; Seorang
tukang sobek karcis di sebuah bioskop di Belitong.
12. A Siong; Pemilik toko
kelontong tempat Ikal dan Arai berselisih tentang penggunaaan uang tabungan.
13. Deborah Wong; Istri A
Siong dan ibu dari Mei Mei. Perempuan asal Hongkong yang tambun dan berkulit
putih.
14. Mei Mei; Gadis kecil anak
Deborah Wong.
LAMPIRAN 3
SINOPSIS NOVEL SANG PEMIMPI
Novel ini
adalah novel kedua dari tetraloginya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh
Bentang Pustaka pada bulan Juli tahun 2006. Dalam novel ini Andrea menarikan
imajinasi dan melantunkan stambul mimpi anak-anak Melayu kampung . Sang
Pemimpi adalah sebuah kisah kehidupan yang mempesona yang akan membuat
pembacanya percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan,
lebih dari itu, juga percaya kepada Tuhan. Andrea berkelana menerobos
sudut-sudut pemikiran dimana pembaca akan menemukan pandangan yang berbeda
tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap,
sekaligus kesedihan yang mengharu biru. selayaknya kenakalan remaja biasa, tapi
kemudian tanpa disadari kisah dan karakter-karakter dalam buku ini lambat laun
menguasai, potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkan pembaca pada
rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi. Arti
perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani
dalam kisah beberapa tokoh utama buku ini,
Tiga orang
pemimpi. Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA bukan main, di sinilah
perjuangan dan mimpi ketiga pemberani ini dimulai. Ikal, salah satu dari
anggota Laskar Pelangi, Arai, saudara sepupu Arai yang sudah yatim piatu sejak
SD dan tinggal di ruamh Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah
danIbu Ikal, dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga
sejak kecil. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan
Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.
Arai dan Ikal begitu pintar
dalam sekolahnya, sedangkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa saja.
Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arai selalu
menjadi lima dan tiga besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arai,
orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua
mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan belajar ke Sarbonne Perancis.
Mereka terpukau dengan cerita Pak Beia, guru seninya, yang selalu
meyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras menjadi kuli ngambat mulai pukul
dua pagi sampai jam tujuh dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan
ketiga pemuda itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Meskipun
kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk sampi ke sana. Tapi jiwa
optimisme Arai tak terbantahkan.
Selesai SMA,
Arai dan Ikal merantau ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jimbron lebih memilih
untuk menjadi pekerja ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua
celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia
yakin kalau Arai dan Ikal sampai di Perancis, maka jiwa Jimbron pun akan selalu
bersama mereka. Berbula-bulan terkatung-katung di Bogor, mencari pekerjaan
untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan
tidak bersahabat ditempuh, Ikal diterima menjadi tukang sortir (tukang Pos),
dan Arai memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Tahun berikutnya, Ikal
memutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI. Dan setelah lulus, ada lowongan untuk
mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan
dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.
Saat
wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujinya begitu terpukau dengan
proposal riset yang diajukan Ikal, meskipun hanya berlatar belakang sarjana
Ekonomi yang masih bekerja sebagai tukang sortir, tulisannya begitu hebat.
Akhirnya setelah wawancara selesai, siapa yang menyangka, kejutan yang luar
biasa. Arai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita,
akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam suatu forum yang begitu indah dan terhormat.
Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah direncanaknnya
bertahun-thaun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil
jurusan Biologi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal risetnya juga begitu luar
biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.
Akhirnya
sampai juga mereka pulang kampung ke Belitong. Ketika ada surat datang, mereka
berdebar-debar membuka isinya. Pengumuman penerima Beasiswa ke Eropa. Arai
begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin
membuka kabar tu bersama orang yang sanag dia rindukan. Kegelisahan dimulai.
Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Akhirnya Ikal diteima di Perguruan
tinggi, Sarbone Pernacis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, inilah
jawaban dari mimpi-mimpi mereka. Kedua sang pemimpi ini diterima di Universitas
yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagan dari
mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.
LAMPIRAN
4
BIOGRAFI ANDREA HIRATA
Nama Andrea
Hirata Seman Said Harun melejit seiring kesuksesan novel pertamanya, Laskar
Pelangi. Pria yang berulang tahun setiap 24 Oktober ini semakin terkenal kala
novel pertamanya yang jadi best seller diangkat ke layar lebar oleh duo
sineas yaitu Riri Riza dan Mira Lesmana. Selain Laskar Pelangi, lulusan
S1 Ekonomi Universitas Indonesia ini juga menulis Laskar Pelangi dan Edensor,
serta Maryamah Karpov. Keempat novel tersebut tergabung dalam sebuah
tetralogi tetralogi. Setelah menyelesaikan studi S1 di UI, pria yang kini masih
bekerja di kantor pusat PT Telkom ini mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi
Master of Science di Université de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield
Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi
telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia
lulus cumlaude.
Tesis itu telah diadaptasi ke
dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama
yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi
ilmiah. Penulis Indonesia yang berasal dari Pulau Belitong, Provinsi Bangka
Belitung ini masih hidup melajang hingga sekarang. Status lajang yang disandang
oleh Andrea sempat memicu kabar tak sedap. Karena pada bulan November 2008,
muncul pengakuan dari seorang perempuan, Roxana yang mengaku sebagai mantan
istrinya. Akhirnya terungkap bahwa Andrea memang pernah menikah dengan Roxana
pada 5 Juli 1998, namun telah dibatalkan pada tahun 2000. Alasan Andrea
melakukan pembatalan ini karena Roxana menikah saat dirinya masih berstatus
istri orang lain.
Sukses dengan novel tetralogi,
Andrea merambah dunia film. Novelnya yang pertama, telah diangkat ke layar
lebar, dengan judul sama, Laskar Pelangi pada 2008. Dengan menggandeng
Riri Riza sebagai sutradara dan Mira Lesmana pada produser, film ini menjadi
film yang paling fenomenal di 2008. Dan jelang akhir tahun 2009, Andrea bersama
Miles Films dan Mizan Production kembali merilis sekuelnya Sang
Pemimpi.
DOWLOAD FILENYA DI SINI : DOWNLOAD
Komentar